Arya merasa jantungnya berdegup lebih kencang saat Tiara keluar dari ruang ganti, dengan pakaian yang agak sesak di tubuhnya. Ia memandang sejenak, mencoba menahan gelora yang tiba-tiba muncul.
Menyadari pandangannya yang tak bisa mengalihkan diri dari tubuh Tiara, Arya segera mengalihkan mata.
“Kamu itu bisa pakai baju yang bener gak, sih?” ocehnya malah memarahi Tiara. Sengaja Arya melakukan hal ini untuk menghindari rasa canggung.
“Kan… saya udah bilang, Pak… Kalo-” Belum juga Tiara menyelesaikan kalimatnya, Arya sudah menyambar.
“Udah, udah! Ganti pake bajumu tadi! Terus cari sendiri pakaian yang bener. Pokoknya kamu harus pake kemeja putih, bawahan hitam. Baju harus rapi, gak kedodoran gak kesempitan. Titik. Gak pake koma,” ujar pria ini panjang lebar, kemudian pergi begitu saja meninggalkan Tiara di ruang ganti.
Tiara merasa bingung. Dia tidak tahu harus menggunakan pakaian yang bagaimana, karena tubuhnya memanglah tidak umum.
Badannya memang kecil, tapi bagian d**a dan pantatnya berisi. Jadi jika Tiara mengenakan pakaian yang pas dengan lengan atau perutnya, pasti bagian dadanya akan nampak jelas menonjol karena kesempitan. Namun jika dia memakai pakaian yang menutupi dadanya, pastinya akan terlihat kebesaran untuk tubuhnya yang mungil, membuatnya tampak tidak rapi.
“Buruan! Gak pake lama!” Arya bisa-bisanya teriak dikala Tiara sedang menimang-nimang kembali keputusannya.
Akhirnya Tiara memilih untuk tetap mengambil baju yang sudah dipilih Arya barusan. “Udahlah, nanti di tutupi blazer aja,” gumamnya meyakinkan diri atas pilihannya. Lalu tak lupa untuk mengambil blazer yang dimaksud, dan kembali ke ruang ganti.
Tak lama, Arya kembali menghampiri. Dia mengerutkan keningnya ketika melihat Tiara keluar dari kamar ganti, dan sudah berganti dengan baju kurung kedodorannya lagi. Hal ini jelas membuatnya naik pitam.
“Kenapa pake baju nyolok mata itu lagi, sih? Lepasin!” gerutu Arya kesal.
Tiara kembali bingung. “Kan, tadi Bapak sendiri yang bilang kalau saya pakai baju sebelumnya aja,” jelasnya perlahan, penuh kehati-hatian.
Tak ingin disalahkan, Arya kembali mengamuk. “Siapa yang bilang kayak gitu? Mana buktinya? Kamu sekarang berani fitnah saya? Merasa paling benar?” Entah setan mana yang merasuki pria ini sampai-sampai tantrumnya terus saja berkelanjutan.
Tiara menggelengkan kepala. Dia kembali terdiam dan menunduk, takut jika membuat Arya ngamuk lagi.
“Udah, cepeeetaaan!” titah Arya dengan wajah mendongak, mata melotot, dan tubuh gemetar, persis seperti orang kesurupan.
Tiara mengangkat wajahnya. Kaget. benar-benar dibuat terkejut dengan sikap Arya yang seperti ini.
Namun, merasa perlu memastikan kembali perintah sebelumnya, Tiara malah menyebarkan pandangan, celingukan lalu mendekatkan diri ke Arya.
“Lepasin sekarang, Pak? Di sini gantinya?” bisiknya pelan-pelan.
Arya memejamkan mata sejenak, menghirup nafas dalam-dalam. Dia berusaha untuk mencegah emosinya supaya tidak memuncak.
“Ya, gak, dong, Tiara. Tadi kan kamu di kamar ganti. Harusnya kalau kamu udah nemu baju yang pas, ya sekalian ganti pakai pakaian yang kamu pilih itu. Biar gak bolak balik kayak gini,” ucapnya berusaha selembut mungkin.
“Tapi ini belum dibayar, Pak. Masa udah saya pake duluan?” Dengan polosnya Tiara kembali mempertanyakan.
Sungguh Arya jadi semakin geregetan dengan asisten barunya ini. Bukannya mempermudah hidupnya, nyatanya punya sekretaris macam Tiara semakin membuat darah tingginya naik.
“Udah, pake dulu napa, sih! Urusan bayar membayar, itu urusan saya! Kamu tinggal pake tinggal pilih! Digampangin hidupnya malah nyusahin hidup orang!” sentak Arya yang sudah tak bisa lagi menahan nahan emosi.
Dengan sigap Tiara langsung melaksanakan perintah bosnya. Dia benar-benar jadi merasa serba salah, tak enak pada Arya atas sikap polosnya yang merepotkan.
***
Selesai membeli baju, mereka berdua meninggalkan mall. Di sepanjang perjalanan, Tiara duduk diam, hanya sesekali melihat keluar jendela. Terlihat hujan deras mengguyur kota ini.
Sesungguhnya, perasaan Tiara masih dipenuhi kebingungan antara rasa terharu, malu, tak enak hati, dan juga kesal dengan sikap bosnya. Tapi bagaimanapun juga, Tiara merasa bersyukur karena Arya sudah banyak menolong hidupnya.
Namun, mengingat hari sudah malam dan mereka akan tinggal bersama, tiba-tiba saja Tiara jadi panik sendiri.
Duh! Gimana kalau Pak Arya ngapa-ngapain aku? batin Tiara ketar ketir.
Meski ingat kata-kata Arya bahwa pria itu tidak bernafsu dengannya, tapi tetap saja, rasanya tak nyaman membayangkan mereka berdua tinggal bersama. Tiara tidak memikirkan hal ini sebelumnya. Dia benar-benar merasa cemas sendiri.
Apa aku … hubungi Kak Melani aja ya? Dia belum tidur jam segini kan?
Tiara memandangi jam yang melingkar di tangannya, terlihat sudah pukul sembilan malam. Dia menimbang-nimbang kembali keputusan yang hendak diambil. Rasanya, tak ingin merepotkan Melani. Apalagi, Tiara sebenarnya merasa tak begitu dekat dengannya.
Tapi Tiara merasa jika kondisinya saat ini sangatlah butuh bantuan Melani. Dengan penuh pertimbangan Tiara akhirnya memutuskan untuk menghubungi kakak sepupunya itu. Segera ia mengambil ponsel di dalam tasnya. Namun ketika dia menekan-nekan layar ponselnya, ternyata ponselnya mati.
“Duh! Kok mati, sih?!” teriak wanita ini.
Arya jelas kaget setengah mati mendengar teriakan Tiara barusan. Dia hampir saja membanting setir saking kagetnya. Bagaimana tidak? Keadaan sedang hening tanpa ada suara, tiba-tiba Tiara berteriak panik seperti ini. Ia pun langsung menoleh, menatap wanita di sampingnya dengan kening mengkerut.
“Apanya, sih, yang mati?” tanyanya memastikan keadaan.
“Pak Arya! Punya colokan? Pinjem boleh? Ini harus colok! Sekarang!” Bukannya menjawab pertanyaan Arya, Tiara malah terlihat makin panik.
Arya yang tak paham maksud wanita ini, malah jadi mendelik. “A-apanya yang mau dicolok? Kok, kamu tiba-tiba minta colokan? Ya aku punya sih…” Junior Arya refleks bergerak-gerak dari balik dalam celana dalamnya, seolah merasa terpanggil karena kalimat barusan.
“Ini lho, Pak! Apa namanya! Duh, lupa! Colokan hape! Hape saya mati, mau hubungi Kak Melani,” ucap Tiara yang masih saja grusak grusuk sendiri.
“Oooohhh … colokan hape? Kirain colokan saya.” Arya tersadar ucapannya barusan mampu membuat juniornya kembali meronta. Ia pun berusaha untuk membuang pikiran kotornya, dengan menghembuskan nafas perlahan, dan mencoba menenangkan diri.
“Lah? Iya, Pak! Colokan punya Bapak! Pinjem dulu boleh? Soalnya saya lupa bawa. Hape saya mati, Pak. Di mobil ini bisa ngisi batre kan, Pak?” tanya Tiara yang jadi celingukan mencari lubang USB, namun ia tak paham dengan model mobil canggih ini.
Melihat sisi lain Tiara yang beda dari sebelumnya jelas membuat Arya bingung.
Ini bocah kesurupan apa, sih? Kok jadi gini? Lagian kenapa juga dia panik? gumamnya dalam hati, sambil melirik sinis memperhatikan sikap Tiara.
Tak ingin rasa penasarannya memenuhi isi kepala, Arya mengajukan pertanyaan. “Kamu kenapa, sih? Ribut sendiri,” sindirnya ketus.
Tiara menghentikan pencariannya. Dia memandangi Arya. Sadar jika sikapnya berlebihan, Tiara kembali menjawab dengan ucapan lembut. “Lagi cari colokan, Pak…”
Suaranya Tiara barusan terdengar begitu manja dan menggoda. Membuat Arya jadi berdebar, merasa salah tingkah sendiri, dan ingin sekali menerkamnya. Tak ingin menunjukan kelemahannya saat ini, Arya berusaha untuk tetap tenang.
“Ya nanti aja, di rumah saya kan juga bisa ngecas. Pake punya saya.” Tapi nyatanya lagi-lagi ucapannya ini memancing hasratnya sendiri. Juniornya semakij terasa keras, seolah siap untuk segera menyerah Tiara ketika sampai rumah nanti.
Namun karena tak mau pikiran kotornya mendominasi, Arya berusaha untuk mengatur nafas, berusaha kembali normal seperti sedia kala. “Lagian, emang kamu ada perlu apa sama Melani?” tanyanya basa-basi.
“Mmm… saya kayaknya ke Kak Melani aja deh, Pak. Saya… gak enak kalau tinggal berduaan sama Bapak. Bukannya kenapa-napa. Saya tahu Bapak gak nafsu sama saya, cuma… saya belum siap aja, Pak. Kalau tinggal sama cowok,” jelas Tiara dengan lugas.
Baru kali ini dia berani mengatakan hal mengganjal dalam dirinya. Bahkan ini juga salah satu kalimat terpanjang yang jelas terucap dari mulut Tiara.
Menimbang hasratnya yang terus menggoda, Arya berusaha memaklumi. Tapi bagaimanapun juga, dia tak ingin menghubungi Melani.
“Coba aja cari di tasku, kayaknya ada charger. Ambil aja di jok belakang!” ucap Arya yang terlihat lebih tenang, sambil menunjukan arah belakang dengan ayunan kepala.
Arya sengaja mengalah dengan memberi kesempatan Tiara untuk mengisi daya ponselnya, sehingga bisa menghubungi Melani sendiri.
Tiara bergegas melepaskan seat belt-nya demi memudahkan pergerakannya. Dia lalu mengarahkan salah satu tangannya ke belakang dan tangan lainnya mencengkram sudut sandaran tempat duduk Arya, untuk menjaga posisi tubuhnya.
Hanya saja tiba-tiba...
Nyut~ Nyut~ Nyut~
Arya merasa ada benda empuk yang menekan-nekan pundaknya. Ternyata dadanya Tiara tak sengaja menyentuh pundak Arya ketika berusaha meraih tas bosnya di jok belakang. Hal ini jelas membuat Arya kian panas, dengan hasrat yang meningkat.
Mampus! Apa nih empuk-empuk? Mampus, mampus! Ini pengen ku….
Bersambung…