Bab 7. Baju Baru

1414 Kata
Di saat Arya sedang menikmati dialognya dengan dirinya sendiri, para karyawan dihebohkan dengan sosok wanita dengan baju karung merah yang sedang menangis, berjalan menuju ke ruangan bosnya. Tiara yang masih sesenggukan pun kini berdiri di depan ruangan Arya. Lalu ia memberanikan mengetuk pintu. “Masuk,” sahut Arya dari dalam ruangan. Tiara sengaja tidak langsung masuk. Dia malah terus-terusan mengetuk pintu, sampai Arya sendiri yang membukakan pintu untuknya. Jelas hal itu membuat Arya merasa kesal. “Hish! Siapa, sih, main ketok-ketok pintu? Tinggal masuk napa?” teriaknya dari dalam. Ketukan pintu pun semakin dikeraskan Tiara, demi memanggil bosnya langsung. Semakin risih dengan suara tersebut, Arya akhirnya berjalan membuka pintu. “Apa-apaan, sih?” Belum juga amukannya terlampiaskan tiba-tiba saja Tiara menangis sejadi-jadinya. “Huwaaaaa… Pak Arya jahaaat!!! Tegaaaa!!! Penipu!!! PHP!! Nggak tanggung jawab!!” teriaknya dengan isak tangis tak henti-henti. Semua mata karyawan yang melihatnya pun jadi memandang ke arah pintu masuk ruangan si bos. Arya jadi semakin ketar ketir dengan tindakan Tiara yang dirasa mendadak jadi ekstrim. “Ti-Ti… U-udah, dong, Ti. Diem. Ssstt!” Arya panik, dan jadi gagu sendiri. Dia berusaha menenangkan Tiara, tapi wanita itu masih saja menangis tersedu-sedu. Bahkan karena sikap Tiara saat ini, orang-orang yang berada di sana jadi semakin penasaran dengan apa yang terjadi antara bosnya dan juga wanita aneh tersebut. Tak ingin menjadi tontonan anak buahnya, Arya pun memutuskan membawa Tiara masuk ke dalam ruangan. Dia menarik tangan wanita ini, dan langsung menutup pintu ruangannya rapat-rapat. Namun yang terjadi di luar semakin menjadi-jadi pemberitaannya. “Kok, sampe ditutup gitu? Apa mungkin, si Bos hamilin itu cewek?” Salah satu karyawan sengaja melontarkan opininya. “Hush! Jangan sembarangan! Masa iya Pak Arya sama cewek cupu gitu?” Karyawan yang lainnya pun menampik hal tersebut, dan berusaha untuk tidak mempercayainya. “Ih, bisa aja. Buktinya, cewek cupu itu sampe nangis-nangis kayak tadi. Udah gitu, kalian denger ‘kan tadi? Dia minta pertanggung jawaban dari Pak Arya! Apalagi kalau bukan dihamilin?” Obrolan ini terus saja bergulir menjadi gosip panas pagi hari di perusahaan milik Arya. Semuanya nampak penasaran dan ingin tahu tentang hubungan Arya dan wanita yang baru saja masuk ke dalam ruangannya itu. Tapi tentu gosip ini belum terdengar di telinga Arya dan juga Tiara. Mereka berdua kini berada di satu ruangan, dan kini Arya masih saja kebingungan dengan sikap Tiara. “Ti, udah, dong, Ti. Kamu kenapa, sih? Kok tiba-tiba nangis gini?” tanya Arya yang lupa dengan apa yang sudah dia lakukan ke Tiara. Bukannya menjawab pertanyaan Arya barusan, Tiara yang sedang ditanyai itu, kini malah semakin menangis sejadi-jadinya. Hal ini tentu membuat Arya jadi semakin bingung dengan sikap Tiara. “Eh, udah, dong. A-aku kan, belum ngapa-ngapain kamu … Eh, maksudnya, saya … aku kan, nggak ngapa-ngapain kamu,” kata Arya yang jelas terlihat panik. “Nggak ngapa-ngapain gimana? Jelas-jelas Bapak nggak terima saya kerja di sini. Tadi ‘kan kesepakatannya nggak gini, Pak,” ujar Tiara yang berusaha menjelaskan kekecewaannya sambil masih menangis terisak-isak. Rasanya begitu terpukul dan sedih dengan keadaannya saat ini. Arya yang memperhatikan Tiara pun jadi bingung sendiri. Baru kali ini dia membuat wanita sampai menangis sejadi-jadinya. Tiba-tiba saja Arya jadi merasa bersalah dengan perbuatannya. “U-udah dong. Jangan nangis. Nggak malu apa sama umur? Udah, ya, kita bicarakan ini baik-baik aja. Yuk diem yuk! Cup cup cup,” ujar Arya yang kini sengaja menepuk pundak Tiara dengan takut-takut. Tiara masih saja menangis. Dia berusaha menutupi wajahnya, dan tertunduk ke bawah, duduk jongkok sambil terus menangisi nasibnya. Hal ini jelas membuat Arya jadi semakin tidak enak hati pada Tiara. Duh! Gimana, dong? Malah nangis kayak gini lagi. Arya garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Berusaha untuk menenangkan kembali, pria ini ikut merendahkan tubuhnya di hadapan Tiara. “Saya harus gimana biar kamu berhenti nangis?” tanya Arya yang jadi terlihat takut menghadapi wanita ini. “Saya mau kerja bener, Pak. Saya terima, kok, jadi asisten Bapak di kantor dan di rumah. Gajinya kecil nggak apa-apa, deh, Pak. Yang penting bisa buat makan, buat idup.” Mendengar ucapan Tiara yang begitu memelas, hati kecil Arya jadi semakin tak tega. Apalagi dia melihat sendiri bagaimana tadi Tiara diusir dari tempat tinggalnya. Hingga akhirnya, Arya pun memutuskan untuk segera menelpon kepala HR. “Buatkan kontrak kerja Tiara sekarang juga, lalu ke ruangan saya segera!” Tiara mendengar sekilas ucapan Arya barusan. Hal ini ternyata mampu menghentikan tangisannya, dan membuka tangannya yang menutupi wajah, untuk mengintip melihat ke arah Arya. “Udah, bangun. Jangan nangis mulu. Lagian jadi cewek cengeng banget. Gimana mau kerja kalau kamunya malah nangis kayak gitu?” oceh Arya saat menyadari Tiara sudah menghentikan tangisannya. Dia segera membangkitkan tubuhnya, menatap ke arah wanita di bawahnya sebentar, lalu berjalan menuju ke kursi sofa. Namun belum juga sampai ke tujuan, tiba-tiba Tiara bangkit meraih ujung pakaian pria ini. “Te-terima kasih, Pak. Saya janji, akan menepati janji,” ujar wanita ini dengan tatapan sungguh-sungguh. *** Jam sudah menunjukan pukul 17.00, tanda bahwa sudah waktunya pulang kerja. Meski biasanya sering ada lembur, tapi saat ini Arya memutuskan untuk segera mengakhiri harinya di kantor karena lelah dengan drama sekretaris barunya. Hais, sial! Kenapa juga aku malah nawarin dia jadi asisten rumah segala? Kalau kayak gini, kan, aku jadi ketemu dia lagi di rumah. Harusnya gak gini rencanaku!! Arya menjejak-jejakkan kakinya di dalam mobil. Dia bahkan memukul-mukul setir mobilnya, merasa kesal dengan keberadaan Tiara. Rasanya ingin meneriaki Tiara dengan berbagai makian, tapi sayangnya, Tiara lemah sekali. Baru juga dikerjai sedikit sudah menangis heboh seperti tadi. Bahkan Arya dibuat malu oleh wanita itu, di hadapan anak buahnya. Meski merasa kesal dengan keadaan saat ini, tapi Arya juga merasa kasihan dengan Tiara. “Apa aku bayarin kos aja, ya?” Arya menimbang-nimbang kembali ucapannya. “Ih, ogah, ah! Emangnya dia ani-aniku apa? Cakep juga kagak. Dapet apaan aku nanti? Enak aja, udah keluar duit, gak dapet apa-apa. Rugi, dong! Mending jadiin dia ART. Toh, juga dia udah mau. Udah lah.” Arya menyerah sendiri usai berdebat dengan dirinya. Dia lalu segera melajukan mobilnya, menuju tempat di mana Tiara sudah menunggu. Tiara sudah diberi pesan oleh Arya supaya menunggu mobilnya di halte bus dekat kantor. Meski sudah diberi pesan singkat oleh bosnya, nyatanya Tiara tetap saja merasa tak tenang. Dia terus-terusan memperhatikan jalan, menunggu kedatangan bosnya dan berharap pria itu segera datang. Pak Arya bakal jemput beneran, kan? Dia nggak mungkin bohong, kan? Mengingat kejadian yang terjadi tadi saat Arya sempat berubah pikiran untuk tidak menerimanya bekerja di kantor, Tiara jadi semakin berpikiran yang tidak-tidak. Namun tak lama, dia melihat mobil bosnya berhenti tepat di hadapannya. “Buruan naik!” seru Arya, ketika jendela mobilnya baru saja diturunkan. Tiara pun buru-buru membuka pintu dan duduk di kursi penumpang. “Kita mampir mall dulu. Beli baju yang pas buatmu. Dari pada saya sakit mata liat bentukanmu,” ucap Arya tanpa basa-basi. “Tapi, Pak. Kalau pakai baju yang pas, saya kurang nyaman,” sahut Tiara berusaha mengurungkan niat baik bosnya. Sayang, alasannya barusan malah membuat Arya kembali naik pitam. “Terus mending mana, kamu yang kurang nyaman, apa mata saya yang nggak nyaman lihat bentukmu?” Tiara jadi terdiam menundukan kepala ketika mendengar balasan Arya. “Udah, nurut! Masih bagus saya udah baik hati mau beliin kamu baju. Kalau nggak karena mata saya sakit liatin kamu, nggak bakalan mau saya keluar duit buat beliin kamu!” lanjut pria ini, menegaskan kembali niatannya. Tiara jadi pasrah, bahkan ketika sampai di mall, Arya sudah sibuk memilih beberapa baju untuknya–yang sudah diukur sesuai lebar pundak wanita ini. “Nih, dicoba dulu, harusnya itu pas sama ukuranmu,” ucap Arya yang memerintah Tiara untuk segera mencoba pakaian di ruang ganti. Dengan tampang yang terlihat murung, Tiara terpaksa menuruti keinginan bosnya. Dia meraih baju yang diberikan Arya dan segera masuk ke dalam ruang ganti. Baju yang dia kenakan segera ia ganti dengan yang baru. Hanya saja… “Sshh… tuh, kan! Pasti susah dikancingin,” oceh Tiara mengomentari pakaian gantinya. Dia berusaha mengancingkan bagian dadanya yang terasa sesak ketika mengenakan baju kemeja ini, dan memaksanya hingga berhasil terkancing sempurna. “Gimana? Pas, kan?” tanya Arya sembari mengetuk pintu kamar ganti di mana Tiara berada. Sampai akhirnya, Tiara keluar dari ruang kecil itu, menghadap pada Arya dengan malu-malu. “Astaga…” Betapa terkejutnya Arya ketika mendapati bagian d**a Tiara terlihat begitu sesak, seolah meronta ingin dibebaskan dari kancing-kancing pakaian yang sedang dikenakan. Bentuknya yang bulat, dan penuh membuat Arya sebagai lelaki normal, sampai menelan ludah melihat kemolekan tubuh wanita yang masih terbungkus itu. Bersambung…
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN