Bab 6. Solusi dari Arya

1385 Kata
Di dalam mobil keadaan terasa canggung bagi Tiara. Dia tidak menyangka jika bosnya akan datang menyelamatkannya, bahkan membawanya pergi. Hanya saja, Tiara jadi bingung, ke mana dia akan dibawa? “Pak…” Baru juga satu kata yang keluar dari mulut Tiara, tiba-tiba Arya langsung menyela. “Jangan ge-er ya kamu. Tadi emang saya kelihatan keren, tapi jangan sampe kamu naksir. Kamu bukan tipe saya. Inget itu!” ucap Arya penuh penegasan. Tiara pun makin dibuat bingung dengan sikap sang bos. Bahkan dia tidak merasa bahwa bosnya ini keren, sama sekali tidak. Tiara hanya bingung, ini maksudnya apa, dan dia mau dibawa ke mana? Tapi sayangnya Tiara tak berani menanyakan hal ini pada Arya. Sampai akhirnya dia dikagetkan kembali dengan suara Arya yang tiba-tiba menyentak. “Kamu ini kenapa, sih? Mohon-mohon sampai sujud-sujud kayak gitu? Nggak punya harga diri banget! Makanya kalau ngomong tuh yang tegas! Jangan gagu! Harusnya kamu ngomong yang jelas! Lawan! Buktiin kalau kamu nggak salah! Itu yang godain kamu bapak-bapak bantet tadi, kan? Tapi kamu yang malah dimarahi istrinya? Gitu kamu malah mohon ampun sama mereka. Kamu pikir mereka Tuhan apa?” Kaget, sedih, takut, perasaan ini bercampur aduk di hati Tiara. Dia tidak menyangka bosnya melihat dan memahami apa yang terjadi padanya. Ingin sekali Tiara kuat dan berani seperti yang Arya ucapkan, tapi sayangnya tak semudah itu bagi Tiara melawan. “Lain kali kamu jangan sampai merendahkan dirimu lagi kayak tadi. Paham?” Arya masih saja menyetak. Tiara pun langsung menganggukan kepala, masih takut dengan suara bosnya saat marah-marah seperti ini. “Terus sekarang, kamu nggak ada tempat tinggal selain tempat tadi?” tanya Arya kembali. Tiara menggelengkan kepala, menjawab pertanyaan Arya. “Sodara?” “Di sini ada Kak Melani.” “Ah, iya ya kamu sodaranya Melani. Tapi jangan dia! Males saya sama Melani. Pokoknya kalau bisa kamu hindari itu si Melani sompret! Gara-gara dia kerjaanku jadi numpuk!” Arya kini malah jadi ngomel-ngomel sendiri. Tiara pun kembali diam. Sebenarnya dia juga merasa bersalah, karena jika pekerjaan Arya menumpuk, itu artinya dia tidak melakukan apa-apa untuk membantu bosnya itu. Lagi pula, Tiara juga merasa tak enak jika harus menumpang di tempat Melani. Dia merasa tak akrab dengan saudaranya itu. Tapi setelah dipikir-pikir memang Melani satu-satunya harapan untuk Tiara. Mengingat tentang Melani, Tiara kemudian meraih ponselnya. Dia hendak mengirimkan pesan pada saudaranya itu, dan menjelaskan tentang keadaannya. Namun beberapa kali dia mengetikan kalimat, beberapa kali pula dia menghapus ketikan tersebut. Rasanya bingung harus menjelaskan bagaimana pada Melani. Sampai akhirnya, Arya kembali buka suara. “Kamu mau nggak, jadi asisten saya?” “Hm? Kan, saya sudah jadi asisten Bapak bukannya?” Tiara jadi bingung sendiri dengan pertanyaan Arya barusan. “Bukan gitu, maksud saya jadi asisten rumah tangga. Kalau kamu mau, tinggal kerja aja yang bener. Beresin rumah, siapin makan dan keperluan saya lainnya. Kamu nggak perlu bayar sewa, saya bayar kamu buat kerjaan di rumah. Anggap saja sama-sama diuntungkan. Gimana?” Tiara terdiam, memikirkan ucapan Arya barusan. “Cuma ngerjain kerjaan rumah kayak biasa. Kamu udah biasa beres-beres, kan?” lanjut Arya lagi. Meski terdengar menarik karena dirinya tidak perlu bayar uang sewa, tapi sepertinya Tiara perlu memastikan kembali tawaran bosnya itu. “Mm, itu … Pak Arya juga tinggal di sana?” “Ya iya lah! Orang itu rumah saya. Gimana, sih, kamu?” Arya memandang Tiara dengan wajah heran dan beberapa detik selanjutnya ia baru menyadari maksud pertanyaan tersebut. “Ah. Tenang aja. Kamar kita terpisah. Nggak mungkin juga saya mau sekamar sama kamu. Lagian saya, tuh, nggak napsu sama kamu! Inget itu! Jangan samakan saya sama bapak-bapak boncel tadi!” tegas Arya. Sejujurnya ide ini muncul begitu saja di benak Arya. Dia merasa paling diuntungkan, jika bisa membuat Tiara bekerja 24 jam untuknya, baginya ini adalah sebuah keuntungan. Namun mengingat sikap Tiara seharian ini, Arya tiba-tiba mengubah keputusannya. “Eh, nggak jadi, deh. Kamu aja kerjanya nggak bener.” “Tunggu, Pak! Saya mau! Saya bakal kerja bener.” Tiara buru-buru meralat pemikiran Arya. Baginya sudah untung mendapatkan tempat tinggal tanpa bayar, apalagi ini dari bos barunya, Tiara tak ingin melewatkan kepercayaan tersebut. “Udah, lah. Saya anter kamu ke tempat Melani aja.” “Jangan, Pak! Jangan kasih tau Kak Melani tentang keadaan saya. Saya mohon. Saya janji bakal belajar cepat, dan berusaha untuk bekerja dengan baik! Jadi, please, jangan diralat dulu permintaan Bapak tadi,” ucap Tiara dengan sorot mata penuh permohonan. Arya jadi tidak bisa menolak. Belum lagi ucapan Tiara barusan adalah ucapan terpanjang yang pernah Arya dengar sejak pertemuan pertama mereka. “Hm, baiklah. Kalau begitu, anggap saya memberikanmu kehidupan kedua. Jadi gunakan kesempatan ini baik-baik!” ujar Arya penuh kesombongan. Entah apa yang sebenarnya direncanakan Arya saat ini, yang jelas dengan begini Arya merasa bisa leluasa mengatur keadaan seenak jidatnya. *** Kembali di kantor, Arya langsung menyuruh Tiara untuk bertemu pihak HRD tempatnya bekerja. Tiara pun menuruti ucapan bosnya, dan mereka berpisah sejak turun di parkiran. Meski ada rasa takut ketika harus menemui orang baru lagi, namun Tiara mau tak mau harus melakukan hal ini demi menyelesaikan urusannya. “Selamat sore, Bu. Saya Tiara. Karyawan baru di sini. Katanya saya disuruh menemui Ibu,” ucap Tiara saat memasuki ruangan HR. “Ah, Tiara. Iya, silahkan masuk dulu. Ada yang perlu saya sampaikan padamu,” sahut wanita yang nampak sudah tidak terlalu muda itu. “Silahkan duduk dulu.” Tiara pun segera duduk di hadapannya. Debaran dadanya begitu terasa, dan Tiara beberapa kali berusaha menenangkan diri dengan mengatur nafasnya. “Mm, begini Tiara. Jadi Pak Arya tadi telepon saya. Dia bilang katanya, kalau kamu tidak bisa kerja di sini. Dengan kata lain, kamu tidak diterima kerja di perusahaan ini.” Jedeeerrr!! Jantung Tiara rasanya seperti disambar petir. Copot, hilang, seolah jiwanya sedang kabur dari raganya akibat kabar dari Ibu HR ini. Dia tidak menyangka jika ternyata nasibnya kembali memburuk. Rasanya, bukan ini yang seharusnya dia dengar dari hasil kesepakatannya dengan Arya. Merasa tidak bisa menerima keadaan, Tiara pun langsung menolaknya. “Ma-maaf, Bu. Bukannya, saya bisa bekerja di sini? Barusan Pak Arya bilang, saya harus menemui Ibu untuk urusan kontrak kerja,” jelas Tiara dengan suara bergetar. “Oh, ya? Tapi tadi sebelum kamu masuk Pak Arya telepon kalau kamu tidak diterima di sini. Apa kamu tidak percaya?” “Bu-bukan begitu, Bu. Hanya saja ….” Tiara bingung harus bicara bagaimana lagi untuk menjelaskan keadaan yang sebenarnya. Air matanya kembali keluar begitu saja mewakili perasaan campur aduknya saat ini. Memang hati Tiara sensitif sekali, lemah, mudah retak. Tak tega dengan keadaan wanita di hadapannya, kepala HR ini pun akhirnya berusaha untuk menghibur Tiara dengan nasihatnya dan juga sentuh lembut di pundak. “Sudah, jangan menangis. Kamu masih muda, jadi saya yakin kamu bisa bekerja di perusahaan lainnya. Semangat!” Ibu HR mengepalkan tangan ke atas sebagai tanda dukungannya pada Tiara. Tiara hanya menganggukan kepala. Tapi bagaimanapun juga, dia masih merasa tidak bisa terima dengan keputusan sepihak ini. Tiara pun segera keluar dari ruangan HR dan berniat untuk menemui Arya secara langsung. *** Di sisi lain, Arya yang saat ini berjalan menuju ruangannya, kini terlihat senyum-senyum sendiri. Suasana hatinya begitu menyenangkan, tak seperti sebelum-sebelumnya. Hal ini jelas membuat anak buahnya jadi keheranan melihatnya. “Kenapa, tuh, Pak Bos? Tumben banget senyum-senyum nggak jelas gitu?” bisik salah satu karyawan ke karyawan yang lain. “Iya? Lagi jatuh cinta apa ya?” “Sama siapa? Tumben dia bisa naksir orang?” “Nggak mungkin, ah! Orang mana yang tahan sama kelakuan nggak jelasnya itu?” “Iya. Padahal ganteng. Cuma aneh orangnya, udah gitu galaknya nggak tanggung-tanggung!” Para karyawannya pun malah membicarakan tentang Arya dengan sikapnya yang tiba-tiba berubah. Mereka merasa bingung dengan keadaan bosnya yang terlihat begitu aneh tidak seperti yang biasanya. Arya tentu tidak mendengar bisikan-bisikan kemunafikan karyawannya. Dia hanya fokus melangkahkan kakinya, kemudian segera memasuki ruangan dan duduk di kursi singgasana. Sambil tetap tersenyum, Arya merasa senang karena dirinya tidak perlu sering-sering bertemu dengan Tiara di kantor. Toh, dia juga tidak melanggar janjinya pada Melani, tetap mempekerjakan Tiara sebagai asistennya, meski asisten rumah tangga. Dengan begini mataku bakal tetep sehat karena nggak perlu lihat si ondel-ondel riwa-riwi di kantor. Sampe rumah juga paling dia udah dekem di kamar. Memang, Arya Putra Panduga benar-benar cerdas! Yang penting kan masih sama-sama diuntungkan. Ya, nggak, sih? batinnya penuh rasa bangga. Bersambung…
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN