Pukul 07:30 pagi. Kapel di kawasan Tegalsari, Semarang, masih diselimuti ketenangan subuh. Cahaya pagi yang lembut menembus jendela kaca patri, menciptakan pantulan warna-warni yang indah di lantai marmer. Bau lilin yang baru dinyalakan dan dupa yang samar-samar memberikan suasana khidmat. Ryan dan Bianca tiba dalam keheningan yang canggung, efek dari ciuman di mobil tadi pagi masih terasa nyata. Nu dan Romo Andreas sudah menunggu di salah satu bangku kayu depan. “Mas Ryan! Bianca!” sambut Nu, ia bangkit dan memeluk keduanya bergantian. Wajah Nu tampak lelah, tetapi matanya memancarkan tekad. Nu langsung menarik Ryan ke samping Romo Andreas. Di atas meja kecil di samping bangku, terhampar tab milik Ryan. “Romo, ini data-data yang kuminta tolong kumpulkan Nu,” kata Ryan. Ryan menyerahkan

