“Ada yang salah ...,” gumam Abra sembari memangku dagunya. Pikirannya tentu saja dihias oleh wajah Fara sekaligus mimik yang dipasang oleh wajah ayu itu. Abra merasa itu bukan Fara seperti biasanya. Bukan kekasihnya yang akan cepat sudahi rasa marah ketika ia datang meminta maaf, apalagi ketika sudah memberikan lamaran indah. Apakah Fara masih kecewa? Abra mempertanyakan hal itu. Namun, ia terus mencoba menampik prasangkanya agar hatinya tetap tenang. Kenyataan sering kali tak sejalan sesuai keinginan. Ya, kendati Abra telah berulang kali menampik prasangka itu, tetap saja ada kegelisahan. Padahal sudah sejauh itu, lamaran manis sudah diberikan. Bahkan, Abra telah merencanakan tanggal pernikahan yang akan ia usulkan pada semua anggota keluarganya. Hanya saja, apakah Fara benar-benar leg

