Suraji menatap wajah Sony dengan tajam, dan tersemat kemarahan pada matanya itu. Namun, Sony justru tersenyum dengan santun. Tidak ada gentar sekaligus takut di hati pria itu, meski berhadapan dengan sang atasan. “Saya ada perlu dengan Nona Fara, Pak. Sepertinya Bapak belum bisa membawanya,” ucap Sony sembari melepaskan tangan Fara dari direkturnya itu. Suraji menghela napas dalam. “Saya ada perlu lebih penting dan harus sekarang,” balasnya tak mau kalah. “Tapi, ini mengenai proyek bulan depan, Pak. Hanya saya dan Fara yang paham karena kami partner dalam proyek ini.” Suraji bergeming. Ditatapnya Sony dengan nanar, kemudian Fara dengan menyesal sebab rencananya untuk membawa wanita itu harus tertunda. “Sepertinya kalau mendesak, bisa bicara di sini saja, Pak,” tambah Sony menyarankan.

