Tepat di depan gerbang kantor di mana Fara Bekerja, Abra yang juga tengah membonceng wanita itu menghentikan motor gedenya. Tak lama setelah itu, Fara berangsur turun dari kendaraan tersebut. Tampilannya sudah berbeda, celana panjang bahan kini menggantikan androk spannya, juga sepata flat yang menggantikan sepatu hak tingginya. Melibat keputusan dari wanita kesayangannya itu dengan mengganti pakaian sebenarnya masih saja membuat Abra merasa tidak enak hati. Baru pertama bertemu setelah dua minggu pergi, ia sudah mengecewakan Fara. Namun, tak ada yang bisa Abra lakukan kecuali mengubah sikap setelah ini. Abra mengulas senyumnya. Ia menatap Fara yang masih terdiam sembari berdiri di sampingnya. Kemudian, Abra meraih telapak tangan Fara dan menggenggamnya. “Kamu kerja yang semangat, ya

