Episode 22-PDKT

1588 Kata

“Mm ... besok pagi boleh,’kan, jika saya menjemput kamu lagi? Sebagai langkah awal saya membantu kamu.” Fara menghela napas dalam, kemudian mendesah pasrah. Meski sebenarnya, ia teramat menyesal telah memberikan jawaban “iya” untuk permintaan Sony di akhir panggilannya tadi malam. Ditatapnya wajahnya yang ayu dengan nanar, pada pantulan cermin rias. Bagaimana ia bisa dengan mudah menyetujui tawaran Sony? Sementara, ia tidak ingin memberikan harapan palsu. “Uh! Kenapa aku selabil ini jadi manusia sih?” rutuk Fara pada dirinya sendiri. “Aaah! Bagaimana dong? Sudah terlanjur. Apa ini juga salah satu jalan agar aku bisa melupakan Abra?” tambah Fara, gusar. Ketukan pintu tiba-tiba terdengar. Fara menghentikan kegusarannya dan beranjak berdiri dari duduknya. Langkah pun ia ambil menuju pintu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN