Abra menghentikan motor gedenya tepat di depan rumah Fara. Ia menepikan kendaraannya itu di seberang jalan dan bergegas turun. Namun, bukannya melangkah, ia justru duduk kembali dengan posisi yang berbeda di atas motornya. Tatapan mata Abra mengedar ke rumah Ima dan keluarganya, di mana Fara juga tinggal di dalamnya. Kerinduannya terhadap Fara, sebenarnya sudah tidak dapat dibendung lagi. Hampir satu minggu, ia tidak bertemu. Namun, malam sudah sangat larut. Abra menduga bahwa orang-orang yang tinggal di rumah itu sudah lelap dalam tidurnya. Bahkan, sekalipun belum terlalu larut, ia juga tidak berniat datang untuk bertamu. Ya, Abra masih mengingat perihal lamaran kejutan yang hendak ia berikan pada Fara. Jika, ia nekad datang, sudah pasti lamaran itu tidak menjadi kejutan lagi. Dan, te

