AKU SEMAKIN MENJAUH DARI MBAK RUBI

1075 Kata
Hari berlalu begitu cepat Dita mulai mendapat pekrjaan sesuai dengan bidang yang ia inginkan, bahkan setiap berangkat bekerja aku selalu mengantar dita terlebih dahulu ketempat kerjanya sebelum aku berangkat menuju tempat kerjaku, kebetulan perusahaan dimana dita bekerja tidak terlalu jauh dari tempatku bekerja. dan itu aku lakukan setiap hari. tak terasa waktu berlalu begitu saja.. sudah hampir 1 bulan lebih waktuku lebih banyak aku habiskan dengan dita. sehari harinya dita juga merawatku dengan tulus, menyiapkan sarapan pagi dan secangkir kopi,itu dita lakukan sebelum berangkat bekerja tiap harinya. hingga suatu ketika muncul dalam pikiranku,, hampir satu bulan lebih dita sangat memperhatikanku, merawatku seperti suaminya sendiri, tetapi hubunganku dengannya tidak ada kejelasan. hingga akhirnya aku memberanikan diri untuk mengungkapkan isi hatiku kepadanya. sabtu sore aku sudah berencana untuk mengajak dita pergi makan diluar, karena hari ini aku gajian, aku mau mengungkapkan semua isi hati yang selama ini aku pendam.. hingga tiba waktu yang aku tunggu tunggu. kebetulan hari itu suami mbak rubi pulang, dan dita memang kurang suka dengan sikap suami mbak rubi yang katanya agak sombong dan angkuh.. aku tak tau kebenarannya karena aku sendiri jarang berinteraksi dengan suami mbak rubi, karena memang jarang dirumah. karena memang dita sudah ga nyaman dirumah karena ada suami mbak rubi, dia sangat senang ketika aku mengajaknya pergi makan di luar, "dit kamu ada acara ga malam ini" tanyaku keDita yang kebetulan berada di depan rumah. "enggak sih mas, memang kenapa" "aku mau ngajakin kamu makan diluar sekalian jalan jalan" "pas banget mad aku juga lagi males dirumah, ada suami mbak rubi" "ya udah aku ganti baju dulu ya dit," "iya mas aku juga mau ganti baju sekalian" jantungku terasa berdebar debar.. bingung nanti mau mulai dari mana aku ngomongnya.. setelah selesai ganti baju kita berdua berangkan pergi mencari tempat makan yang cocok untuk kita berdua. setelah berputar putar mengelilingi kota akhirnya kita menemukan tempat makan yang dengan suasana hati kita berdua, sebuah kafe yang luas dengan gasebo gasebo yang indah di tepi perbukitan,,, aku parkirkan motorku lalu menuju lokasi pemesanan, kebetulan ada sebuah gasebo paling ujung persis di tepi bukit dengan pemandangan lampu lampu kota yang inda.. kita mulai duduk lesehan berdua di gasebo itu.. sambil menunggu makanan pesanan kami datang. aku coba untuk mengawali obrolan kita berdua. " dit selama kamu tinggal di sini apa yang kamu rasakan" dengan raut wajah sedikit agak bingung dita menjawab. "eemm.. seneng mas,, aku ga nyangka aja saat aku memutuskan bekerja dan tinggal disini bisa bertemu mas tedi, mas baik, pengertian sama aku,meskipun bukan siapa siapa aku, tapi mas mau nganter jemput aku bekerja,selalu ada buat aku, karena disini aku ga punya siapa siapa lagi mas selain mbak rubi" agak besar kepala aku saat dita mengatakan itu. ini waktu yang tepat untuk mengungkapkan semua isi hatiku kepada dita, dan aku coba memberanikan diri mengatakanya kepada dita dengan jantung yang berdetak semakin kencang. " iya dit udah sepantasnya aku sebagai laki laki memperhatikan dan menjaga kamu sebagai seorang wanita, apalagi mbak rubi juga sudah berpesan ke aku untuk menjagamu baik baik." dengan suasana yang sangat sepi, hanya terdengar sayup sayup suara hembusan angin di perbukitan. "dit semenjak pertama kali aku melihatmu aku sudah menaruh hatiku padamu, apalagi dengan berjalannya waktu beberapa bulan ini aku semakin takut kehilangan kamu,,," "dit mas mau kamu menjadi pendamping hidup mas untuk selamanya" dengan sedikit agak terkejut.. "awalnya aku sempat ragu sama mas tedi, tetapi dengan berjalannya waktu beberapa bulan ini,lama lama aku merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan mas tedi" seakan tak percaya dengan apa yang dikatakan dita, aku hanya bengong melihatnya, secara usia dita lebih muda 10 tahun dari usiaku, aku coba meyakinkannya lagi, "kamu yakin dengan jawabanmu itu dit? kamu mau terima aku apa adanya?" "iya mas aku yakin dengan perasaanku, aku harap mas tedi tidak membuatku kecewa" "iya dit mas tedi akan menjagamu, menyayangimu sepenuh hatiku. mas tedi juga berjanji akan menjagamu sampai tua nanti" tiba tiba pelayan datang menghantarkan makanan dan minuman yang kami pesan. " dit kita makan dulu setelah itu aku mau mengajakmu pergi kesuatu tempat" dia hanya menganggukkan kepala sambil menyiapkan makanan dan meberikannya kepadakku.. setelah makan selesai kamipun bergegas pergi ketempat yang aku janjikan, dan kali ini ada yang berbeda dari dita, yang awalnya malu sekarang sudah mulai berani, ketika membocengpun dia langsung mendekapku. setelah sampai di tempat tujuanku yang tak lain adalah taman kota. dita agak heran sekaligus bertanya. "kok kita kesini mas?" tanya dita "iya dit ini tempat dimana aku pertama kali malam mingguan sama seorang cewek cantik yang sekarang ada bersamaku" dita sedikit tersipu malu "masak sih mas aku cewek pertama mas tedi" "iya dit kamu wanita pertama yang ada dalam hatiku, dan aku juga berharap kamu wanita terakhir yang ada dalam hatiku" Dita kembali tersipu malu,dan mencubit lenganku dengan manja lalu memelukku. "mas tedi jaji ya selalu ada buat aku, selalu menjaga ku" "mas tedi janji dit" kami berdua duduk di tempat yang sama seperti dulu, dita memegang tanganku dan menyandarkan kepalanya di bahuku. "aku merasa nyaman jika di dekat mas, aku berdoa semoga perasaan ini selalu ada sampai aku tua nanti" sambil tersenyum aku usap kepala dita dan memberanikan diri mengecup keningnya. malam semakin larut tak terasa hampir tengah malam, waktu begitu cepat berlalu padahal aku masih ingin berlama lama dengan dita menikmati saat saat seperti ini, tapi apalah daya jika aku memaksakan egoku untuk berlama lama disini, nanti dita bisa kena marah sama mbak rubi, akhirnya aku ajak dita untuk pulang kerumah. Pada saat kita sampai dirumah, hal aneh datang lagi, dita tak mau turun, sepertinya dia enggan pulang kerumah, dia hanya duduk diam di atas motor. "dit sudah sampai rumah kok ga turun?" "jujur mas semenjak suami mbak dita pulang aku ga nyaman di rumah mbak rubi" "emang kenapa sih dit kok sampai segitunya' "waktu itu aku ga sengaja mendengar percakapan mbak rubi dengan suaminya, suami mbak rubi kurang suka jika aku ikut tinggal di sini, dia menganggap bahwa aku disini hanya menambah beban mereka, sejak saat itu aku merasa kurang nyaman tinggal disini" gila... suami mbak rubi tega ngomong seperti itu, aku coba membujuk dita agar mau pulang. "sabar ya dit, mas janji secepatnya melamar kamu, dan meminangmu menjadi istriku, aku sudah berencana nanti setelah menikah aku akan mengajakmu pergi dari kota ini, kita mulai semua dari awal, hidup baru,di tempat yang baru" akhirnya dita mau turun dan masuk kedalam rumah. akupun mulai masuk kedalam rumah, dan masuk kedalam kamar, aku masih senyum senyum sendiri.. betapa bahagianya hatiku saat ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN