Sabtu malam di rumah kecil itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Tari duduk di tepi tempat tidurnya, menatap koper kosong yang belum juga ia isi dengan barang-barangnya. Tangannya gemetar, bukan karena ragu dengan keputusannya untuk kembali ke kota, tapi karena ia tahu, pertarungan yang sesungguhnya bukanlah di pengadilan agama, melainkan di rumah ini. Di luar kamar, suara langkah kaki terdengar mendekat. Tari menoleh, dan benar saja, pintu kamar terbuka sedikit, memperlihatkan sosok Seno yang berdiri di ambang pintu dengan ekspresi keras. "Kamu ndak perlu berkemas," kata Seno tegas. Tari menarik napas dalam. "Pak, aku harus kembali ke kota. Aku punya pekerjaan di sana." Seno masuk ke kamar tanpa meminta izin, langkahnya berat dan penuh keteguhan. "Setelah kamu bercerai, kamu bukan l

