Suasana pagi di meja makan keluarga Wiratama terasa hening dan berat. Tak ada obrolan ringan seperti biasanya, tak ada suara tawa atau percakapan santai yang biasa mengisi ruangan ini. Satu-satunya suara yang terdengar hanyalah suara sendok dan garpu yang bersentuhan dengan piring, serta sesekali suara kecil dari Fendi, yang tampaknya menjadi satu-satunya orang yang tidak memahami ketegangan di ruangan ini. "Om Ndalu, Endi mau yang ini," celoteh Fendi sambil menunjuk ke arah sepiring telur dadar di tengah meja. Ndaru, yang sejak tadi diam, langsung mengambilkan untuknya. "Ini buat Fendi," katanya dengan suara yang terdengar lebih lembut dibanding sebelumnya. Bocah itu menerima dengan senyum lebar. "Makasih, Om Ndalu!" Namun, meskipun Fendi terlihat ceria, Tari tidak bi

