Esok nya ketika masuk sekolah, Meza langsung menceritakan pada teman - teman nya perihal dirinya yang dimarahi oleh Reno. Namun, Meza tidak menceritakan serinci mungkin dan tidak menyebutkan tentang larangan sang papa untuk bermain dengan mereka. Meza tau jelas bahwa dieinya sudah terlanjur nyaman dengan Viva La Vida ini. Jadi mau bagaimanapun, ia akan tetap mempertahankan nya.
"Wajar sih Mez kalo anak perempuan." komentar Juan yang duduk di samping Meza. "Lain cerita kalo lo anak sapi."
Setelah menyentil telinga Juan, Azriel pun ikut berkomentar. "Yaa emang kita sih yang salah karena mungkin lo enggak terbiasa termasuk di dalam circle yang kaya kita. Isi anak Jaya Wijaya sama BIS beda banget, kan?"
"Mez," panggil Karel dan Meza pun menoleh. "kapan kita bisa ketemu bokap lo?"
Anak yang berlalu lalang sepanjang koridor karena sudah waktu pulang berfikir dua kali untuk melewati depan kelas 10 IPS 1 karena di depan kelas sudah ada Viva La Vida yang dengan santai nya duduk--Aldi dan Meza di kursi dan yang lain di bawah--dan menempati tempat itu seakan - akan milik mereka.
"Entahlah," Meza hanya bisa menggeleng mengangkat bahu nya. "sampai semalem belum ada kabar kapan pulang."
Selain itu, Rivan yang diberi amanat untuk memastikan adiknya tidak bermain dengan geng laki - laki junior nya itu, justru hanya menatap Meza jika berpapasan. Dan ketika di rumah, jangan harap mereka rela berbicara satu sama lain.
Meza yakin tiga sampai empat hari kedepan setelah peristiwa cabut itu, Meza akan terus ditatap beberapa anak yang tidak dikenalnya dengan sorot mata mengintimidasi seperti oh-ini-yang-cabut-manjat-pohon. Karena saat mereka berjalan ke parkiran, itulah yanh terjadi.
Azriel merangkul Meza. "Mez, jangan sedih ya. Kita semua bakal tunjukin ke kancah dunia kalo Viva La Vida itu bukan sekedar geng yang buat kegaduhan, tetapi emang kita keluarga dan kita bisa lulus dengan nilai terbaik terus dapetin cita - cita yang dipengenin. Habis itu, kita ketawain mereka deh. Oke?"
"Mez, namanya hidup, gak semua orang suka sama lo," Aldi tersenyum. "Tapi di sini ada kita, yang udah terlanjur cinta sama lo."
"Buaya emang paling bisa kalo ngomong beginian dah." cibir Juan meledek Aldi.
Sepanjang perjalanan menuju parkiran, Meza dibuat tersenyum karena semangat dari teman - teman nya. Namun, senyum nya mendadak hilang begitu saja ketika ia terkejut sejauh mata memandang sudah ada mobil Dini yang parkir dengan cantik.
"Gue udah di jemput," Meza menghentikan langkahnya dan tos kepada mereka satu persatu. "duluan, ya."
Keempat teman nya pun kaget ketika Meza sudah sedikit berlari dan berlalu begitu saja. Dan setelah kejadian itu pula, Dini menjadi lebih menjaga Meza. Awalnya Meza yang dijemput supir dan sesekali diantar pulang Aldi pun harus merelakan mobil Dini yang sudah menunggu di parkiran lima menit sebelum bel.
Alvaro Renaldi: Mezania
Alvaro Renaldi: Nanti nonton, mau?
Alvaro Renaldi: Tapi gue cuma punya dua tiket nih
Setelah melihat pesan Aldi, Meza pun sedikit menoleh ke belakang, membuat teman nya yang lain bingung. Namun bukan nya memilih untuk membalas pesan terlebih dahulu, Meza justru lebih mempercepat langkah nya masuk ke mobil dan duduk di samping Dini.
"How's your day?" tanya Dini sambil menyalakan mesin mobil nya.
Meza menarik seat belt nya. "Membosankan."
Mengingat pesan Aldi yang belum dibalasnya, Meza mengeluarkan ponsel dan mulai mengetik huruf demi huruf sampai akhirnya ia menekan tulisan send dan pesan pun terkirim.
Mezania: Sorry Al kayanya hari ini gue mau di rumah aja
"Terus seneng nya gimana, Dek? Pergi ke Bandung?" ujar Dini yang mulai menyetiri mobil keluar dari parkiran.
Karena kesal dengan sindiran Dini, Meza mencopot seat belt nya dan pindah duduk ke belakang. Lalu ia memanyunkan bibir nya dan membuka tas sekolah untuk mengeluarkan kotak makan. Dan Meza merasa, daripada dirinya harus marah - marah, ia memilih untuk diam dan makan.
Alvaro Renaldi: Yaudah gue juga di rumah aja deh
Alvaro Renaldi: Eh bentar
Alvaro Renaldi: Apa jangan - jangan kita serumah?
Mezania: Al, please.
Alvaro Renaldi: Sabar mez, tunggu tiga belas tahun lagi
~*~
"Kita mau nonton film apa?"
Karena Meza membatalkan acara nonton bersama Aldi malam hari ini, Aldi yang tidak mau dirugikan pun berusaha mencari cara agar tetap bisa menonton film dengan Meza. Sampai akhirnya, sekarang, Aldi memutuskan untuk streaming film sambil telfonan bersama Meza.
Sementara Aldi sibuk mencari film bagus yang bisa mereka tonton berdua meskipun dari jarak jauh, Meza yang masih dengan perasaan tidak enak pun hanya bisa menjawab Aldi dengan seadanya. Tetapi, bukan Aldi namanya jika orang itu akan menyerah begitu saja.
“Jumanji?”
Meza menghela nafas. “Al, keadaan kayak gini, gak semudah yang lu liat.”
Mendengar jawaban Meza yang mendadak membuat suasana menjadi tegang dan obrolan akan menjurus ke hal yang lebih serius, Aldi merasa kecewa karena dirinya tidak berhasil.
“Gini Mez,” Aldi terdiam sejenak. “semua ini jangan lo jadiin beban. Kan hidup ini lo yang jalanin, kenapa harus mau diatur – atur? Apalagi ini soal pertemanan, bagaimana lo bisa nyaman di sekolah.”
“Bagaimanapun, ini papa gue yang ngatur, Al. Bukan orang yang baru – baru ini ada di hidup gue dan merubah bagaimana diri gue sekarang.” Meza memejamkan matanya. “Gue seneng main sama kalian, tapi gue juga enggak mau buat papa gue kecewa lagi.”
Terjadi keheningan diantara percakapan mereka berdua, sampai akhirnya air mata pun mengalir melewati pipi Meza. Meza terus menerus mencoba mengatur nafas agar kondisi nya tidak terlihat semenyedihkan itu.
“Mez,” Aldi memanggil dengan nada suara yang sangat lembut. “kalo kita janji enggak bakal bawa lo ke hal yang buruk – buruk lagi, bokap lo masih ijinin lo main sama kita?”
Belum sempat Meza menjawab, pintu kamarnya diketuk beberapa kali, membuat dirinya tersentak dan segera turun dari kasur, lalu membuka pintu.
Dini menaikan satu alisnya dan menatap sekeliling kamar Meza. “Lagi ngobrol sama siapa?”
“Fadhil,” jawab Meza. “nanya tugas.”
Beberapa detik Dini menatap Meza lekat – lekat, sampai akhirnya ia menangguk. “Itu papa mau ngomong sama kamu.”
Meza mengangguk mengerti, dan ketika Dini melesat kembali menuruni tangga, Meza kembali ke depan laptop untuk mengakhiri percakapan nya dengan Aldi, tetapi sia –sia, sambungan nya sudah terputus sepihak.
Tergesa – gesa Meza mengambil ponsel dari atas nakasnya, yang hampir saja membuat secangkir coklat panas jatuh ke karpet bulu nya.
Mezania: Al, maaf. Mungkin agak maleman gue udah merasa lebih baik