Kegiatan 'ngumpul' bersama teman memang bukanlah hal yang sudah tidak biasa dilakukan oleh Meza sewaktu SMP. Menghabiskan waktu seharian dengan mengobrol, bermain permainan, sesekali juga berenang, sampai menonton film bersama teman - teman perempuan nya.
Namun untuk sekarang, pertama kali nya Meza bergabung dalam suatu lingkaran dimana hanya dengan waktu beberapa bulan, antara sekelompok perempuan dan laki - laki di angkatan nya membuat acara BBQ yang bertempat di salah satu rumah seseorang yang bahkan tidak Meza kenal.
"Jadi ... apa yang akan kita lakuin di sini?"
Aldi merangkul Meza. "Ya seneng - seneng aja, Mez. Kita bakal dapet banyak temen baru."
Mereka yang baru saja datang disambut seorang wanita paruh baya yang mempersilahkan memasuki taman yang cukup luas dengan perlengkapan BBQ yang sudah disiapkan di tengah taman. Meza kira mereka adalah orang pertama yang datang, tapi ternyata sudah lumayan banyak yang hadir.
Dari kejauhan, Meza bisa melihat teman - teman yang kala itu mengajaknya mengobrol di lapangan saat acara musik juga ikut serta, sedang duduk dan bermain werewolf sambil memakan cemilan.
"Rel, sini!" ujar salah satu laki - laki yang melambaikan tangan dan Meza kenal dengan nama Daffa.
Karel sedikit mendorong tubuh teman - teman nya untuk segera mempercepat jalan menghampiri Daffa bersama yang lain. "Lo pada jalan aja lama banget, keburu pasangan nya direbut orang."
"Geseran dong," Daffa langsung menggeser letak tempat duduk nya. "Viva La Vida mau duduk nih." Dan kemudian yang lain ikut memberi tempat.
Sudah banyak orang yang menyebut mereka 'Viva La Vida' karena foto mereka yang memakai seragam di lapangan sekolah di post Juan di i********: dengan caption 'Hati - hati di jalan, sekarang ada Viva La Vida' yang sampai diprotes Aldi karena menurutnya terlalu alay. Tetapi bukan Juan jika tidak percaya diri.
Kemudian semakin malam, justru semakin banyak yang mulai datang. Setelah itu, Juan dan Azriel izin membaur dengan teman - teman sekelas dan teman ekskul nya. Sementara Karel memilih untuk tetap bersama Meza dan Aldi.
"Eh kok ada perempuan pemanjat pohon di sini?"
Meza yang sedang mengobrol bersama Karel pun merasa tersindir. Dan di hadapan nya telah berdiri Fio, seorang perempuan yang terlihat mencolok di angkatan nya. Dengan beberapa teman sejenisnya di belakang seperti dayang - dayang, ia melipat kedua tangan nya.
"Siapa yang ngundang lo dateng ke sini?" tanya Fio dengan suara yang dengan sengaja dilantangkan.
Jadi begini, Meza yang sedang berbaring di kasur tiba - tiba ditelfon Azriel dan diajak pergi 'main' katanya. Dan Meza yang sedang dalam tahap pengawasan tadinya menolak, tetapi mereka bilang sudah sampai di depan rumah Meza. Meza yang terkejut mau tidak mau menyetujui ajakan mereka, namun ia meminta untuk ditunggu di depan gerbang komplek.
Fio mendekati Aldi. "Al, kayaknya gue cuma ngajak lo sama temen - temen lo aja deh."
"Lah? Lo kenapa?" Aldi berdiri dan mengerutkan dahinya. "Meza temen gue, Fio."
Karena mereka sudah mulai menjadi pusat perhatian, justru Fio makin berulah. Dengan wajah meledeknya, Fio mengangguk dan menunjukan tulisan di memo ponsel nya.
"Tapi di sini gue cuma mengundang Aldi, Karel, Azriel, dan Juan." Fio memperhatikan Meza dari atas ke bawah. "Enggak ada lo."
Karel langsung menyorotkan mata nya kepada Aldi yang entah dirasuki apa malah terdiam. Sementara Meza hanya tersenyum simpul dan menyipitkan mata karena menurut nya hanya sia - sia meladeni orang yang tidak waras.
"Mez," Karel berbisik di telinga Meza. "ayo pergi."
"Cuma mau nanya," Lalu Meza berdiri di hadapan Fio dengan menaikan dagu nya. "dari sekian banyak orang di sini, berapa sih yang niat dateng ke sini buat jadi temen lo?"
Sebelum mendengar jawaban Fio, Karel langsung mengambil gitar nya dan menarik tangan Meza untuk segera keluar dari rumah itu. Beberapa orang sempat berhenti dari aktivitas nya dan menatap kepergian mereka berdua. Meza pun sempat melihat dari ekor mata nya, bahwa Aldi tetap saja duduk dan membiarkan mereka pergi.
“Sorry gue gak bawa motor, Mez.”
Meza tertawa kecil. “Yaelah santai, udah kayak lagi sama orang lain aja.”
Mereka berdua berjalan keluar dari perumahan Fio dan memutuskan tidak menggunakan kendaraan online untuk segera pulang dikarenakan Meza ingin menghirup udara malam di pinggir jalan daerah Kemang. Dan Karel jalan di samping Meza sambil memetik senar gitar nya yang kemudian menghasilkan alunan nada lembut.
“Jangan ada yang lo pendem sendiri ya, Mez.” Karel tersenyum pada Meza. “Lo tuh tetep punya gue, Juan, Aldi, dan Zriel. Sebenernya gue agak jijik mengatakan ini, tapi … we’re Viva La Vida, right?”
Sebelum tawa nya keluar, Meza tersenyum lebar. “Lo emang sekaku itu ya, Rel?”
“Ya sebenernya gak gini – gini amat sih.” jawab Karel.
Lalu Meza memiringkan kepala nya dan menaikan satu alis. “Terus?”
“Everything happens for a reason.”
Karena Meza tidak mau bertanya lebih lanjut soal alasan itu, dan terlebih lagi Meza merasa bahwa itu merupakan hal yang pribadi untuk Karel. Dan jikalau pun Meza tahu nanti nya, ia ingin agar Karel sendirilah yang menceritakan.
“Mau lagu apa?” tanya Karel kepada Meza. “Tapi gue nggak seromantis album Ghost Series, ya.”
“Cancer,” jawab Meza. “My Chemical Romance.”
Karel tersenyum. “Bagus juga music taste lo.”
Turn away..
If you could get me a drink of water
Cause my lips are chapped and faded
Kemudian Karel menatap Meza dengan sirat mata yang menandakan dirinya meminta Meza untuk ikut bernyanyi. Lalu Meza menarik nafas dan melanjutkan lirik nya.
Call my Aunt Marie
Help her gather all my things
And bury me in all my favorite colors
My sisters and my brothers, still
Keduanya saling menatap dan tersenyum lebar menahan tawa. Dari dua pasang mata mereka yang saling beradu dan bebinar, terang di kegelapan malam bisa dilihat bahwa mereka sesenang itu.
I will not kiss you
Cause the hardest part of this
Is—
Nyanyian mereka harus terpaksa diinterupsi oleh getaran ponsel Meza di saku celana nya. Setelah melihat ada nama Rivan yang muncul di layar, Meza baru sadar bahwa jam sudah menunjukan pukul setengah sembilan malam. Dan Meza bahkan lupa diri nya masih ada di dalam masa hukuman.
“Sebentar ya Rel,” Meza menyengir canggung. “mau angkat telfon dulu.”
“Siapa?” entah kenapa mulut Karel tiba – tiba mengucap itu.
Meza pun menghiraukan pertanyaan Karel dan berjalan menepi ke mini market bermaksud agar tidak terdengar suara bising kendaraan.
“Lo dimana?”
“Iya gue pulang sekarang.” ujar Meza kesal.
“Gue disuruh tante jemput lo. Lo tunggu di kafe deket situ terus send location. “
Seperti biasa, sambungan telfon diputus secara sepihak.
“Rel, gue dijemput tante di salah satu kafe deket sini. Gapapa, kan?” tanya Meza berusaha meyakinkan.
Karel mengangguk.”Hati – hati, ya. Maaf enggak bisa anter, nanti gue dimarahin tante lo soal cabut itu.”
Setelah Meza sedikit berlari untuk mencapai kafe di dekat situ, ia beberapa kali menoleh kebelakang untuk melihat Karel, dan dijawab dengan lambaian tangan. Dan ketika Karel mengeluarkan ponsel nya dari saku celana untuk meminta Azriel mengantarnya pulang, tiba – tiba satu pesan yang masuk sepuluh sampai dua puluh menit yang lalu membuatnya terkejut.
I N I J U A N: Bang, lo dimana?
I N I J U A N: Balik ke sini lagi jir gaduh woi
I N I J U A N: WE NEED YOU.