“Karel kemana?”
Juan melirik ke Azriel terlebih dahulu, sebelum akhirnya ia mengangkat bahu. “Enggak tau. Kayaknya sih lagi males sekolah aja.”
Meza menunjukan berapa banyak ia telah menelfon Karel sejak semalam. “Dia enggak angkat sama sekali.”
Seharusnya Karel tahu bahwa Meza sangat khawatir karena dirinya tidak mendapatkan kabar dari Karel. Meza bertanya – tanya apakah Karel sudah sampai rumah, dan apa ada sesuatu yang terjadi semalam. Dan semua pertanyaan itu tidak terjawab sampai perbincangan mereka di meja kantin sepulang sekolah ini.
“Mez, maaf ya kemarin malem,” Aldi menggaruk tengkuknya. “sumpah gue enggak tau harus ngapain.”
Karena Meza yang memang tidak mengambil hati ucapan Fio, ia mengangguk dan tersenyum serta merangkul Aldi di samping nya. “Yaelah, santai aja sama gue kayak di pantai.”
“Emang semalem lo kemana sama Karel?” tanya Azriel yang sedang memisahkan acar di nasi goreng nya ke tepi piring.
“Jalan – jalan aja,” jawab Meza sambil membayangkan betapa senangnya ia pada malam itu. “sambil nyanyi sih.”
Kemudian muncul sekawanan laki – laki yang membuat seisi kantin reflek memusatkan pandangan kepada mereka. Dengan di depan nya ada seorang yang Meza kenal waktu itu menghampirinya mengajak kenalan tetapi bedanya kali ini ada bekas tonjokan di pipi nya yang menambah perhatian.
Mereka berjalan ramai – ramai sampai akhirnya seperti apa yang Meza duga, mereka berhenti di meja dimana ia dan teman – teman nya sedang makan.
“Eh Aldi,” panggil laki – laki dengan bordiran nama Tegar di seragam nya. “mana jagoan lo?”
Aldi balas menatap Tegar. “Lo mau apa lagi sih?”
“Gimana kabar dia setelah semalem sedikit bermain sama gue?” tanya Tegar dengan senyum miring nya.
Meza yang tadinya mencoba untuk menghiraukan obrolan laki – laki diantara mereka dengan tetap menyantap siomay nya pun langsung menatap Juan untuk meminta penjelasan maksud dari yang Tegar katakan.
“Maaf ya Kak,” Meza berdiri dari tempat duduk nya dan mengambil tas di atas meja. “Gue sama temen – temen punya urusan yang lebih penting daripada harus ngeladenin lo ngomong di sini.”
Mengerti apa yang akan Meza lakukan, Aldi, Juan, dan Azriel ikut berdiri. Sementara Tegar dan teman – teman nya terdiam karena ucapan Meza, mereka pun berjalan meninggalkan kantin. Bukan hanya beberapa siswa lain yang ikut terkejut, tetapi Rivan yang ada di dalam kelompok itu pun ikut menyipitkan mata nya.
“Mez tunggu Mez.” ujar Juan berusaha menahan Meza yang terlihat terburu – buru melewati lapangan.
Karena Meza tidak menoleh sedikitpun, Aldi menambahkan. “Lo mau kemana, Meza?”
Akhirnya Meza berhenti dan membalikan tubuhnya menatap ketiga teman nya yang berdiri bersampingan itu dengan kesal. “Ke rumah Karel. Sekarang.”
~*~
"Apa salahnya sih ngomong sama gue?"
"Karel bilang dia enggak mau bikin lo khawatir, Mez."
Ketika mobil Aldi berhenti, Meza segera membuka pintu mobil dan berjalan cepat ke depan rumah Karel yang sudah ditunjuk Juan sebelumnya. Rumah sederhana dengan cat abu - abu dipercantik taman kecil yang indah dan terawat.
Kemudian Meza memencet bel dan juga mengetuk pintu beberapa kali. Dan ia masih menunggu dengan dirinya yang bersandar pada dinding samping pintu.
Baru saja Meza ingin memencet bel untuk yang kedua kalinya, pintu itu terbuka dan keluarlah seorang wanita tua dengan rambut yang sudah memutih.
"Eeeh kalian," ujar nya kemudian membuka pintu lebar - lebar. "masuk - masuk. Karel nya ada di kamar.”
Mereka masuk sambil salim kepada nenek itu. Azriel yang jalan paling depan pun berhenti di depan pintu kamar--yang lain dengan yang diekspetasikan Meza seperti anak band pada umumnya yang penuh sticker--yang berwarna putih bersih.
"Lo masuk nanti dulu." ujar Azriel kepada Meza seraya membuka pintu kamar Karel.
Mau tidak mau, Meza mengangguk mengikuti instruksi Azriel. Meza berdiri dan melipat kedua tangan nya sambil mencoba sedikit - sedikit mendengar perbincangan diantara mereka.
Laki - laki yang sedang duduk di atas kasur sambil memetik gitarnya itu menoleh, mendapati ketiga teman nya yang datang masih menggunakan seragam sekolah.
"Gimana, Bang? Udah mendingan?" tanya Juan yang ikut duduk di samping Karel.
Karel mengangguk dan tersenyum. "Tegar ngomong apa tadi?"
"Nanyain lo. Di depan Meza pula."
"Kalo enggak dipisahin semalem, lebih seru tuh." namun ekspresi Karel berubah ketika mengingat sesuatu. "Meza enggak ikut, kan?"
"Ikut, Rel."
Tiba - tiba Meza yang akhirnya memperlihatkan wujudnya di depan pintu membuat Karel menatap ketiga teman laki - laki nya. Dan seperti biasa, Karel hanya dibalas dengan cengiran tidak bersalah dan ekspresi Juan yang meminta untuk dimaafkan.
Meza terkejut ketika wajah Karel lebih babak belur daripada Tegar. Tapi dikarenakan dirinya yang tersenyum, setidaknya lebih menenangkan hati Meza daripada sebelumnya. Padahal Meza sudah membayangkan Karel yang hanya bisa berbaring di tempat tidur dengan memakan bubur dan segelas air putih.
"Mez, mau nyanyi lagu apa?" tanya Karel yang melihat Meza hanya mematung, tidak melangkah ke dalam kamar.
Lalu Meza berlari dan kemudian duduk di karpet bulu di samping Juan dan juga sekaligus menghadap Karel. "Tell me about what happen last night."
"Enggak ada yang terjadi, Mez. I'm fine." jawab Karel menepuk bahu Meza beberapa kali.
"Semalem pas lo sama Karel keluar," Aldi menarik nafas. "Enggak lama setelah itu, tiba - tiba dateng banyak senior cowo ya yang lo tau lah siapa mereka."
"Mereka ngerusuhin acaranya. Dan berkali - kali Tegar teriak nanyain Karel dimana." sambung Juan.
Azriel mendecak. "Ya karena gue muak sama mereka, gue samperin akhirnya. Sempet adu mulut, tapi dia bilang dia enggak mau gue yang dilukain."
"Terus kayak di film - film, Karel pas banget liat Juan di dorong, langsung lari dan nonjok Tegar." ucap Aldi melirik Meza. "Dan pertandingan makin panas karena mereka berantem enggak ada yang berani misahin."
"Lalu hal tergila nya," Juan berdiri dan menutup wajahnya frustasi. "Pak Ramli dateng! Enggak ngerti deh gue dia bisa ada dimana - mana dan kapan aja."
Namun Meza akhirnya berfikir, apa jangan - jangan Rivan ada kaitan nya dengan ini semua? Dan masih menjadi pertanyaan bagi Meza mengapa sekumpulan kakak kelas laki – laki yang juga teman Rivan itu seringkali mengusik mereka.
"Ada masalah apa sih sebenernya di antara kalian dan geng itu?"
"Sebenernya lebih individu, sih." jawab Azriel dengan berhati - hati.
Karel meletakan gitarnya di atas kasur. Sebenarnya, Karel tidak ingin menceritakan kisah lama lagi, tetapi karena Karel merasa Meza yang sudah menjadi bagian baru dari hidup nya itu perlu tahu beberapa hal tentang diri nya. Terlebih lagi, Karel takut Meza diikuta sertakan dengan dendam diantara mereka.
"Dulu gue sama Tegar," Karel mengembuskan nafasnya berat. "biasa, ngerebutin cewe."
Meza menaikan satu alis nya. "Hanya itu?"
"Dan dari dulu sampai sekarang gue sama Dimas, saingan berat di seleksi club futsal luar sekolah. " tambah Aldi.
Lalu Meza mengangguk mengerti karena ia bisa menyimpulkan bahwa akar dari permusuhan ini dikarenakan persaingan dalam merebutkan sesuatu. Tidak heran hal ini terjadi di masalah anak sekolah yang sedang berada di tahap pendewasaan.
"Satu lagi," seperti tahu apa yang akan dikatakan Azriel, ketiga teman nya itu menatap dirinya. "Ada yang pernah nyakitin hati kakak gue. Dan masih jadi dendam terbesar gue."
"Rivan." jawab keempat nya bersamaan.
Mendengar nama itu, Meza terdiam. Ternyata benar, Rivan mempunyai masalah dengan mereka, bahkan lebih parah dari sekedar persaingan. Dan Meza tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya bila mereka mengetahui tentang Meza dan Rivan.
Karena melihat Meza mungkin merasa aneh atau kebingungan, Aldi menepuk bahu Meza beberapa kali. “Jangan deket – deket sama mereka ya, Mez.”
“Enggak gitu juga lah Al,” Karel menggeleng dan meluruskan kedua kaki nya. “ya boleh aja, kita enggak mau dibilang ngatur – ngatur.”
“Tapi nanti lo tinggal milih,” Azriel mengambil sebungkus chiki dan melemparnya ke Juan. “mereka atau kita.”