“Sekarang kita mau kemana?”
“Taman Suropati!”
Hari ini hari minggu dan mereka baru saja keliling ke beberapa tempat di Jakarta. Mulai dari Meza yang belum pernah naik ke atas Monas, Aldi yang tidak pernah ke Kota Tua, dan Juan yang ingin sekali merasakan bagaimana suasana di pinggir pantai Ancol. Lalu mereka memutuskan untuk menggunakan transportasi umum busway transjakarta.
Namun selanjutnya perjalanan dari Monas ke Taman Suropati mereka pilih untuk menggunakan mobil dari aplikasi online yang memerlukan waktu …. jam karena lalu lintas yang ramai lancar.
Kita remaja yang sedang dimabuk asmara
Mengikat janji bersama selamanya
Hati telah terikat, sepasang mata memikat
Melambungkan asmara
Yang selalu meminta
Setelah turun dari mobil, Meza yang iseng menyanyi tiba – tiba disambut dengan iringan gitar dari Karel. Mendengar lagu yang sedang terkenal nya di kalangan remaja di Indonesia itu membuat Aldi, Azriel, dan Juan pun turut ikut bernyanyi bersama sambil menyusuri jalanan Taman Suropati di ujung sore hari yang ramai dengan orang – orang yang melakukan aktivitas masing – masing.
Mengulur senja menanti datang
Sang pemilik hati
Rela menanti sejak terbit mentari
Tak sadar 'tuk berbagi
Segala isi di hati
Jayakan sanubari dalam b******u di ujung hari
Setelah Azriel berhenti di tempat yang kosong untuk mereka duduk, Karel masih saja memainkan gitarnya membuat Meza tetap bernyanyi. Dan entah apa yang menginspirasi dirinya, Juan tiba – tiba mengambil topi Aldi dan menyodorkan nya kepada beberapa orang yang lewat dengan cengiran tanpa dosa. Lalu keempat teman nya hanya bisa menahan tawa dan menggelengkan kepala karena tingkahnya.
Indahnya kisah-kasih kita di masa remaja
Di bawah rayu senja kita di madu bermanja
Tiada masa-masa yang lebih indah dari masa remaja
Seakan dunia, milik berlima
Setelah lagu dari HIV! itu selesai dinyanyikan dua kali, mereka duduk membuat dua garis dengan Karel, Azriel, dan Aldi di belakang, sedangkan Meza dan Juan di depan nya dan menyender ke belakang. Setelah menarik nafas lega karena baru saja selesai bernyanyi, Juan yang menunjukan isi di dalam topi Aldi membuat yang lain nya tersenyum lebar.
“Kita harus pintar berbisnis, teman – teman.”
“Lumayan juga. Kalo kaya gini, mendingan kerja sampingan kita ngamen aja.”
Mungkin sekitar lima menit mereka beristirahat, kemudian Juan tiba – tiba berdiri dan melambaikan tangan nya ke arah tukang siomay yang sedang berdiri tidak jauh dari tempat mereka duduk.
“Bang!” teriak Juan. “siomay nya lima piring!”
Abang itu mengangguk dan menyahut. “Pake apa aja?”
“Komplit!” jawab Juan.
Azriel menggelengkan kepalanya. “Lo kayaknya enggak bisa ya Ju sebentar aja engga makan?”
“Udah kayak Pak Ramli aja lo kalo marah tanpa jeda! Gas terus ampe mulut berbusa. Emang dah barbar banget.” celetuk Aldi.
“Biarin aja napa.”
Kemudian Karel merasa terintimidasi karena hanya dirinya yang tak sepakat dengan Azriel.
“CUMA LO EMANG YANG TEMEN GUE, REL!” Juan merasa senang ada seseorang yang mendukungnya, membuat ia langsung menghampiri Karel untuk bertujuan memeluknya, meskipun ditolak mentah – mentah dengan Karel yang menahan nya.
Karel melipat kedua tangan nya. “Ya gue sih enggak mau dengerin lagu di spotify pake jeda.” kemudian ia menatap mata keempat teman nya bergantian. “Jangan biarkan apapun mengganggu apa yang menjadi kebahagiaan kalian, cuy.”
Setelah itu, datanglah abang siomay yang membawa lima piring siomay yang ditumpuk di tangan kanan dan kiri, kemudian membagikan nya satu persatu. Ia juga menawarkan apabila ingin menambahan bumbu kacang, saos, atau kecap, bisa langsung menghampirinya saja.
“Ini baru beberapa bulan, tapi gue udah takut kalo bakal kehilangan kalian.”
Yang dikatakan Meza barusan membuat teman – teman nya terdiam.
Aldi tersenyum. “Lo enggak bakal kehilangan kita, Mez.”
“Jangan buat janji kalo lo masih enggak tau bakal nepatin atau engga, Al. Jangan buat Meza berharap. Karena kondisinya lagi enggak memungkinkan untuk ngobrolin tentang kepergian, atau siapa yang akan pergi nanti.”
Dan untuk kali ini, Meza mendapatkan dua jawaban yang bertolak belakang. Dimana ada seseorang yang selalu merasa dirinya tidak akan pernah pergi, dan seseorang yang melihat tentang betapa pahitnya kenyataan bisa terjadi.
“Gue … enggak siap kehilangan orang yang gue sayang lagi.” ujar Meza dengan lirih.
“Semua orang enggak akan pernah mau kenalan sama yang namanya kehilangan, kepergian, dan kekecewaan, Mez. Tapi kenyataan membiarkan bagaimana ketiganya dikenali dengan sendirinya. Karena mereka pasti mau terkenali.”
Juan menatap Azriel bingung. “Zriel?” kemudian ia memegang dahi Azriel. “Sehat?”
Karel mengangkat tangan nya ke atas, tanda interupsi obrolan yang ia mengerti akan menjurus ke arah yang tidak mengenakan. Dan semua teman nya mengerti.
“Kita di sini lagi seneng – seneng, jangan jadi mellow – mellow gini dong.” Aldi menyengir lebar. “Udah jangan khawatirin yang aneh – aneh, Mez. Jalanin aja dulu semuanya.”
“Kalo kata The Beatles, tomorrow never knows.” tambah Karel.
Juan mengangguk dengan ekspresi wajahnya yang sangat gembira. “Kalo kata Juan, siomay nya enak banget.”