“Mez, liat PR dong.”
“Kan semalem udah gue kirim di grup, Al.”
“Tenggelem kayaknya.”
Karena jengkel, Meza hanya memutar kedua bola matanya, mengambil buku dari dalam tas, dan menyodorkan sebuah buku tulis yang sudah disampul warna merah dengan label berisi nama dan pelajaran di bagian depan nya, Mezania Salsabila, X IPS 1, Matematika.
Masih dengan pintu kelas yang terbuka, suara berisik dari orang – orang yang mengobrol, dan suara lagu yang mengalun di kelas, tentunya pada saat jam istirahat. Aldi yang berkeringat sehabis bermain basket itu langsung menghampiri Meza yang sedang memakan bekal yang dibawakan …. dari rumah.
Aldi melirik dengan ekor matanya. “Tante bawain apa?”
“Nasi goreng pake sosis, saos nya dipisah. Biasa.” jawab Meza tersenyum kecut. Walaupun dirinya sekarang sudah menginjak enam belas tahun, tetap saja Meza merasa masih diperlakukan sama dengan anak tingkat SD oleh keluarganya.
Setelah dibuat diam beberapa saat ketika selesai menyalin beberapa angka dari buku tugas Meza, Aldi bertanya. “Ini angka berapa sih, Mez?”
“Sembilan, yaAllah.” ucap Meza setelah melihat angka yang ditunjuk Aldi.
“SEMBILAN? Daritadi gue tulis delapan, woy! Kok lo nulisnya kocak banget sih buntut bawahnya kayak nyatu sama kepala.” komentar Aldi dengan dahi nya yang berkerut.
Beginilah heran nya Meza dengan tipe – tipe orang yang bukan nya berterimakasih karena sudah diberi kesempatan untuk tinggal menyalin saja, tetapi justru memberikan komentar tidak enak. Apalagi jika nanti nilainya jelek, mereka hanya bisa menatap Meza dengan ah-lo-sih atau menggerutu kesal.
Ternyata ada yang juga yang tidak kalah berartinya dari slogan Jakarta itu keras, kehidupan di sekolah juga keras.
Meza sibuk menghabiskan makanan nya tanpa ingin menjawab ocehan dari Aldi.
Disusul beberapa menit kemudian dengan suara bel yang terdengar nyaring, tanda bahwa berakhirnya waktu istirahat. Ekspresi seisi kelas yang sebelumnya sangat santai berubah menjadi tergesa – gesa membuang sampah makanan, merapihkan barang – barang di atas meja yang sudah tidak digunakan, sampai menyiapkan segala kebutuhan untuk presentasi.
Aldi yang terlihat bingung karena Tuti, salah satu teman nya yang sedang sibuk mencolok kabel ke laptop di atas meja guru, akhirnya menepuk pundak Meza. “Eh sumpah emang ada presentasi apaan?”
“Al, lo kenapa sih?” Meza mengubah arah duduknya menjadi menghadap Aldi. “Lagi mikirin apaan emangnya sampe kayak orang amnesia semuanya gini?”
Bukannya menjawab, Aldi justru menyengir sambil menggaruk kepalanya. “Ah engga. Emang gue suka error kayak gini.”
“WOY BU ATI OTW!”
Teriakan kencang dari Tino membuat semuanya berlarian menempati tempat duduk masing – masing dengan kedua tangan terlipat di atas meja dan tubuh yang tegap—posisi siap belajar—sebagaimana ia menyebutnya.
“Aldi, lo udah ngafalin presentasi belom?” tanya Tino yang duduk persis di belakang nya.
Mendengar pertanyaan dari Tino, rasanya Aldi ingin mengutuk dirinya sendiri dan meminta maaf kepada teman sekelompoknya itu. Mau tidak mau, akhirnya Aldi memberanikan diri membalikan tubuhnya dan menghadap Tino.
Aldi menyengir. “Maaf nih No, gue bener – bener enggak inget sama sekali.”
Karena Tino sudah paham bahwa Aldi bukanlah seseorang yang bisa diharapkan, kemudian ia mengangguk. “Yaudahlah, nanti kalau kelompok kita yang maju, presentasinya juga dinilai individu.”
Setelah memberi salam dan diawali dengan basa basi mengenai tugas presentasi, akhirnya Bu Ati kembali duduk di kursinya. Beliau ini adalah guru pelajaran sosiologi. Beruntungnya, Bu Ati adalah salah satu guru yang sangat santai, dalam artian, hanya cukup memperhatikan dan tidak mengeluarkan suara berisik sudah cukup. Ngomong – ngomong, ibu dari tiga orang anak ini sama sekali tidak pernah memarahi murid.
“Sekarang yang maju presentasi kelompok satu dan dua duluan ya. Yang lain tolong perhatikan.”
Sepertinya, hari ini adalah hari keberuntungan Aldi. Aldi yang menjadi bagian dari kelompok tiga pun masih memiliki kesempatan satu minggu ke depan untuk mempelajari materi. Sementara Meza yang berada di kelompok enam memang sedaritadi sangat santai, karena ia mengerti bahwa Bu Ati akan memilih sesuai urutan.
Untuk kesempatan kali ini, materi pelajaran sosiologi yang akan dibahas yaitu mengenai penelitian sosial. Sepanjang sekian puluh menit pemaparan berlangsung, suasana kelas sanat hening. Walaupun beberapa sibuk dengan kegiatan masing – masing ; ada yang bermain permainan di ponsel, ada yang sibuk mencari angle untuk berfoto, sampai tentu saja, terlelap ke alam mimpi.
Seperti seseorang yang ada di samping Meza ini.
Entah apa yang membuat Aldi aneh di hari ini, tetapi Meza tidak ingin memaksa Aldi untuk cerita kepadanya.
Jika memang ia adalah orang yang dipercayakan, ia pasti tidak sungkan untuk berbagi kesenangan bahkan masalah di dalam hidupnya, tanpa harus dimintai atau ditanyakan terlebih dahulu.
“Penelitian sosial tu dapat dilakukan dengan berbagai macam cara. Mulai dari melakukan angket, wawancara, observasi, sampai studi literatur.”
Walaupun beberapa diantara muridnya tidak memperhatikan, Bu Ati tetap menjelaskan sebagaimana kewajiban para guru untuk memberi ilmu kepada muridnya. Sebegitu sabarnya Bu Ati tidak seperti Bu Tri.
Dengan postur tubuh yang lumayan tinggi, kepala berbalut kerudung, dan wajah yang berkarakter karena beberapa tanda penuaan seperti kerutan, dilengkapi dengan kacamata dengan bingkai kotak belensa tebal. Seperti bagaimana guru sosiologi kebanyakan, beliau juga seringkali memberi contoh dari pembelajaran kehidupan sehari – hari.
“Mez itu Aldi bangunin deh, daritadi diliatin sama Bu Ati.” ujar Tuti yang duduk di depan Meza.
Meza yang sedang melamun pun sontak mengedipkan matanya beberapa kali. “Ha? Eh biarin aja deh, Tut. Kecapean dia kayaknya.”
Sampai akhirnya, Bu Ati yang sedang kembali menjelaskan isi materi pun berjalan menuju barisan pojok kanan, tempat duduk Meza dan Aldi. Meza yang mengira Bu Ati sebaik itu untuk tidak memarahi Aldi yang tertidur pun sepertinya salah. Karena tiba – tiba ia sudah berdiri di samping Aldi.
“Alvaro Renaldi.” panggilnya dengan suara yang cukup kencang.
Aldi langsung terbangun dan segera duduk siap. Bukan hanya Aldi yang panik, begitupun yang lain nya. Karena baru kali ini, Bu Ati menegur anak yang tidur di jam pelajaran nya. Biasanya beliau hanya membiarkan dan menyindir mereka lewat sarkasme yang diberikan.
“Kamu sakit?”
Wajah Bu Ati yang sangat serius membuat Aldi gugup. Ia menggeleng. “Enggak, Bu.”
Meza yang duduk di samping Aldi, dan juga sangat dekat dengan Bu Ati pun terdiam tidak berkutik. Sesekali Meza memperhatikan Aldi dengan ekor matanya karena merasa menyesal tidak membangunkan laki – laki itu—yang jika gugup menggerakkan kedua kaki nya bergantian—saat Tuti menyarankan.
“Tadi sarapan apa?”
Aldi mengetukan jemarinya di atas meja. “Mmm.. nasi uduk, Bu.”
“Cuma nasi aja?” jawab Bu Ati cepat.
“Sama tempe, sih…”
Kemudian Bu Ati kembali terdiam, masih dengan Aldi yang menatapnya dengan ragu – ragu karena merasa takut. Yang lain masih memusatkan pandangan ke Aldi, tidak ingin melewatkan pertunjukan yang akan terjadi setelahnya.
“Nah,” Bu Ati menyengir. “Itu salah satu contoh dari penelitian sosial yang tipe wawancara.”
Hening.
“YA KINAP TUH KINAP!”
“Panik bat panik!”
“Dasar nasi uduk pake tempe!”
Dan sekelas pun riuh dengan suara gelak tawa. Aldi juga ikut tertawa dengan ledekan teman – teman nya. Ya, teman. Dimana senang melihat teman nya berada dalam kesulitan. Tapi untuk kali ini, teman yang senang melihat teman nya baru saja dikelabui oleh seorang guru.
“Al, gue udah takut lo dimarahin tadi.” Meza memegang pundak Aldi. “Lo kenapa enggak bilang lo lagi sakit aja?”
Sementara semuanya masih sangat bahagia, begitupun dirinya yang juga tertawa karena kepanikan nya tadi, Meza yang bertanya seperti itu membuat Aldi menghembuskan nafas dan tersenyum kepada Meza.
“Mau lo ada di tahap tersulit dalam hidup lo sekalipun, kejujuran itu tetep nomer satu, Mez.”