Enam Belas

1019 Kata
Tipikal para pelajar, jika sudah memandang keluar jendela dan langit tampak oren kemerahan, sepasang matanya langsung menuju ke jam dinding yang tertempel persis di atas papan tulis. “Satu... dua… tiga…” Dering bel pulang sekolah yang berbunyi otomatis membuat suara hembusan nafas lega terdengar dimana – mana, disertai suara gaduh alat – alat tulis yang sedang dirapihkan untuk dimasukan ke dalam tas, dansebagian lain nya bangkit dari kursi masing – masing. “Riv, balik nanti ke tongkrongan kan?” Rivan yang merasakan bahunya ditepuk dari belakang langsung menoleh dan mengangguk. “Lo pada duluan aja. Gue lagi bawa mobil.” Setelah dibalas dengan anggukan, kemudian sekelas memulai doa pulang bersama. Ketika seisi kelas sudah berhamburan keluar, Rivan yang selalu menunggu hingga menjadikan dirinya yang terakhir pun meranselkan tasnya dengan satu tangan dan berjalan melewati koridor. Sepanjang jalan, Rivan disapa oleh beberapa teman nya, dimana juga menanyakan topik yang sama; tongkrongan. Pagi ini Rivan berangkat ke sekolah dengan mengendarai mobil yang kemudian ia parkirkan di rumah teman nya yang bertempat tidak jauh dari sekolah dan letaknya memungkinkan untuk Rivan sedikit berjalan untuk sampai ke sekolah. Merasakan ponselnya bergetar di saku celana, Rivan segera menepi dan mengambilnya. Dahi Rivan sedikit berkerut ketika membaca nama yang muncul di layar ponsel nya. "Halo, ada apa, Pa?" "Rivan, sore ini Papa pulang. Papa mau kamu sama Meza sepulang sekolah segera jemput Papa di Bandara.” Mengingat bahwa Rivan tidak mau kelihatan berdekatan dengan Meza, ia berusaha menyangkal. "Tapi, Pa. Ri—" "Gak ada alasan. Tante ada client, dia nanti nyusul." Bahkan Reno merasa tidak perlu lagi menndengar jawaban Rivan, karena dirinya telah memutuskan sambungan telpon secara sepihak, sesingkat itu, dan tidak menerima alasan apa pun. Dan sekarang Rivan sedang sangat bingung dengan apa yang harus ia lakukan. Jika Rivan yang selama ini sudah berusaha menyembunyikan hubungan darahnya dengan Meza kepada satu sekolah, bagaimana caranya agar mereka bisa pulang sekolah bersama? Meza yang baru saja keluar dari kelas langsung disambut teman – teman nya yang sudah memegang jajanan. “Sialan, gue abis kena sama Bu Tri lagi. Gue pikir kan tugas dia bisa dikumpulin minggu depan ya.” Aldi menggeleng-gelengkan kepalanya. “Udah deh, ini terakhir kalinya gue berurusan sama dia.” Juan tertawa. “Yeee lagian sih lo, Bu Tri dilawan. Emang nyawa lo ada sembilan?” “Berani berurusan sama dia, berarti lo udah siap diomongin guru satu sekolahan, Al. Nanti lo mendadak tenar dah di ruang guru.” timpal Karel. Baru saja Meza ingin ikut menyahut, tiba – tiba masuk sebuah panggilan dari nomor yang tidak ia beri nama. Namun hanya dengan melihat dua digit terakhir, Meza sudah mengetahui siapa yang menelfon nya. “Sebentar, ya. Papa.” ucap Meza kepada teman – teman nya yang kemudian mengangguk. Sementara mereka duduk di kursi panjang depan kelas, Meza memisahkan diri untuk mengangkat telfon. “Kenapa angkatnya lama sih?” Meza memutar kedua bola matanya jengkel. “Kenapa sih telfon? Kenapa engga kirim pesan aja?” “Papa telfon minta dijemput di bandara sekarang” “Ha? Papa pulang sekarang? Lo jangan ngelantur, deh.” “Gak usah banyak omong. Cepet ke parkiran sekarang.” Sementara Meza berusaha percaya dengan yang baru saja dikatakan Rivan, ia melangkahkan kaki kembali bersama teman – teman nya. Mereka yang sedang tertawa mendadak berhenti ketika Meza menghampiri dengan ekspresi wajah yang memunculkan keraguan. Aldi bangkit dari duduknya. “Kenapa, Mez?” “Papa pulang sekarang.” Ketiga pasang mata itu terpaku kepada Meza. “Lo mau kita anter ke bandara?” tawar Azriel yang memperhatikan Meza. “Eh enggak usah, gue udah dijemput tante.” Meza berusaha tersenyum. “Lagipula Papa kan masih marah soal masalah waktu itu.” Semuanya mengangguk dan mengerti lalu satu persatu tos kepada Meza. “Yaudah, hati – hati ya, Mez.” ujar Karel menepuk bahu Meza dan tersenyum. Setelah bersandiwara menjadi orang yang baik – baik saja, Meza segera belari kecil untuk sampai di parkiran. Bukan hanya tidak mau dilihat anak yang lain, tetapi juga tidak ingin telat menjemput Reno—yang sudah Meza mengerti—akan mencoba mengaitkan kesalahan nya dengan apa yang telah ia lakukan. Berhubung sepulang sekolah pada hari Rabu ini ada kegiatan dari beberapa ekskul, parkiran tidak terlalu ramai. Dari kejauhan, Meza bisa melihat Rivan sudah duduk di dalam mobil dengan menggunakan kacamata hitam dan sweater hitam nya. Perlu beberapa kali Meza menoleh ke kanan dan kiri untuk memastikan bahwa tidak ada orang yang memperhatikan nya, lalu ia berjalan cepat masuk ke mobil dengan mengendap – endap berpindah dari mobil satu ke mobil lain. “Kenapa enggak di depan gerbang aja sih?” tanya Meza yang baru saja duduk di kursi belakang. Rivan menoleh. “Lo pikir temen – temen gue enggak tau mobil gue? Gimana kalo pada liat lo masuk ke dalem mobil gue?” Tidak ingin berdebat lebih panjang lagi, Meza akhirnya diam dan memilih untuk memainkan ponselnya di sepanjang perjalanan. Karena bosan dengan lagu yang diputar sebuah stasiun radio kesukaan Rivan, tanpa meminta izin terlebih dahulu, Meza dengan sengaja memutar sebuah lagu dari aplikasi musik yang biasa digunakan nya. Terlihat kesal dengan sikap Meza, Rivan langsung mematikan radio. “Kalo mau dengerin lagu sendiri, bilang.” “Nanti lo protes.” ujar Meza mengerucutkan bibirnya. “Lo harus biasain diri untuk minta pendapat oranglain dulu sebelum lo ngelakuin sesuatu.” Setelah itu, perjalanan kembali diselimuti dengan keheningan. Baik Meza yang tidak ingin banyak berbicara kepada Rivan, begitu juga Rivan yang masih merasa terlalu emosional setiap kali percakapan terjadi diantara keduanya. Di perjalanan yang hampir sampai, Rivan sempat mampir untuk memesan makanan secara Drive Thru. Namun ketika ingin bertanya, ternyata Meza tengah tertidur. Perlahan Rivan berusaha menjangkau ponsel yang ada di sisi kanan Meza, kemudian mematikan lagu yang sedang mengalun. Dan tak disangka, Rivan sempat tersenyum kecil, tidak lain tidak  bukan karena dirinya masih ingat apa pesanan kesukaan Meza dari kecil. Kemudian mereka sampai di bandara, dan Rivan segera memarkirkan mobil. Setelah mesin mobil dimatikan, Rivan menoleh ke belakang, adiknya masih tertidur dengan pulas. “Eh bangun, udah sampe.” ujar Rivan. Masih tidak menjawab, Rivan membuat kedua telapak tangan nya membentuk corong. “Banguuuuun.” Mau tidak mau, Rivan mencondongkan tubuhnya ke belakang dan memberanikan diri untuk menepuk bahu Meza beberapa kali. Meza yang kaget langsung mengucek kedua matanya. “Papa mana?” Alih – alih tidak mau menjawab, Rivan segera kembali ke posisi semula. “Ayo cepetan turun.” Akhirnya dengan segala niat dan usaha, yang sebenarnya lebih memilih untuk tidur, Meza memutuskan untuk keluar dari mobil. Namun ketika tangan Meza sudah membuka pintu mobil, pandangan nya tertumpu pada sekotak makanan khas dari sebuah restoran fast food yang berada di sebelahnya, Meza terdiam. Beberapa detik Meza memperhatikan nya, bahkan sampai tidak sadar bahwa air mata berlinang di kedua pelupuk mata.  “Lo ngapain sih? Mau gue tutup pintunya.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN