Menurut Meza, hari demi hari di hidupnya makin mengejutkan. Terlebih lagi di SMA ini, banyak sekali hal – hal baru yang telah ia lalui. Mulai dari perbedaan yang ada pada dirinya sendiri, teman – teman nya, kebiasaan nya, sampai hubungan nya dengan Reno dan Rivan.
Malam ini, Reno, Rivan, dan Meza sedang berada di suatu restoran yang terkenal di pusat kota Jakarta. Bukan hanya desain interior nya yang elegan, namun area rooftop yang tersedia membuat restoran ini menarik dan banyak dikunjungi pada malam hari.
Karena Reno selalu berada di luar kota bahkan luar negeri selama berbulan – bulan, bisa dikatakan bahwa makan malam seperti ini sudah menjadi tradisi setiap kali Reno pulang. Walaupun selama empat tahun belakangan ini, mereka harus menjalaninya sebagai tiga anggota keluarga saja.
“Jadi gimana basket kamu, Rivan?”
Rivan mengangguk. “Semuanya baik – baik aja, Pa.”
Reno mengangguk mengerti dan melirik anak perempuan nya. “Kalo kamu, Mez?”
Pisau yang sedang memotong daging itu mendadak berhenti. Meza sedari di mobil tadi pun sudah memutuskan untuk lebih memilih tidak berbicara banyak dibandingkan dengan Rivan. Bukan karena hal apapun, selain memikirkan mengapa teman – teman nya tidak membalas pesan dari kemarin sepulang sekolah.
“Kenapa, Pa?”
“Masih main sama mereka?”
Bahkan Meza tahu bahwa pertanyaan itu adalah yang pertama akan Reno ucapkan di meja makan malam ini.
Dengan cepat, Meza langsung menggeleng. “Udah, enggak kok, Pa.”
Seulas senyum terukir di wajah Reno. “Nah anak Papa harus nurut.”
Walaupun setelah menjawab Meza merasa salah karena sudah membohongi Reno, tetapi mungkin itu satu – satu nya pilihan terakhir yang harus Meza lakukan karena tidak mau makan malam ini selesai begitu saja.
“Ngomong – ngomong, besok kita ke Bandung, ya? Papa mau buka cabang baru. Kita kira – kira tiga sampai empat hari di sana.” ujar Reno dengan ekspresi wajahnya yang sangat bahagia.
Meza mengerutkan dahinya. “Harus banget besok, Pa?”
“Alhamdulillah enggak ulangan fisika.” timpal Rivan.
Reno mengambil ponsel di saku dan menunjukan percakapan nya kepada guru mereka. “Papa udah izin ke guru kalian.”
Kali ini yang Meza pikirkan bukanlah tentang materi pelajaran yang akan ia lewatkan, pengambilan nilai, maupun PR dan tugas yang harus dikumpulkan. Namun janji dimana besok Viva La Vida ingin menonton Karel bersama band nya manggung di salah satu acara musik dan pulangnya akan makan di tempat biasa mereka nongkrong semasa SMP.
Mungkin untuk sebagian orang, sudah termasuk hal yang biasa untuk merelakan acara bersama teman – teman untuk acara keluarga. Tetapi bagi Meza, ia akan mengusahakan acara yang terlebih dahulu sudah direncanakan.
“Tapi besok aku udah ada janji mau pergi sama temen, Pa.”
“Sama siapa?”
Bodohnya karena belum mempersiapkan jawaban, pertanyaan itu menohok Meza sehingga membuat dirinya terdiam dalam beberapa detik.
“Eh besok itu Minggu, ya?” Meza menggigit bibirnya gugup. “Enggak apa – apa deh, aku baru inget kayaknya hari Rabu jadinya.”
Tiba – tiba Meza merasakan ponsel di saku celana nya bergetar. Lagi – lagi karena tidak ingin momen seperti ini terganggu, mau tidak mau, Meza harus membiarkan panggilan itu. Lagipula Meza juga tidak ingin sulit menjawab pertanyaan dari Reno jika memang satu diantara teman nya lah yang menghubungi nya.
“Mez, kamu udah mikirin nanti kuliah mau ambil jurusan apa?” tanya Reno setelah selesai tertawa karena cerita dari Reno.
“Masih belum mikirin, Pa.”
Reno berdeham dan menatap Meza dan Rivan bergantian. “Soalnya Papa bakalan ada bisnis baru yang bikin sibuk banget. Papa takutnya enggak bisa ngontrol kalian lagi. Makanya belajar yang bener ya, biar enggak ngeribetin tante.”
Keduanya mengangguk. “Iya, Pa.”
“Papa cuma mau ingetin, Papa tau kalau SMA itu masa – masa remaja yang indah dan sayang untuk dilewatin dengan hal – hal kaku dan serius yang bakal engga ada rasanya kalau diceritain ke anak – anak kalian,” Reno terdiam. “Tapi, masa depan kalian di depan mata. Kalian enggak boleh santai – santai, kalian harus ngerencanain semuanya.”
Pada malam itu, Reno terus menerus menekankan kepada kedua anaknya tentang pentingnya masa depan. Memberikan saran mengenai apa saja yang seharusnya Meza dan Rivan lakukan di sekolah, sampai dengan bisnis keluarga.
Sudah menjadi sesuatu yang sangat wajar dilakukan seorang kepala keluarga untuk membantu anak – anaknya mendapatkan apa yang ia harapkan. Dari kedua anaknya masih kecil, Reno sudah menanamkan pentingnya pendidikan dalam kehidupan. Prestasi dan nilai yang bagus selalu menjadi tuntutan Reno demi mengarahkan ke hal yang positif.
Lagipula, di era globalisasi yang semakin merajalela ini, Reno semakin waspada dengan kelangsungan hidup anak – anaknya. Alih alih berada jauh dari mereka, Reno sangat berhati-hati agar kejadian terlewat batas atau yang tidak seharusnya terjadi, dialami oleh Meza dan Rivan.
“Janji ya kalian harus buat Papa bangga?”
“Iya janji, Pa.”
Reno memeluk kedua anaknya. “Kalau kalian terbawa hasrat untuk melakukan hal yang melenceng, inget, Papa memang jauh dan bisa aja kalian bohongin, tapi Tuhan pasti memberi jalan bagaimana hal itu akan Papa ketahui.”
“Tapi kalau misalnya hal itu dilakuin demi kebaikan kita, Pa?” tanya Rivan.
“Kalau kamu orang baik, pasti kamu tahu apa hal baik yang seharusnya bisa dilakuin kok, Van.” jawab Reno yang tersenyum.
“Makanya jangan pernah bosen jadi orang baik.” tukas Meza yang kemudian berpura – pura tidak melihat ke arah Rivan.
Mengerti bahwa Reno tidak akan pernah suka ada perdebatan di meja makan, Rivan tetap terdiam. Hanya saja, ia melirik Meza dengan sinis. Sementara Reno, menganggap yang baru saja Meza utarakan hanyalah candaan belaka.
“Meza,” panggil Reno sambil memotong daging di atas piringnya.
“Kenapa, Pa?”
“Coba lihat ke belakang,” Reno menggantungkan kalimatnya. “Kayaknya ada temen kamu yang ngeliatin ke sini daritadi.”