Delapan Belas

1078 Kata
“Si Karel kapan manggung nya, Ju?” “Jam tujuh, Zriel.” Sekarang masih pukul dua belas siang dan mereka berdua sedang berbincang di dalam kamar Azriel. Bukan hanya untuk mengisi waktu luang, tetapi mereka juga berniat untuk mengerjakan tugas bersama. Hm mungkin bukan mengerjakan, tetapi lebih tepatnya menyalin berama tugas yang telah dikirimkan oleh temn sekelasnya. “Karel ajak ke sini nggak, ya?” tanya Azriel yang kemudian melemparkan beberapa cemilan dari dalam kantung plastik supermarket di atas kasur kepada Juan yang telentang di karpet. Juan mengangkat kedua bahunya. “Ajak aja. Mau telfon?” “Enggak usah, deh. Lagi di studio kayaknya.” “Nanti Aldi sama Meza suruh ke sini aja, Zriel. Biar berangkat bareng kita, terus tinggal ketemu di sana sama Karel.” usul Juan. “Yaudah gue telfon Meza sekarang, ya?” Azriel mengangguk setuju. “Siang, Mezaniaaa” “Siang, Juaaan. Kenapa?” “Lo ke rumah Azriel nanti jam berapa?” “Mmm begini, Ju. Semalem bokap tiba – tiba ngajak ke Bandung. Kayaknya gue enggak bisa dateng deh…” “Yah kok lo baru bilang sekarang?” “Iya baru inget… Maaf ya… Maaf buat semuanya” “Yaudah sekarang emang lo lagi dimana?” “Di rumah” “Yaudah have fun ya di Bandung nya. Kalo si abang ngambek, lo yang tanggung jawab ya” “Hahaha iya iya deh. Siap” Setelah telfon diakhiri, Juan dan Azriel saling melempar pandangan. Meskipun Azriel sedikit kecewa karena harusnya hari ini akan menjadi salah satu hari yang akan mereka berlima ingat, tetapi ketidakhadiran Meza membuat rasa kesempurnaan nya hilang. Dan keduanya hanya berharap bahwa Karel bisa menerimanya. “Ngomong – ngomong, kemarin ada unknown number yang telfon gue.” ucap Azriel menunjukan pemberitahuan nya kepada Juan. “Ngapain? Minta transfer uang ke rekening?” Juan terkekeh pelan. Azriel menggeleng. “Enggak tahu. Pas gue angkat, dia malah ketawa. Suara cewe sih. Terus langsung mati.” Mendengar cerita Azriel, Juan yang sedang mengunyah cemilan langsung terdiam. Ia menatap Azriel dengan tatapan mata yang membulat dan menyeramkan, lalu memegangi bulu kuduk tangan nya yang naik. “Serem banget woy.” “Ya enggak bakal setan juga sih, Ju.” jawab Azriel sok tenang, padahal hanya berusaha menenangkan diri sendiri. “Yaudah kalo gitu palingan salah satu fans lo.” Tidak mau membicarakan tentang itu lagi, kemudian Azriel berdiri karena berniat turun ke bawah untuk mengambil minuman. Setelah menuruni anak tangga dan berjalan kea rah dapur untuk mengambil cangkir, Azriel melihat Thalia yang sedang berbaring di atas sofa sambil menyaksikan serial film di televisi. “Thal, enggak kemana – mana hari ini?” tanya Azriel sambil membuka pintu kulkas. Lalu Thalia mengangkat kepala nya dan menoleh ke sumber suara. “Enggak. Besok gue ada acara di sekolah, mau istirahat aja biar besok fit.” “Ada acara apa?” “Penyambutan tamu gitu, biasa.” Azriel kemudian menghampiri Thalia dan duduk di tangan sofa. “Gue kok mendadak jadi kangen satu sekolah gini ya sama lo.” Mendengarnya, Thalia tersenyum simpul. “Udah, gapapa kali. Yang penting kan lo satu sekolah sama yang lain. Lagipula juga kita kan ketemu di rumah, Jiel.” Mengingat saat – saat dimana Azriel ingin memilih sekolah, dirinya berada diambang dua pilihan besar. Dimana dirinya harus menentukan, lebih memilih satu sekolah dengan Thalia, atau dengan teman – teman nya. Orangtua Azriel memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada Azriel, sampai akhirnya Thalia menjelaskan bahwa dirinya akan baik – baik saja tanpa Azriel, dan menyarankan agar Azriel tetap bersama ketiga teman dari kecilnya itu. “Ada gue aja di SMP, lo masih disakitin sama orang kayak gitu. Apala…” “Jiel, udah. Semuanya udah selesai. Jangan dibahas lagi.” Azriel memegang bahu Thalia. “Thal, kalo lo disakitin sama oranglain, jangan ragu untuk bilang ke gue, ya? Gue enggak mau lo terluka untuk yang kedua kalinya. Gue aja sebagai ade lo gak pernah sedikitpun ngebuat air mata lo jatoh.” “Iya, Jiel. Selalu hargai perempuan ya kayak lo ngehargain gue dan mama.” Ketika obrolan singkat yang secara tidak sengaja membicarakan hal serius itu selesai, langkah Azriel yang tadinya ingin kembali menaiki tangga pun terhenti ketika melihat kotak di meja ruang tamu. “Thal, itu paket buat siapa?” “Oh yang di atas meja ya? Eh iya gue lupa bilang, tadi ada jasa kirim yang anterin. Katanya buat lo.” “Dasar pelupa, kayak Dory.” Azriel mengambil kotak berukuran kecil yang dibungkus kertas kado warna hitam polos itu dan kemudian berlari membawanya ke dalam kamar. Pintu kamar terbuka, menampakkan Juan yang sedang membuka lemari pakaian Azriel dan meletakkan beberapa diantara kaus dan kemejanya di atas kasur Azriel. “Zriel, gue disuruh Karel buat milihin lo baju. Katanya si abang, jangan biarin lo dateng ke acara yang seharusnya chill malah pake kemeja dikancingin.” ujar Juan meledek Azriel. Bukan nya ketinggalan zaman, tapi Azriel adalah tipe orang yang selalu ingin terllihat rapih. Ya mungkin kira – kira, cerminan penampilan nya adalah kebalikan dari penampilan Karel. Bagaimana sosok perfeksionis yang harus menciptakan fokus yang tepat untuk di setiap potretan nya seperti Azriel, dan sosok yang sangat santai dan cuek seperti Karel. “Kotak apaan tuh?” tanya Juan dari sebrang kasur. “Enggak tahu.” jawab Azriel acuh dan kemudian meletakan barang itu di atas meja belajarnya. Juan dengan keingintahuan nya yang besar itu kemudian berlari dan memegang kotak misterius itu. “Zriel, gue buka, ya?” “Buka aja.” “Yakin enggak mau lo yang buka, nih?” “Ya sama aja nanti kalo lo yang buka juga gue kan tau apa isinya, Ju.” Tanpa menjawab lagi, Juan membuka bungkus kotak itu. Dan ketika ia membuka tutup dari kotak itu, Juan terdiam. Tidak bergeming. Azriel yang sedang melipat kembali baju – baju yang dikeluarkan Juan dan menaruhnya di lemari itu pun bertanya. “Isinya apa, Ju?” Setelah beberapa detik tidak menjawab, Azriel membalikan tubuhnya dan melihat Juan yang sedang memperhatikan beberapa lembar foto yang ada di tangan kanan dan kirinya bergantian, tepat di depan matanya dengan dahi yang berkerut. “Foto? Foto apaan?” Juan yang kaget kemudian meletakan kembali foto – foto itu ke dalam kotak. “Ah enggak, foto enggak jelas gitu.” “Iya gambarnya apa?” “Hewan. Jerapah. Sama panda.” Semakin bingung, Azriel melipat kedua tangan nya dan memperhatikan Juan. “Ini kayaknya orang salah kirim, deh.” Lalu Juan menutup kembali kotak itu dan memunguti robekan bungkusan yang tercecer di atas karpet. Hingga tepat ada sebuah dering pesan masuk dari ponsel Azriel, membuat Juan yang gugup pun ikut terdiam di tempat. Unknown Number Azriel, udah liat isinya? Surprise! “Ju, lepasin kotaknya.” “Enggak Zriel sumpah ini foto enggak jelas, enggak penting, kayaknya cuma salah kirim doang.” “JU BIARIN KOTAKNYA DI ATAS MEJA KAYAK TADI!” Akhirnya Juan menyerah, ia meletakkan kembali kotak itu di atas meja belajar Azriel. Kemudian dirinya mundur perlahan, dan duduk bersandar di dinding. Hanya bisa pasrah, menunggu apa yang akan terjadi berikutnya. Tidak banyak berbasa basi lagi setelah meneriaki Juan barusan, Azriel berjalan cepat dan membuka kotak itu. “Zriel…” Sama seperti reaksi pertama Juan, Azriel hanya terdiam. “Lo jangan langsung emosi. Sumpah. Kita harus tanyain ini baik – baik.” Sekarang giliran pemberitahuan pesan masuk dari w******p dengan nomer tanpa nama di ponsel Azriel. Dengan tarikan nafas, ia memberanikan diri membukanya. Dan benar saja, sebuah foto kembali dikirimkan. Kimi’s Coffee, Kemang. Sekarang. Kemudian Azriel membuka aplikasi LINE di ponselnya hingga terhubung dengan seseorang. “Al, cepet ke rumah gue. Sekarang.”  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN