Sembilan Belas

1203 Kata
“Gila emang keren banget lo, Bang!” “Makin lama makin keliatan dah masa depan lo cerah, Rel.” “Awalnya idola, siapa tau suatu saat nanti jadi saingan nya Chris Martin ya, Bang.” Karel baru saja selesai tampil dan sedikit berbincang dengan rekan satu band nya. Setelah itu, ia pamit pulang duluan untuk menghabiskan waktu bersama teman – teman nya ini. Azriel, Aldi, dan Juan terus menerus memuji Karel dengan kata – kata pujian yang tiada habisnya. Bagaimana mau berhenti berkata - kata ketika mereka sangat bangga melihat teman nya di atas panggung tampil dengan orang – orang di hadapan nya yang ramai dan ikut menyanyikan lagu mereka dengan kencang dan gembira. “Meza mana?” Tawa Azriel luntur ketika mengingat kejadian pada hari itu. Dirinya kembali memikirkan tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Meza. Bahkan sekarang Azriel bingung, dirinya marah dan kesal yang bersamaan atau kecewa karena telah dibohongi selama ini. Perasaan itu membawa Azriel ke ingatan dimana dirinya pertama kali bertemu Meza dan berusaha memahami setiap kejanggalan yang ada pada diri perempuan itu seolah semuanya akan baik – baik saja. Seolah persahabatan ini tidak akan mencapai esuatu yang perlu pendiskusian seperti ini. “Pergi sama bokapnya,” timpal Juan tersenyum dan kemudian merangkul bahu Karel yang dipunggungnya membawa gitar. Karel berhenti dan kemudian menoleh. “Bukan nya dia bilang engga bakal ada acara, ya?” “Tiba – tiba, Rel.” Aldi melihat keheranan di wajah Karel. “Mungkin kali ini gapapa dia “enggak ikut dulu.” Juan menyengir. “Yang penting  masih ada kita, kan?” Ketika lanjut berjalan, Karel kemudian berhenti, membuat yang lain spontan ikut berhenti. Kemudian Karel menatap ketiganya satu persatu. Ia memperhatikan dari Juan yang menyengir konyol, ada Aldi yang canggung seperti menutupi sesuatu, dan Azriel yang jelas – jelas tidak seperti biasanya. “Tolong,” lalu Karel menghembuskan nafasnya berat. “Ada apa sih?” Aldi tertawa kecil lalu menggeleng. “Enggak ada apa – apa, Bang.” “Udah ayo kita langsung jalan aja. Gue udah laper nih.” ujar Juan dengan santainya kembali berjalan dengan memegangi perutnya. Masih tetap mendapat tatapan bertanya – tanya dari Karel, akhirnya Azriel mengangguk. “Ada yang harus kita omongin.” *** "Pesen menu biasa ya Bang, lima porsi." "Lima?" Kemudian Aldi yang lebih dahulu sadar pun menepuk pundak Karel dan tersenyum. Bahkan seorang Juan bisa merasakan seberapa besar kekecewaan Karel karena ketidahadiran Meza pada saat ini. Diawali dengan kekehan kecil, kemudian Aldi menjawab. "Eh iya Bang maksudnya empat. Ini si Karel abis manggung, jadi tiba-tiba enggak bisa ngitung." Mungkin terdengar sepele, tetapi bagi Karel, setiap orang yang pernah datang ke hidupnya dan telah ia percayakan sebagai teman, harapan jauh di lubuk hati yang terdalam hanyalah tetap di sini, selalu ada buat gue. Hidup ini bagaikan sebuah rumah. Banyak sekali orang yang berlalu lalang, keluar masuk melewati pintu seenak mereka. Karena mereka tidak tahu, bahwa sebenarnya ada seseorang yang mengharapkan ada individu yang menghuni rumah itu. Memilih selalu di sana, tanpa iri dengan kenyamanan di rumah yang lain. Dan bagi Karel, keinginan yang selalu ia utarakan setiap ditanya pada acara ulang tahun nya cuma satu, lo bertiga jangan pernah berani pergi dari hidup gue. Walaupun sehabis mengucapkan itu ia tidak bermenye-menye memeluk ketiga teman nya, melainkan kembali menjadi sosok Karel yang cuek dan dingin. Tetapi Aldi, Azriel, dan Juan paham betul, Karel adalah sosok dari jiwa rapuh yang terbentengi oleh tubuh yang kuat. Di tengah perbincangan malam mereka yang selalu tidak jelas membahas apa dan ke arah mana, kedua mata Karel bertumpu pada Azriel yang sedari tadi hanya menunduk dan memainkan nasi miliknya. Azriel lah seseorang yang sama sekali tidak bisa berpura-pura dirinya baik-baik saja di saat kenyataan bertolak belakang. "Yaudah," Karel berhenti makan, lalu meletakan garpu dan sendok nya di piring dengan lauk  nya yang masih banyak. "Ada apa sama Meza?" Semilir angin malam menari, menggelitiki kulit  ketiga laki-laki tanpa berbalut jaket yang sedang makan nasi goreng di pinggir jalan. Hanya Karel yang merasa hangat dengan jaket iconic miliknya itu. "Lo yakin mau denger, Rel?" tanya Azriel. Juan menutup wajahnya dan Aldi mencoba untuk meneruskan makan nya dengan menghiraukan obrolan yang akan dimulai sebentar lagi. Karel mengangguk mantap. "Apa yang terjadi?" Kemudian Azriel meletakan waist bag nya di atas meja dan mengeluarkan foto-foto yang sampai ke rumahnya tadi sore. "Itu bukan Meza kayaknya." sahut Juan. Karel menggigit bibir bawahnya. "Lo punya keterangan lebih lanjut tentang ini?" Juan bangkit dari duduknya. "Cuy, udah. Palingan ini akal-akalan orang yang enggak suka sama Meza biar kita jauhin dia." "Enggak mungkin kan Meza pacaran sama Rivan? Jelas-jelas kita udah kasih tau dia semuanya. Mungkin mereka ada urusan yang emang enggak seharusnya kita tau." tukas Aldi. Berusaha menjernihkan pikiran, Karel berdiri dan merapihkan barang bawaan nya. Ketika Karel mengeluarkan uang dari dompetnya dan selesai membayar, ia kembali menghampiri meja teman-teman nya. "Kita omongin ini di mobil." Setelah masuk ke dalam mobil dengan Juan yang menyetir ditemani Aldi di samping nya, di belakang ada Karel yang memijat dahi nya bersama Azriel yang terus memandangi foto itu. Sepanjang perjalanan, keempatnya masih terdiam dengan pikiran masing-masing. Hanya suara dari radio yang mengumandangkan lagu-lagu kesukaan mereka di setiap perjalanan lah yang memecah keheningan di dalam mobil malam itu. "Gue emang merasa bahwa Meza merahasiakan sesuatu dari kita. Tapi gue enggak nyangka kalo itu menyangkut hubungan dia sama Rivan." kata Karel. Aldi berdecak. "Meza enggak mungkin pacaran sama Rivan. Setahu gue Rivan itu lagi sama Selly." "Enggak menutup kemungkinan orang kayak gitu buat selingkuh." jawab Karel kesal. Juan membalikan tubuhnya. "Demi apa lo percaya sama semua ini, Rel? Lo percaya Meza kayak gitu?" "Oh jadi lo berdua pikir gue sebodoh itu buat percaya sama ini dengan gitu aja?" Azriel pun tersulut karena merasa dipojokan. "Kalo gue bilang gue punya bukti lain nya, lo mau apa lagi?" Aldi memukul stir dengan keras sehingga membuat semuanya tersentak. "Kita enggak seharusnya berantem kayak gini, kita bisa nanyain ke Meza baik-baik pas dia pulang." Melihat Karel kembali memandang Azriel, ia paham bahwa Karel ingin mendengar kelanjutan nya. "Gue udah coba menyelidiki, dan mereka emang enggak pacaran," ucap Azriel. Sadar bahwa Juan dan Aldi ingin menyela pembicaraan Azriel, Karel langsung membentak. "Lo berdua diem!" "Mereka kakak adik. Saudara kandung." Tepat ketika memasuki terowongan, Aldi yang kaget pun mengerem dadakan, membuat beberapa mobil di belakangnya membunyikan klakson. "Mezania Salsabila Hadiredjo, kan?" kemudian Azriel menunjukan foto sebuah kartu pelajar di layar ponsel nya. "Yap, Rivan Malik Hadiredjo." Ketika sudah mendengar penjelasan yang Azriel simpulkan, karena tidak mau berakibat fatal pada mereka semua yang diluar kendali, akhirnya Karel menyuruh Aldi untuk mengambil parkir di salah satu tempat makan terdekat yang buka selama 24 jam. "Yaudah sekarang kita semua enggak berhak emosi, ok? Nanti pas ketemu Meza, kita tanyain baik-baik." kata Karel berusaha menenangkan semuanya. Azriel mengusap wajahnya. "Gue enggak janji akan memperlakukan Meza sama seperti sebelumnya." "Masalah lo kan sama kakaknya, Zriel. Meza enggak salah apa-apa." "Lo bisa ngomong kayak gitu karena bukan kakak lo yang hampir mati gara-gara disakitin sama cowo kayak gitu, Al." Selesai melewati hari yang berat, mereka akhirnya memutuskan untuk menghabiskan malam mengobrol tanpa henti mengunyah makanan.   Memang berat bagi seorang Azriel karena berurusan dengan Rivan lagi, tetapi mau tidak mau, ia harus menghadapi ini semua. Bukan lari dari masalah. Meskipun wajahnya kembali menjadi Azriel yang ceria dan bisa tertawa karena candaan garing Juan, tetapi ia masih memikirkan bagaimana Meza mengecewakan nya kali ini. Ponsel Karel yang ditumpuk di tengah meja bersamaan dengan ponsel lain nya tiba-tiba bergetar. Dan mau tidak mau Karel harus mengambilnya untuk membalas pesan yang siapa-tahu-penting. Tegar P: Temuin gue besok pulang sekolah. Tegar P: Sendirian. Tegar P: Atau studio lo gue hancurin. "Sialan," umpat Karel. "Kenapa, Bang?" tanya Juan sambil mengoleskan saus ke kentang goreng miliknya. Karel meletakan kembali ponselnya dan kemudian berdiri. "Gue mau pesen coca cola lagi."  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN