Sepuluh

974 Kata
“Coba jelasin Meza kenapa kamu melakukan hal sebrandalan itu?” Meza yang berada di ruang keluarga hanya bisa duduk diam dan menunduk  sementara di depan nya persis ada laptop yang menyala dan menampilkan wajah Reno—Papa Meza—dengan latar belakang ruangan kantor nya dan sebuah jam dinding yang menunjukan pukul sebelas malam. “Rivan, kamu yang ajarin adik kamu?” Bahkan sebelum Reno sempat bertanya, Rivan sudah tahu bahwa pertanyaan inilah yang muncul pertama kali. Kakak di mata Reno adalah sebuah figure yag menjadi panutan dari perilaku yang dilakukan adiknya. Padahal Reno tidak tahu bahwa jika dirinya kerja keluar kota, Rivan dan Meza tidak seakur itu. Rivan melirik Meza dengan kesal. “Enggak, Pa.” “Papa lagi meeting dan tiba – tiba ditelfon Pak Ramli katanya ada siswa yang melihat kamu datang ke sekolah pagi itu. Namun, kamu tidak hadir di kelas dan tanpa keterangan, alias bolos. Dan salah satu siswa lain nya menjawab bahwa dia melihat kamu memanjat pohon untuk keluar lewat pagar belakang sekolah.” Reno memijat dahi nya. “Kamu tuh di sekolah bergaul nya sama siapa sih?” Dalam keadaan seperti ini, Meza hanya bisa tetap diam. Meza paham sekali bahwa ini bukan salah Reno yang bawel, tetapi memang sudah kewajiban sebagai seorang bapak yang menjaga anak nya dan sekaligus wujud dari perhatian dan rasa kasih sayang terhadap keadaan anaknya. Terlebih lagi, ini menyangkut sekolah dan pendidikan. Reno adalah seorang kepala keluarga yang sangat menuntut pendidikan yang baik untuk anak – anak nya. Selain itu, ia tidak pernah melarang anak nya bermain dengan siapapun selagi ia memberi dampak yang baik bagi anaknya, bukan sebaliknya. Dan bila ada masalah tertimpa oleh anak nya, beginilah Reno. “Rivan jawab,” Reno menatap nya lekat – lekat. “adik kamu bergaul sama siapa aja di sekolah? Sebut nama nya satu persatu.” Meza yang memicingkan mata nya berharap agar Rivan bisa membantu nya kali ini. Tapi Meza tahu, itu mustahil. Apalagi Rivan juga tidak suka dengan teman – teman Meza. “Azriel, Aldi, Juan, dan Karel, Pa. Semuanya junior Rivan di Jaya Wijaya.” perjelas nya. “Sebentar,” Reno mengerutkan dahi nya heran. “sejak kapan kamu Meza main sama perkumpulan laki – laki dan kamu perempuan sendiri?” “Dari awal masuk, Pa.” Rivan yang menjawab membuat Meza menoleh. “Sewaktu SMP juga mereka udah terkenal enggak baik. Dan Rivan udah peringatin Meza buat jauh – jauh dari mereka.” Mengingat SMP, Meza pernah melihat Rivan berada di posisi nya seperti sekarang. Duduk diam menunduk dengan wajah babak belur. Dimana Reno yang juga sedang di luar kota tiba – tiba pulang ke rumah karena mendapat kabar bahwa Rivan berkelahi di sekolah. Namun ketika saat itu Meza berbeda sekolah dengan Rivan, Reno tidak mengikutsertakan Meza pada interogasi nya dan Meza juga merasa tidak peduli dengan Rivan karena hubungan mereka sudah tidak baik. “Meza, listen, yang harus kamu lakukan adalah jauhi mereka karena Papa enggak mau dapet kabar yang enggak baik lagi tentang kamu. Di sekolah tugas kamu itu belajar. Jangan berulah.” tegas Reno yang kemudian di jawab dengan anggukan kepala Meza. “Dan karena Papa enggak mau kejadian seperti ini terulang lagi, jadi hukuman nya … kamu enggak boleh pulang lewat jam lima sore. Dan apabila melanggar, Rivan juga Papa hukum karena harus memastikan adik nya sudah ada di rumah dan baik – baik aja.” perjelas Reno yang sekarang seperti sedang menulis sesuatu di kertas. Rivan yang tentu saja keberatan menatap Meza dengan tatapan sangat sinis sampai Meza saja rasanya sangat ingin keluar dari rumah yang terlalu melindungi dirinya ini sampai Meza bahkan tidak bisa bergerak dan menghirup nafas bebas. “Kalian itu kalau pulang sekolah bareng, kan?” tanya Reno dengan nada suara nya yang terdengar heran. Tanpa menunggu, Rivan menangguk.”Berangkat juga, di sekolah juga, pergi juga. Kita bareng terus kok, Pa.” “Meza, liat Papa.” Karena suara Reno yang menggertak, Meza terguncang dan langsung menatap lurus ke layar laptop. “Salah satu nya ada yang pacar kamu, ya?” Meza langsung menggeleng cepat. “Enggak, Pa. Temenku semua.” “Mulai besok, diantara mereka, udah enggak ada yang boleh jadi temen kamu lagi.” ucap Reno dengan menekankan tiap kata nya. Kemudian Meza bisa merasakan air mata yang tergenang di pelupuk mata nya. Meza berusaha agar Reno bisa lebih memaafkan kesalahan nya ini, tetapi ternyata persis seperti pribahasa setitik nila merusak air s**u sebelangga. Bahkan Reno tetap diam melihat Meza yang mulai mengusap air mata yang terjatuh di pipi nya. Reno menyandarkan tubuhnya pada kursi. “Meza, kamu harus Papa tegasin biar enggak akan ngulangin hal bodoh lagi.” Lalu Meza langsung berlari masuk ke kamar nya dan terduduk sambil masih terisak tangis. Bisa terdengar juga suara Dini yang diajak bicara oleh Reno. Dan di saat – saat seperti inilah hanya satu yang Meza rindukan, sosok Bunda nya. “Kayak satu sekolah yang bisa lo jadiin temen cuma mereka aja sih.” Rivan yang tiba – tiba bersandar pada dinding pintu membuat Meza balas menatapnya. “Lo bisa nggak sih sehari aja enggak bikin gue kesel?” “Ya lo bisa nggak sih berhenti nyusahin gue?” ucap Rivan yang makin tersulut. “Kalo bisa milih malahan gue enggak mau tinggal serumah sama orang kayak lo, Rivan!” teriak Meza dengan keras tanpa memperdulikan air mata nya yang terus mengalir. Lalu Rivan membanting pintu kamar Meza. “Gue masih mencoba buat nasehatin lo tapi lo yang didiemin  lama – lama emang makin enggak ngehormatin gue!” Setelah itu, Dini pun datang dan menatap heran kedua ponakan nya. Semakin lama ia tinggal dengan Meza dan Rivan, semakin takut ia nanti mempunyai keluarga karena khawatir dengan apa yang akan terjadi nanti nya. “Kalian enggak bisa terus – terusan kayak gini.” ucap Dini memandang Rivan dan Meza. Namun tidak mau dinasehati lebih lanjut lagi—karena merupakan salah satu hal yang tidak disukai Rivan—ia memilih untuk berlalu ke kamar nya tanpa mengucap sepatah kata pun. Sementara Meza masih terduduk di kasur nya, terdiam, berusaha mengatur nafas nya agar bisa lebih tenang. “Tan, please leave me alone.” Dini pun mengangguk dan menutup pintu kamar Meza perlahan. Dengan sisa tenaga nya, Meza mengambil ponsel yang ada di atas nakas nya. Setelah memencet salah satu kontak nya, ia menunggu sampai sambungan telfon diangkat. Dan dengan satu tarikan nafas, akhirnya Meza memulai pembicaraan. “Zriel, bisa gue cerita sekarang?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN