Triple J: Ketemuan di mana bang?
Karel: jemput gue di studio
Alvaro Renaldi: Rumah tante gue ya
Azriel H: Mez mau gue jemput ga?
Karena Meza baru membuka ponsel nya, Meza baru membaca deretan pesan yang mereka kirimkan tadi pagi. Malam sebelumnya, grup chat sedikit menyinggung soal apa yang akan mereka lakukan hari ini.
Dan kali ini rencana mereka cukup membuat Meza menggelengkan kepala. Jadi, mereka berniat untuk bolos sekolah dan pergi ke Bandung karena apa alasan jelas nya Meza tidak tahu. Tetapi Meza merasa bingung, kenapa mereka berfikir kalau Meza akan melakukan hal senekat itu? Bahkan di SMP nya dulu, anak yang paling bandel pun data kehadiran nya masih selalu terisi penuh tanpa embel – embel ‘titip absen’.
Menurut Meza, yang ingin mereka lakukan juga ujung – ujung nya wacana.
“Hati – hati ya, Dek.”
Setelah salim dengan Dini, Meza turun dari mobil persis di depan gerbang sekolah. Dan karena beberapa menit lagi sudah bel, para siswa yang baru datang sangat ramai sampai membuat barisan panjang untuk menyapa atau memberi salam para guru sebelum memasuki lorong kelas.
Meza berjalan dengan santai sambil menoleh ke kanan dan kiri untuk melihat kondisi sekitar sekolah. Masih sama saja, setiap pagi sekolah tampak membosankan dengan wajah – wajah teman yang masih kusut sebagai tipe – tipe orang yang malas bangun pagi dan tidak niat merangkai masa depan.
Tetapi ketika ponsel di saku seragam nya bergetar, Meza berhenti di tengah lorong dan mengambil nya. Dan alangkah heren nya ketika melihat nama Alvaro Renaldi yang ternyata menelfon nya.
Meza menghela nafas. “Kenapa, Al?”
“Lo dimana si?” suara nya terdengar jengkel.
“Sekolah lah.”
“Cepetan ke pager belakang.”
“Ngapain?” tanya Meza heran.
Aldi berdecak. “Jangan banyak nanya, cewe. Buruan.”
Sementara sambungan telfon diakhiri secara sepihak, mau tak mau Meza berbalik arah dari yang seharusnya menuju kelas justru pergi ke pagar belakang sekolah.
“Ih lo ngapain pake seragam?”
Meza hampir saja terjungkir balik ke belakang karena kaget melihat Aldi yang tiba – tiba dengan santai nya duduk di atas pohon dengan pakaian bebas.
“Eh malah bengong,” Aldi menjentikan jari nya. “buruan naik.”
“Naik?!?” ujar Meza heran.
Aldi menghembuskan nafasnya berat. “Ayo ikut cabut, Mez.”
Mendengar tujuan Aldi di balik disuruhnya ia ke pagar belakang, Meza langsung menggeleng. “Gue enggak berpengalaman kayak gini.”
“Buat ini jadi pengalaman baru, Mez. Kapan lagi, yakan?” ucap Juan yang muncul dari belakang Aldi sehingga membuat nya hampir jatuh karena kehilangan keseimbangan.
“Enggak mau.” tolak Meza dengan bibir yang dimanyunkan.
Berkali – kali Aldi mencoba membujuk Meza, sampai akhirnya suara bel berbunyi.
Karena kesal, Aldi memutarkan kedua bola mata nya. “Lo mau naik atau gue cium?”
“Ih apaan sih?”
“Nanti gue ke rumah lo dateng bawa pisang sebanyak – banyak nya beli di Pasar Induk, mau? Nanti seluruh isi kamar lo gue penuhin dengan gambar pisang, mau?”
Tadinya, Meza tetap mau mengeles dan mencoba keluar dari permainan Aldi. Tetapi mengingat teman – teman nya ini yang ternyata senekat itu, berarti bisa saja mereka akan melakukan apa yang mereka ucapkan tanpa berfikir dua kali lagi.
“Satu..”
Dan munculah satu pesan dari layar ponsel di genggaman nya yang membuat tenggorokan Meza tercekat.
Karel: pilih ikut atau gue bocorin rahasia lo?
~*~
“Ini untuk pertama dan terakhir.”
Semuanya menoleh kepada Meza yang masih menggerutu karena dirinya yang harus naik pohon dan turun pohon membuat kulitnya terluka karena tergores batang pohon dan tadi telah membuat mereka harus berhenti di mini market untuk membeli minyak kayu putih.
Di depan ada supir Juan yang menyetir dengan Karel di samping nya, di tengah ada Azriel dan Meza, dan di belakang ada Aldi yang frustasi karena harus memangku kaki Juan yang dengan santainya tiduran sambil memakan cemilan dan bermain ponsel.
Azriel menyengir kepada Meza. “Mez, cabut tuh seru! Nikmatinlah masa – masa SMA, mencari kebebasan sebelum nanti sibuk kuliah.”
“Masalahnya tadi gue udah dateng ke sekolah dan beberapa orang udah liat gue.” ucap Meza kesal.
“Siapa suruh masuk? Kan udah diomongin dari semalem.” timpal Karel tanpa menoleh ke belakang.
Meza masih heran dengan apa maksud dari ‘rahasia’ yang telah Karel tahu. Lagipula, sikap nya yang dingin dan cenderung lebih suka diam membuat sesekali Meza merasa bahwa Karel yang paling memperhatikan dan tiba – tiba tau semua nya.
Sekarang giliran Juan yang memberi pertanyaan. “Apa yang lo sukain dari Bandung?”
“Cowo ganteng.” jawab Meza dengan cepat.
Aldi tertawa. “Siapa yang ganteng? Tukang cireng? Tukang mochi?”
“Karel,” tukas Meza sambil senyum.
Karel langsung menoleh ke belakang dan yang lain nya meledeki Karel yang tetap saja sok keren dengan berekspresi hanya melempar senyum nya. Jikalau Meza menjawab ‘Juan’, akan beda lagi cerita nya.
Juan tersenyum lebar. “Iya bener! Karel emang produk Bandung punya.”
Kemudian Meza menggeleng. “Eh bukan,” semuanya pun terdiam. “maksud gue tadi mau ngomong, ‘Karel, tolong ambilin tisu’ tau.”
Azriel yang ada di belakang Karel pun menepuk bahu nya dengan kekehan kecil. “Maaf ya bang hidup emang enggak selalu di atas. Belajarlah sama hamster yang tidak pernah menyerah berlari di atas roda walaupun ia tidak tahu apa yang akan didapatkan nya.”
Dan Meza merasa bahwa analogi yang diberikan Azriel mengenai hamster yang tidak berhenti berlari lebih cocok diucapkan apabila lawan bicara sedang menyerah.
“Yang gue suka dari Bandung itu Ridwan Kamil.” Aldi melipat kedua tangan nya. “Walikota tergaul sehingga bahkan gue rela jadi anak angkat nya.”
Ngomong – ngomong, Meza merasa bangga dengan teman nya ini. Mereka pergi ke luar kota masih dengan supir yang menyetir mobil dikarenakan belum ada yang memiliki SIM. Jika mengingat di jaman sekarang, bahkan sudah banyak sekali remaja yang tanpa merasa bersalahnya menyetir terutama jarak jauh, tetapi tetap pede walaupun belum mempunyai SIM.
“Nanti yang dapet SIM duluan siapa?” tanya Meza.
“Bang Karel, lah!” jawab Azriel sambil mengguncangkan jok Karel.
“Gue bisa aja duluan,” Aldi membuat Meza menaikan satu alisnya. “tinggal nembak SIM sekarang mah gampang, Mez!”
Karena mencium bau teman nya ingin melanggar peraturan, Juan mengangkat tangan nya dengan bentuk menyilang. “Sebagai anak bapak polisi,” Juan menghela nafas. “gue sangat melarang perbuatan lo Al karena melanggar peraturan!”
“Tenang Ju,” Karel tersenyum miring. “Gimana bisa dia nembak SIM kalo nembak cewe aja gak pernah bener?”
Sepanjang perjalanan, mereka menghabiskan waktu dengan bernyanyi—yang seperti biasa diiringi nada dari petikan senar Karel—setidakjelas mungkin tanpa memperdulikan supir Juan yang sepertinya terlihat terganggu. Sesekali mereka saling berebut cemilan dan tetap memperbincangkan hal – hal yang tidak penting.
Sampai akhirnya, mereka berhenti di sebuah tempat di mana tertutupi oleh keramaian. Meza yang selama di perjalanan tetap diberi tahu kemana tujuan mereka hanya bisa ikut turun dari mobil.
Grand Opening Warung Anak Betawi
Hanya dengan membaca tulisan pada spanduk besar itu, Meza langsung yakin bahwa restoran itu adalah milik keluarga Juan. Tanpa lama lagi, Azriel, Karel, dan Juan langsung berjalan menerobos kerumunan orang yang sedang berbaris di antrian.
Aldi yang tiba – tiba memegang pergelangan tangan Meza membuatnya menoleh. “Pegangan, nanti ilang.”
Dan karena di tengah keramaian melihat hanya Meza yang masih memakai seragam sekolah putih abu – abu tanpa balutan apa pun, Karel yang memakai sweater itu melepas nya hingga menyisakan kaos polos berwarna putih yang membentuk tubuh nya.
“Nih pake,” Karel menyodorkan nya kepada Meza. “tenang, keringet gue keringet seniman.”
“Astagfirullah!! Yaampun anaak – anaak!”
Dari beberapa langkah di belakang, Meza melihat bagaimana ekspresi kagetnya Markonah—Ibu Juan—ketika melihat anak nya bersama teman teman nya datang ke acara peresmian restoran nya di hari sekolah mereka. Terlihat di mata nya juga bahwa Markonah terharu sekaligus tidak menyangka.
Markonah merangkul Juan. “Bandel kalian ya cabut sekolah.”
“Surprise!” Juan mencium ibu nya. “Abis ini kita mau jalan – jalan ya, Bu.”
“Naik mobil dong jangan jalan.” Markonah menyengir meledek dan sedetik kemudian mengingat sesuatu. “Eh ini ada yang mau orang tua nya tante kabarin nggak kalo anaknya lagi sama tante?”
“Mez?” tanya Azriel menunggu jawaban Meza.
Tidak mau merepotkan dan memang sepertinya tidak akan terjadi kekacauan yang fatal, Meza menggeleng dan tersenyum simpul. “Enggak apa – apa, Tante. Nanti aku aja yang kabarin.”
Acara peresmian restoran pun dimulai. Dan bukan hanya orang tua Juan saja—khususnya sang ibu—yang terlihat bahagia dengan apa yang terwujudkan ini, tetapi pandangan mata Juan yang berbinar – binar itu sirat akan makna tentang seberapa bangga nya Juan kepada malaikat tak bersayap itu. Juan tak sekalipun menggerakan pandangan nya ke arah yang lain kecuali melihat Markonah yang berbicara di depan ratusan para pengujung yang datang.
Setelah acara selesai, Viva La Vida diajak makan siang bersama orang tua Juan dengan berbagai hidangan yang hanya dengan melihat nya saja membuat siapapun langsung merasakan perut nya sudah kenyang.
“Jadi … Juan gimana cewe nya di sekolah?”
Juan yang sedang mengunyah pun kaget soal pertanyaan yang dilontarkan begitu saja tanpa rasa bersalah dari ayah nya.
Aldi menunjuk tangan nya sebagai pertanda bahwa ia yang akan menjawab pertanyaan. “Begini Om,” Aldi tersenyum licik kepada Juan. “Juan selalu dianggap enggak pernah serius sama cewe.”
“Daripada lo cewenya banyak dimana – mana, setiap kelas perwakilan satu udah kayak mau daftar OSIS.” jawab Juan melempar kerupuk kepada Aldi.
“Waduh ampun deh abang – abang yang punya cewe.” ujar Azriel sambil mengangkat tangan nya.
Karel mendecak. “Ya lo siapa suruh kebanyakan kriteria. Mau cari pacar apa cari pegawai perusahaan lo nanti?”
“Eh Rel, buka hati aja dulu. Bisa nggak?” sindir Meza. “Bisanya cuma buka buku partitur ya?”
“DASAR GAGAL MOVE ON!”
Dan teriakan mereka berempat membuat orang tua Juan tertawa begitupun Meza yang terdiam menahan tawa dengan pipinya yang memerah karena malu. Selain itu juga beberapa pengunjung yang masih menghabiskan makanan nya sempat melirik ke arah meja mereka, karena pasti terlihat seaneh itu.
“Ayo kita bertamasya dadakan!”
Mendengar tamasya, semuanya pun tampak bahagia. Lalu di saat jamuan makan mereka akan selesai, ponsel di saku rok Meza bergetar membuat Meza sedikit mengeluarkan nya dari rok dan membaca sebuah pesan yang muncul dengan jelas di layar.
Tante Dini: Meza, tante tunggu di rumah.
Setelah mengajak, Juan yang sudah berdiri di susul yang lain nya membuat Meza memasukan kembali ponsel nya ke dalam rok tanpa memikirkan apa yang akan terjadi pada dirinya di rumah. Walaupun Meza tahu, bahwa yang akan dibahas oleh Dini adalah tentang ketidakhadiran nya di sekolah pada hari ini.
Ketika Meza hendak berdiri dari kursinya, Aldi menahan pergelangan tangan nya. “Mez,” wajahnya tampak khawatir. “everything’s fine?”
Meza menyunggingkan senyum lebar nya dan menangguk.