Delapan

1298 Kata
Karena mendengar suara keras dari barang pecah belah yang terjatuh, Meza terbangun dari tidur lelap nya di saat tengah bermimpi bertemu dengan Lionel Messi di rumah makan padang dekat rumah nya. Tolong jangan protes, namanya juga mimpi. Setelah mencoba mengumpulkan nyawa dengan duduk di atas kasur sambil diam dengan mata yang masih terpejam, mau tidak mau, Meza dengan langkah yang lunglai beranjak dari tempat tidur nya dan membuka tirai jendela asal. Merasa seperti tersandung oleh sesuatu sehingga mengakibatkan dirinya jatuh dari tangga, Meza mengucek kedua mata nya karena tertegun melihat bagaimana kondisi langit pada saat itu yang tampak cerah dengan sinar matahari yang sudah cukup terik. Dan selanjut nya dengan perlahan tapi pasti, Meza mulai memutarbalikan tubuh nya untuk melihat jam dinding yang terletak di atas tempat tidur. Yang terjadi selanjut nya adalah Meza menepuk dahi nya karena jam sudah menunjukan pukul sepuluh pagi. Dan ketika mencoba mengingat apa yang akan dia lewati di sekolah hari ini, Meza mengacak rambutnya frustrasi karena seharusnya hari ini adalah jadwal ulangan harian ekonomi dan mengumpulkan tugas pelajaran sosiologi. Mungkin saat ini dewi fortuna sedang tidak berpihak kepada Meza dan membuat nya harus belajar dengan benar untuk susulan ulangan di ruang guru. Meza yang tadi nya sedang duduk di kursi depan meja belajar dengan menatap kosong layar laptop yang masih menyala terang dari semalam pun teringat dengan apa yang membuat nya terbangun. Suara pecahan yang bahkan lebih berefek pada diri nya dibandingkan alarm ponsel. Kemudian Meza yang memegang hanger dari kamar nya pun perlahan keluar dari kamar dan untuk berjaga – jaga jika ternyata rumah nya dimasuki maling. Dengan berlari kecil menuruni tangga, ia pun melangkahkan kaki nya menuju dapur.                                                                                                           Tetapi untung nya bukan orang jahat yang terpergok oleh Meza, tapi justru ia melihat Dini yang sedang membersihkan pecahan kaca di lantai. “Tante?” panggil Meza heran. “Kok aku enggak dibangunin?” Dini yang baru sadar kehadiran Meza pun menoleh dan kaget karena Meza berdiri di hadapan nya dengan wajah bête dan masih berpenampilan acak – acakan. “Tadi kata nya abang, kamu udah berangkat.” “Ih!!!” Meza menggerutu kesal. “Dia tuh yang terus – terusan bikin hubungan makin enggak harmonis, Tan.” Mencoba untuk mengerti Meza, Dini hanya diam dengan memperhatikan Meza. Lalu sementara Meza paham bahwa tante nya secara tidak langsung meminta dirinya untuk tidak kekanakan, ia menghela nafas mengatur kemarahan nya,. "Terus ini kenapa, Tan?" "Tadi tante mau ambil garam, tapi malah nyenggol toples kue." jawab Dini. Meza mengerutkan dahi nya. "Toples kue?” Meza tampak heran dengan kejanggalan ini. “Kok ada di lemari dapur yang atas?" Dan Dini menaik turunkan kedua bahu nya. "Nah makanya itu tadi tante juga bingung. Padahal kue kastengel nya masih banyak banget." Lagi - lagi Meza merasa bahwa darah nya mengalir lebih deras di tubuh nya. "Demi apa kastengel, Tan? Itu kan aku cari - cariin dari kemarin." "Yah Dek, kue nya tante buang. Abisnya tadi kan udah jatoh semua." ucap Dini dengan sedikit nada lirih. Tidak perlu waktu lama sampai otak Meza pun berjalan dan mengerti kejanggalan yang terjadi. "Pasti kerjaan nya Rivan lagi!" Meza menghentakkan kakinya dengan keras dan kembali berjalan menuju ke kamar. Hari ini, Rivan sukses membuat Meza sengsara. Pertama karena ia harus menjadikan Meza tidak masuk sekolah dan ulangan ekonomi susulan, juga mengenai kue Meza yang selama ini ternyata disembunyikan entah apa maksudnya. Lelah rasanya bagi Meza jika harus menggerutu, bersumpah serapah, dan terus merasa kesal dengan apa yang diperbuat oleh saudara kandung nya sendiri. Jadi, yang hanya bisa ia lakukan adalah sabar dan menerima takdir bahwa Rivan adalah kakak nya yang tidak sama sekali mengistimewakan dirinya seperti banyak kakak laki – laki yang ada di berbagai cerita fiksi remaja. Di tengah kegundahan, tidak ada hal yang bisa Meza lakukan selain memainkan ponsel nya. Maka dari itu, dengan malas – malasan, ia berusaha menjangkau ponsel nya. Dan tidak diherankan lagi jika ternyata pesan yang masuk adalah dari teman – teman sepermainan nya. Alvaro Renaldi: Meza enggak masuk tuh Azriel H: Meza sakit? Alvaro Renaldi: Enggak tau, dia enggak ngomong Triple J: Lo enggak di apa apain orang lagi kan, Mez? Azriel H: Woi @Mezania Karel: al pojokan cepet Karena bingung apa yang harus ia jawab karena pesan itu dikirim pada jam delapan pagi, Meza berniat untuk kembali tidur dan bermimpi bertemu dengan orang tampan lain nya atau bahkan bisa melanjutkan mimpi nya melihat Lione l Messi makan ayam sayur pake bumbu rendang dan daun pepaya. Tetapi niatnya terbatalkan ketika ponselnya bergetar dengan nama Alvaro Renaldi yang terpampang jelas di layar. “Gue cuma kesiangan.” ucap Meza sebelum Aldi sempat bertanya. “Gue sama anak – anak mau ke rumah, bisa?” Walaupun Aldi tidak bisa melihat nya, tetapi Meza menggeleng. “Eh enggak bisa, Al.” “Gue aja deh.” ujar nya dengan nada suara memohon. Meza terdiam sejenak dan akhirnya melanjutkan. “Gue mau pergi soalnya sama tante.” ~*~ Sekarang Meza sedang berbaring di sofa ruang tamu sambil menonton televisi. Meskipun pandangan nya tertuju pada layar televisi, tetapi Meza juga mendengarkan lagu di ponsel nya dengan suara yang cukup keras. Tapi entah apa yang Meza rasakan, itulah yang selalu ia lakukan. Kemudian saat Meza mengganti saluran, ia tersenyum melihat film kartun Spongebob Squarepants. Yang benar saja, setiap kartun pasti punya cerita dalam hidup semua anak – anak. Dan film kartun ini lah yang menemani Meza tumbuh besar dan menjadi tontonan rutin keluarga kecil mereka. Meza merindukan bagian yang telah hilang itu. "Meza, papa bilang jangan lupa makan. Ini makanan nya udah jadi." suara teriakan Dini dari dapur membuyarkan lamunan Meza. Lalu Meza bersiap duduk untuk menunggu makanan datang. "Bawa ke sini aja, Tan.” Tidak lama kemudian, Dini datang menghampiri Meza masih dengan memakai celemek dan membawa nampan dengan sepiring nasi goreng dan es jeruk lalu memberikan nya kepada Meza. Selama Meza menghabiskan makanan nya, ia kembali memikirkan tentang kakak nya yang tergabung dalam geng kakak kelas yang bermusuhan dengan Karel dan yang lain. Di lain sisi, hubungan kekeluargaan diantara Meza dan Rivan memang tidak baik, jadi bagaimanapun, Meza tidak akan berpihak pada Rivan. Ketika Meza sedang hanyut dalam pikiran nya, suara deruman mobil terdengar dari luar. Meza langsung meletakan piring makan nya di atas meja, siap untuk menghujani Rivan dengan ocehan nya. Dan dalam hitungan menit, seorang laki - laki tampan yang masih mengenakan seragam sekolah masuk ke dalam rumah. "Heh mau kemana lo?" Meza angkat bicara ketika Rivan hendak melewati diri nya untuk segera masuk ke kamar. Wajah Rivan yang tak pernah tersenyum kepada Meza tampak seperti biasanya. "Ya lo bisa mikir kan? Yakali gue mau ke pojokan bawah tangga.” Sadar karena maksud Rivan adalah menyindir dirinya, Meza pun berdiri dan mulai menatap Rivan dengan sinis. “Lo tuh maunya apa sih?” "Lo sering jahilin gue. Ya gue jahilin balik lah. Enak aja." Rivan memutar kedua bola matanya merasa jengkel. Meza sudah benar – benar kesal dan akhirnya menunjuk wajah Rivan."Gue gak bakal ngejahilin lo kalo bukan karena lo duluan yang cari masalah, Riv." "Gak pernah diajarin sopan santun?" Rivan menurunkan jari telunjuk Meza."Gue yakin papa bakal marah kalo gue aduin sikap lo yang makin urakan kayak gini karena main sama mereka." Bagaimana Rivan menekankan kata ‘mereka’ yang mengintimidasi membuat Meza melangkahkan kaki nya maju lebih mendekat ke Rivan. "Loh? Setidaknya mereka lebih bisa bikin gue bahagia daripada lo.” Rivan berdecak. “Gue kenal mereka bertahun – tahun lebih lama dari lo. Jadi jangan merasa kalo mereka segalanya bagi lo. Toh nanti juga ditinggalin.” “Kenapa sih semenjak kejadian itu lo terus kayak gini sama gue, Riv? Lo pikir emang gue juga enggak merasa bersalah? Justru gue yang paling merasa terpukul!” tukas Meza dengan suara yang kemudian menjadi pelan. Kemudian Dini keluar dari kamar mandi dengan wajah kebingungan melihat Rivan dengan tatapan kesal nya dan Meza yang menunduk dengan wajah pias nya. Kejadian seperti ini beberapa kali Dini lihat selama mengasuh mereka berdua di rumah, namun Dini tidak bisa ikut campur karena memang itu masalah mereka yang semakin dewasa harus bisa menyelesaikan sendiri. “Denger ya,” Rivan . “gue enggak mau satu pun orang di sekolah tau kalo gue sama lo ada hubungan darah.” Sementara Meza terdiam, Rivan pun masuk ke kamar nya dan menutup pintu dengan bantingan sampai suaranya sedikit menggema ke seisi rumah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN