Empat orang dewasa tengah duduk di kursi ruang tamu, keduanya saling menatap datar sang tamu, sedangkan dua lainnya mencoba untuk berbicara serius dan penuh kejujuran. Tak ada yang akan mereka sembunyikan demi melindungi orang yang mereka sayangi, Davika dan Peter duduk tegang menatap Aleya, sedangkan tatapan mengintimidasi dari Hania masih menjadi momok menakutkan dan ancaman. Tangan Peter dan Davika saling menggenggam, sudah saatnya mereka mengatakan apa yang selama ini ingin mereka katakan. Peter berdehem singkat, ia mendongak menatap tepat pada bola mata Aleya yang juga sedang menatapnya dengan tatapan datar, tak ada raut kemarahan, sebal ataupun lainnya, hal ini malah membuat Peter menjadi tidak enak hati, sebab putranya lah yang telah berbuat ulah dan menghancurkan hidup gadis itu.

