Acara Lelang Amal

1793 Kata
Hari minggu dilalui dengan mengantar keluarga Kiranti pergi mencoba dan mengukur jas dan gaun untuk keluarga mempelai. Tidak banyak hambatan berarti. Model jas dan gaun sudah ditentukan oleh Papa dan Mama. Jadi keluarga Kiranti hanya perlu melakukan penyesuaian agar jas dan gaun pas di badan. Setelah fitting pakaian. Dilanjutkan dengan jalan jalan keliling kota J. Makan siang bersama. Jam 3 sore mengantar Andi ke bandara. Jam 5 sore sudah sampai kembali ke rumah. Tapi setelah menurunkan Ayah dan Ibu. Erick langsung mengajak Kiranti agar pergi bersamanya. Kiranti yang bermaksud membersihkan diri dan beristirahat. Awalnya ingin menolak. Tapi Erick membujuk dan mengatakan tidak perlu membersihkan diri. Langsung saja ke acara yang diselenggarakan teman teman bisnis Erick. Erick memang meminta Kiranti menemaninya menghadiri suatu acara. Kiranti ingin protes karena tidak mungkin pergi begitu saja. Padahal mereka baru saja menghabiskan waktu hampir seharian. Melakukan hal hal yang diperlukan. Tentu saja keringat mulai membuat tubuh terasa gerah. Tapi Erick meyakinkan tidak masalah. Dan mereka pun langsung berangkat. Ternyata tujuan pertama mereka adalah salon dan butik kecantikan. Erick meminta agar Kiranti mendapatkan perawatan spesial. Kiranti dilulur seluruh badan dan wajah. Kemudian dimandikan oleh karyawan salon. Dan diminta mencoba beberapa gaun pesta. Setelah memilih dan memakai yang sesuai selera Kiranti. Wajah Kiranti dimake up dan didandani secantik mungkin. Memilih tas dan sepatu yang disesuaikan dengan gaun dan penampilan Kiranti. Memang makan waktu cukup lama. Karena perut Kiranti terasa lapar setelah semua selesai. Ternyata hampir jam 7.30 malam. Erick ternyata sudah siap dengan setelan jas pesta. Keduanya terlihat serasi. Dan di tangan Erick terdapat sekantong bungkusan makanan. Erick ternyata sudah makan. Dia pun meminta Kiranti makan dulu. Sekedarnya saja karena di tempat acara akan tersedia makanan juga. Kiranti pun memakan makanan yang boleh dianggap hanya cemilan saja. Lumayan pengganjal perut. Setelah makan sebentar. Mereka masuk ke dalam mobil dan berangkat menuju tempat pesta. Sebenarnya Kiranti bingung, pesta apa yang diadakan cukup malam. Jam 8 malam. "Om pesta apa sih kok mulainya jam 8 malam?" tanya Kiranti. "Pesta biasa. Kita yang terlambat acara sudah mulai jam 7 malam." kata si Om. "Dak apa apa kita terlambat?" tanya Kiranti. "Tidak masalah. Memang aku mau datang terlambat kok. Sebenarnya aku malas ke acara seperti itu." jelas si Om. "Lho kok gitu? Kalau dak suka mending tidak pergi Om." tanya Kiranti. "Sebenarnya aku malas pergi. Tapi tidak bisa tidak pergi. Jadi aku perginya selalu terlambat. Muncul di tengah tengah acara. Gitu sih." jelas si Om. "Acara apaan sih Om?" tanya Kiranti yang masih penasaran. " Nanti kamu lihat sendiri. Aku mau fokus nyetir dulu." ucap si Om. Keadaan pun hening. Kiranti baru ingat si Om tidak suka diajak bicara saat mengemudi. Tapi tumben si Om mau menjawab pertanyaan Kiranti sambil mengemudi tadi. Walau akhirnya kembali mode diam sambil mengemudi. Jam 8 lewat barulah mereka tiba di tempat pesta. Sebuah gedung mewah. Erick menggandeng tangan Kiranti. Berjalan pelan menuju tempat pesta. Di dalam ruangan pesta telah terdapat banyak orang. Hampir semuanya kalangan pengusaha. Meja dan tempat duduk telah hampir terisi penuh. Erick menuntun Kiranti menuju sebuah meja petak yang terdapat 2 kursi kosong. Di atas meja tersebut terdapat papan kecil bertuliskan Tuan dan Nyonya Erick W Gunawan. Kiranti bingung melihat papan tersebut. Darimana mereka tahu bahwa dia akan segera menjadi Nyonya Erick W Gunawan. Erick pun berbisik. "Jangan bingung. Semua papan bertuliskan nama secara berpasangan. Walaupun yang hadir single." Ternyata begitu. Erick dan Kiranti pun duduk di kursi. Semua meja menghadap ke depan. Di depan ada sebuah meja mimbar. Musik mengalun pelan. Para peserta pesta saling berbincang karena jarak antar meja tidak terlalu jauh. Ruangan yang sedikit temaram. Mendadak jadi terang. Kiranti melihat di kejauhan ada Pak Edison Wang dan juga Pak Leonard Wang. Walau hanya berjumpa sekali di klub malam dulu. Kiranti masih mengingat wajah mereka. Terlihat juga sepasang wanita dan pria. Sepertinya suami istri. Dan Kiranti ingat mereka teman Erick waktu di klub malam. Walau hanya jumpa sekilas dan tidak berkenalan. Ingatan Kiranti memang sangat bagus. Yang mengejutkan ternyata di samping Leonard Wang, ada Mbak Dian teman Kiranti dulu di klub malam. Kiranti yakin Leonard lah yang menebus Mbak Dian. Tapi kenapa dan bagaimana bisa? Nanti sajalah kalau ada kesempatan bertemu dan berbicara langsung dengan Mbak Dian. Kiranti hanya melambaikan tangan menyapa dari kejauhan. Mbak Dian pun membalas melambai disertai senyuman. Hanya itu yang dapat mereka lakukan saat ini. Seseorang menaiki mimbar. Kemudian keluarlah gambar melalui projektor di dinding depan. Gambar sebuah benda. Orang tersebut menyebut nomor benda dan menjelaskan benda yang ditampilkan. Dan kemudian menyebut harga awal benda tersebut. Para peserta mulai saling bersaing menawarkan harga mereka untuk mendapatkan benda tersebut. Si Om hanya diam melihat saja. Kiranti takjub akan harga awal benda tersebut. Dan semakin takjub ketika harga semakin naik. Kiranti menatap si Om. Terlihat wajah si Om hanya datar saja. Menandakan dia sama sekali tidak tertarik akan benda tersebut. Setelah dinyatakan terjual maka barang berikutnya diperkenalkan lagi. Ternyata ini sudah barang ke 37. Kiranti mengambil katalog di meja. Ternyata total ada 52 item yang akan dilelang. Bila ini nomor 37 berarti sudah lebih dari setengah acara. Dan ini terasa membosankan karena barang barang yang ditawarkan tidak menarik minat Kiranti juga. Maklumlah mana mengerti Kiranti akan barang antik dan barang seni. Sedangkan si Om saja tidak begitu antusias. Tapi mengapa si Om mau datang? "Acaranya membosankan Om." bisik Kiranti. Si Om tersenyum tipis. " Iya memang membosankan." balas Erick berbisik pula. "Kok Om mau ke acara begini? Mana ajak aku pula segala." tanya Kiranti sambil berbisik. " Nanti kamu tahu sendirilah. Kalau masih belum paham baru aku jelaskan." jawab Erick. Tentu dengan berbisik pula. Maklum acara ini mengharapkan ketenangan peserta. Kiranti tertidur ketika acara di item nomor 41. Menyandarkan kepala ke bahu si Om. Tiba di item nomor 49. Erick menepuk pundak Kiranti. Membangunkan Kiranti yang tertidur. Soalnya di item ini. Riko dan Rossa mulai bersaing dengan beberapa orang demi mendapatkan item nomor 49. "Eh kenapa Om?" gagap Kiranti yang dibangunkan Erick. "Sssstttt.. Lihatlah yang terjadi." bisik Erick. "Itu kan teman Om yang di malam itu." ucap Kiranti dengan volume suara kecil nyaris menggumam. "Iya." Erick menggumam pelan. Item nomor 49 berakhir dengan kekalahan Riko dan Rossa. Ada pihak lain yang menawar lebih tinggi. "Tahukah kamu kenapa saya ingin kamu melihat pelelangan item-item terakhir? Biasanya cukup seru. Banyak yang mau menunjukkan kemampuan mereka. Ada yang benar mampu. Ada juga yang hanya ingin terlihat hebat sebenarnya kosong." jelas si Om. "Begitu ya Om." sahut Kiranti. "Saya harus menghadiri acara ini karena sebagian besar yang ada di sini adalah relasi bisnis." jelas si Om lagi. 'Pantasan si Om datang walau dak suka' batin Kiranti. Kiranti hanya mengangguk. "Ini hanyalah acara pamer gengsi dan kekuatan saja. Tidak dengan niat beramal." lanjut si Om. "Saya tidak mengerti pola pikir mereka Om." ujar Kiranti. " Banyak yang hadir tidak dengan pasangan sah mereka. Banyak yang membawa simpanan atau sugar baby mereka." kata Erick. "Om juga begitu." sahut Kiranti. "Salah kita resmi minggu depan." ucap si Om. "Tapi sekarang kan belum Om." canda Kiranti. Semua perbincangan mereka berdua dilakukan dengan setengah berbisik. Jarak wajah keduanya sangat dekat. Erick yang gemas dengan candaan Kiranti, tiba tiba saja memberi kecupan singkat di pipi Kiranti. Kiranti hendak berteriak marah tapi tidak jadi. Mengingat bahwa ini adalah acara lelang. Tapi Kiranti langsung membalas dengan sebuah cubitan di pinggang Erick. Erick terpaksa menahan sakit agar tidak berteriak. Selagi mereka berdua berbincang dengan setengah berbisik. Acara telah mencapai pelelangan item terakhir. Erick dan Kiranti sama sekali tidak tertarik dengan satu pun item yang dilelang. Di pelelangan terakhir mereka hanya diam memperhatikan sambil menikmati hidangan di meja. Begitu pelelangan terakhir selesai. Erick segera mengajak Kiranti berdiri. Dia ingin segera menyapa beberapa rekan bisnis yang penting. Tujuannya datang ke sini memang hanya untuk bersosialisasi dengan rekan rekan bisnisnya. Kiranti pun mulai paham dengan tujuan si Om. Erick menggandeng tangan Kiranti. Memperkenalkan Kiranti sebagai kekasih pada rekan rekan bisnis. Berbincang bincang dengan mereka sejenak. Perlahan lahan tamu peserta lelang mulai pulang. Hanya tertinggal beberapa saja. Terutama yang memenangkan item lelang tadi. Riko dan Rossa juga masih di tempat karena memenangkan salah satu item lelang. Erick sebenarnya enggan menyapa mereka. Tapi mereka segera menghampiri Erick. "Ini wanita yang kamu beli di klub malam kemarin?" kata Rossa tanpa basa basi. Tidak ada sopan santun dan sikap menghormati lawan bicara sama sekali. Kiranti merasa marah tapi dia tahan. Karena tidak ingin membuat keributan. Apalagi si Om yang jelas menahan emosi karena ucapan Rossa. "Lebih baik membeli wanita klub malam daripada beli item lelang di sini ya Erick?" sindir Riko. Beberapa rekan bisnis yang tahu hubungan Erick terhadap Rossa dan Riko memilih tidak ikut campur. Edison dan Leonard hanya menggelengkan kepala pelan. Walau Edison dan Leonard adalah customer klub malam. Mereka masih paham sopan santun dan etika. Tidak seperti pasangan suami istri teman Erick. Karena itu juga Edison dan Leonard memilih menjaga jarak dari Riko dan Rossa. Erick tersenyum walau hatinya panas. Dia mengajak Kiranti pulang. Semua urusan bersosialisasi telah dilakukan. Dan tidak ada gunanya berurusan dengan pasangan duo ular. Tapi sebelum pulang dia berkata dengan tenang. "Akan ada saatnya kamu terluka karena ucapanmu Riko." Erick pun berlalu bersama Kiranti tidak menghiraukan segala perkataan Riko dan Rossa yang membalas ucapan Erick tadi. Dalam mobil menuju perjalanan pulang ke rumah. Erick dan Kiranti hanya diam. Sampai Erick memecah keheningan. "Ada ingin kamu katakan? Katakan saja langsung daripada kamu penasaran." kata si Om. Kiranti awalnya ragu. Tapi akhirnya memberanikan diri. "Sepertinya hubungan Om dengan kedua teman Om tadi tidak berjalan baik." ucap Kiranti. "Begitulah. Wanita tadi bernama Rossa Cantika. Mantan kekasihku waktu kuliah dulu. Yang pria tadi bernama Riko Bastian. Suami Rossa sekarang." jelas si Om. "Oh jadi dia dendam karena diputusin Om?" tanya Kiranti. "Kamu salah. Mereka mengkhianati aku. Mereka menjalin hubungan di belakangku. Wajar kan kalau aku putusin dia. Seharusnya aku yang marah." jelas si Om. "Iya. Tetap si Om yang mutusin dia kan." sahut Kiranti. "Kamu benar juga." kata si Om. Kemudian tertawa kecil. "Dia belum bisa move on dari Om tuh. Buktinya masih cari masalah sama Om. Padahal sudah nikah." ucap Kiranti. "Mungkin." balas si Om sambil tersenyum kecil. Hati Erick merasa lebih tenang setelah berbincang dengan Kiranti. Rasa marah akibat perkataan Rossa dan Riko sudah menguap begitu saja. "Om. Riko teman Om tadi sepertinya cemburu sama Om. Mungkin karena Rossa masih memperhatikan Om walau dengan membuat masalah." ucap Kiranti. Erick diam memikirkan perkataan Kiranti. Sepertinya tidak salah. Kenapa selama ini tidak terpikirkan oleh Erick. Mungkin itulah sebabnya suami istri tersebut selalu mencari masalah dengannya. "Mungkin kamu benar. Sudahlah aku malas membicarakan mantanku itu. Sebaiknya lain kali saja aku ceritakan semuanya." ucap si Om. Mereka pun hanya diam setelah itu. Sampai di rumah dengan pemikiran masing masing. Malam pun telah larut. Beristirahat adalah pilihan terbaik yang ada saat ini. Tentunya setelah membersihkan diri dari keringat dan debu jalanan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN