Erick dan Kiranti sampai di rumah menjelang hari gelap. Keduanya kembali ke kamar masing masing. Tentu saja Erick langsung membersihkan diri. Badannya sudah gerah dengan keringat. Seperti biasa Erick mandi dengan cepat dan segera berganti pakaian. Tiba-tiba pikiran iseng terlintas. Mumpung Papa dan Mama tidak di rumah. Yanto belum pulang kuliah. Lagian Yanto pasti menyusul ke tempat Tante Sonia. Mengepas pakaiannya untuk acara pernikahan. Sekalian mengunjungi calon mertuanya.
Bergegas Erick keluar kamarnya. Langsung menuju kamar Kiranti. Diengkolnya tuas pintu. Tidak terkunci. Buru buru Erick masuk. Kemudian bersembunyi di tempat yang tidak begitu terlihat. Sesuai dugaannya Kiranti belum selesai mandi. Menunggu cukup lama. Keluarlah Kiranti dari dalam kamar mandi. Hanya dengan menggunakan handuk. Tidak menyangka sepasang mata sedang melihat tubuh indahnya yang hanya terbalut handuk. Dia pun membuka lemari mencari pakaian untuk dikenakan. Tanpa menyadari Erick diam diam mengendap mendekati dari belakang. Hayoo mau apa tuh si Om? Setelah dekat Erick pun langsung memeluk Kiranti dari belakang. Menghirup aroma tubuh Kiranti yang bercampur wangi sabun mandi. Juga shampo yang digunakan.
Kiranti yang kaget dipeluk dari belakang. Tentu saja meronta mencoba melepaskan diri.
Hendak berteriak tapi mulutnya dibungkam dengan telapak tangan si Om.
"Sssstttt... Tenang ini aku." ucap si Om.
Kemudian Erick melepaskan telapak tangan dari mulut Kiranti. Pelukan tangan nya sedikit mengendur. Kiranti pun membalikan tubuh sambil memegang handuk di atas d*d*.
"Om bikin kaget saja. Keluar sana aku mau ganti baju." usir Kiranti.
"Ganti saja sana. Lagian aku juga sudah pernah lihat." sahut si Om.
"Enak saja cepat keluar. Atau aku teriak." ancam Kiranti.
"Teriak saja. Lagian hanya ada ART di rumah. Mana berani mereka sama saya." sahut si Om.
Si Om pun melangkah ke depan mencoba memeluk Kiranti lagi. Dan refleks Kiranti mengangkat lutut menghantam 'burung dan telor' si Om. Si Om pun terjatuh berlutut sambil memegang 'pusaka' nya. Wajahnya memerah menahan sakit yang tidak terkira. Kemudian dia tergolek meringkuk tetap dengan memegang 'pusaka' nya.
Kiranti mengambil pakaian ganti. Segera memakainya di depan si Om. Walau disuguhi pemandangan indah. Erick tidak bisa berbuat apa apa dengan kondisinya yang kesakitan. Mana mau 'pusaka' nya bangun tidur setelah dihantam dengan lutut. Untuk bicara saja Erick tidak bisa.
Setelah Kiranti berpakaian. Barulah Erick sanggup bicara.
"Kamu mau bikin calon suamimu impoten ya? Nanti kita tidak bisa kuda kudaan lho." protes si Om masih sambil memegang 'pusaka' nya.
"Biarin. Biar tahu rasa. Enak saja meluk-meluk. Kita kan belum nikah." balas Kiranti tenang.
"Bantuin berdiri dong." pinta si Om.
"Berdiri saja sendiri. Aku lapar mau makan." ketus Kiranti sambil berlalu keluar kamar.
Makanya Om jangan suka iseng. Semaput kan jadinya. Dengan bersusah payah akhirnya Erick berhasil berdiri dan berjalan keluar kamar. Tapi ya jalannya jadi terlihat aneh. Dia pun juga menuju ruang makan. Tapi bukan untuk makan melainkan ingin memprotes lagi tindakan Kiranti. Tentu saja dia belum lapar karena rasa sakit tadi yang belum sepenuhnya hilang.
Sampai di ruang makan. Kiranti sedang duduk menunggunya. Sementara Yanto terlihat baru pulang. Dia langsung menuju lantai 2 tapi sempat melihat sekilas ke arah Kiranti dan Erick sambil mengangguk tersenyum.
Tapi senyum itu hilang jadi kernyitan di dahi melihat cara jalan Erick. Mengabaikan hal tersebut. Yanto pun terus berlalu menuju kamarnya. Pastinya dia ingin segera membersihkan diri dulu. Erick yang baru sampai ruang makan ingin protes. Tapi Kiranti lebih dulu memotong.
"Mau makan Om? Saya ambilkan nasinya." tanya Kiranti sambil tersenyum manis.
Si Om tidak jadi protes. Hanya mengangguk sebagai tanda jawaban iya atas pertanyaan Kiranti. Kiranti segera menyendokkan nasi dari rice cooker ke piring. Lalu menyodorkan ke si Om yang sedang berusaha duduk ke kursi.
Kemudian Kiranti pun menyendokkan nasi buat dirinya sendiri. Erick pun terpaksa makan tanpa selera. Sementara Kiranti makan dengan lahap. Seolah olah tidak terjadi apa apa sebelumnya.
Ketika hendak selesai makan. Yanto datang bergabung. Dia mengambil nasi sendiri kemudian ikut makan. Eric dan Kiranti selesai nakan. Kiranti membereskan piring mereka berdua. Sedangkan Erick berusaha berdiri dari kursi dan berjalan dengan langkah aneh. Yanto yang sedang makan memperhatikan cara jalan Erick. Penasaran dia pun bertanya.
"Kenapa Ko Awen? Jalanmu kok aneh?"
Erick malu menjawab sehingga menjawab seadanya.
"Tidak apa apa hanya paha sedikit ketarik nih ototnya."
"Bohong tuh. 'Pusaka' nya aku lututin. Gara gara dia ngintip aku ganti pakaian terus meluk meluk segala." adu Kiranti jujur.
Yanto sekilas meringis ngeri membayangkan sakitnya tuh 'pusaka' kena hantaman lutut. Tapi sesaat kemudian dia tertawa terbahak bahak. Waduh adik apaan nih. Koko nya kesakitan malah diketawain. Rasanya Erick ingin menjitak tuh kepala si adik. Tapi kondisinya saat ini tidak memungkinkan.
Sampai Mama dan Papa pulang. Rasa sakit akibat hantaman lutut masih terasa. Melihat cara jalan Erick yang aneh. Giliran mereka yang bertanya.
"Wen kamu kenapa? Jalanmu kok kayak bebek mau bertelur?" tanya Mama.
"Ini Ma. Otot paha ketarik." ucap Erick berbohong.
"Bohong Ma. Dia saya hantam 'pusaka'nya dengan lutut." sahut Kiranti dengan kesal.
"Kenapa? Dak takut nanti malam pertama dak bisa kuda kudaan?" tanya Papa dengan wajah meringis ngeri.
Sebagai pria Papa tentu tahu sakitnya seperti apa. Erick hanya diam seribu bahasa.
'Waduh Kiranti pasti ngadu sama Mama dan Papa' batin Erick.
"Dia ngintip aku ganti pakaian. Terus meluk tiba tiba. Refleks aku hantam pakai lutut tuh 'pusaka'." adu Kiranti.
'Dasar tukang ngadu' batin Erick.
Tidak lama kemudian tawa Papa dan Mama terdengar kencang. Tidak ada rasa simpati atas penderitaan Erick saat ini. 'Sebenarnya siapa yang anak kandung sih' batin Erick. Erick hanya bisa mendengus kesal dan berlalu ke kamarnya.
Gagal deh niat isengin Kiranti. Malah jadi 'bebek mau bertelur'. Karena kesal Erick pun memutuskan untuk tidur. Sambil membayangkan aroma tubuh Kiranti yang bercampur wangi sabun dan shampo yang sempat tercium hidung Erick sewaktu memeluk Kiranti. Perasaannya pun mulai tenang. Anggap saja dia membayar mahal demi menghirup aroma tubuh Kiranti sehabis mandi. Sehingga tidak rugi rugi amat dihantam lutut Kiranti.
Setelah drama bebek mau bertelur. Erick jera untuk sementara mengusili Kiranti. Hari Hari pun berlalu tanpa banyak drama. Hari sabtu pun tiba. Sorenya Kiranti diantar Mbak Sri sebagai supir pribadi Kiranti berangkat menuju Bandara. Kiranti hendak menjemput Ayah Ibunya juga adiknya Andi. Pak Suroso dan Ibu Aminah akan menginap sampai pernikahan Kiranti selesai. Awalnya mereka minta ditempatkan di hotel saja. Takut mengganggu privasi keluarga Gunawan. Tapi Papa tentu saja menolak dan bersikeras calon besannya harus tinggal di rumah utama sampai acara pernikahan selesai. Papa tentu saja sudah menganggap calon besan sebagai keluarga sendiri. Sebab pernikahan akan segera dilangsungkan.
Ayah dan Ibu keluar dari ruang kedatangan Bandara diikuti Andi yang menyeret 2 buah koper dengan tas terlampir di punggungnya. Kiranti dan Mbak Sri yang sudah menunggu segera menyambut. Mbak Sri segera mengambil salah satu koper dari Andi. Kiranti dan keluarganya berpelukan sebentar melepas rindu. Penampilan Pak Suroso dan Bu Aminah kali ini cukup berbeda dibanding dulu. Walau sama tetap sederhana. Tapi pakaian nya sekarang semua baru. Tidak ada lagi pakaian lusuh seperti dulu. Prinsip Ayah dan Ibu tidak perlu mewah dan mahal asal layak dipakai. Seusai berpelukan melepas rindu Kiranti mengajak keluarganya menuju mobil.
Dalam perjalanan menuju rumah utama keluarga Gunawan. Pak Suroso bercerita tentang keadaan di desa. Pak Suroso rupanya menggunakan uang seserahan lamaran Kiranti untuk membeli rumah dan lahan Pak Kamal. Rumah yang mereka tempati kini berstatus hal milik mereka. Demikian juga tanah yang dulu mereka sewa untuk diolah pun telah menjadi hal milik mereka. Pak Kamal melepas rumah dan lahan karena ingin pindah ke kota S. Mengikuti anak Pak Kamal yang bekerja dan tinggal di kota S. Ditambah keadaan istri Pak Kamal yang kesehatannya memburuk. Jadi lebih baik tinggal di kota S agar mudah mendapatkan perawatan medis. Pak Suroso menghabiskan uang sebesar 280 juta rupiah untuk rumah dan lahan tersebut. Selain itu Pak Suroso juga membeli lahan milik Pak Lurah yang ada di sebelah lahan Pak Kamal sebesar 250 juta rupiah. Pak Lurah menjual tanah untuk modal usaha baru dan juga biaya awal anaknya menjadi Aparatur Sipil Negara. Total 530 juta rupiah yang dikeluarkan Pak Suroso. Kiranti tidak keberatan karena menilai itu sebagai investasi dan modal berbentuk lahan. Pak Suroso juga mengupah orang seperti saat mereka menyewa lahan. Untuk membantu mengolah lahan. Modal yang diperlukan untuk menanam kebun sebesar 60 juta rupiah. Jadi secara keseluruhan habis hampir 600 juta rupiah. Lagi lagi Kiranti tidak keberatan. Hanya berpesan agar Pak Suroso tidak bekerja terlalu keras. Mengingat faktor usia yang mulai meninggi. Pak Suroso tertawa dan mengiyakan pesan Kiranti. Dia merasa masih sanggup untuk mengerjakan lahan. Tapi tentu saja kali ini dia akan dibantu warga sekitar yang bersedia menjadi pekerja upahan.
Mereka bercerita banyak hal mengenai desa. Hingga giliran Kiranti diminta menceritakan tentang kehidupannya di kota J.
Kiranti tentu saja tidak berani berterus terang tentang waktu tinggal di apartemen Erick. Dia hanya bercerita bahwa dia tinggal di rumah utama keluarga Gunawan. Bercerita tentang keluarga Gunawan. Mengenai kamar pribadi yang ditempatinya. Bahkan keinginan untuk melanjutkan pendidikannya. Kiranti sangat antusias untuk kuliah. Tentu saja keluarga Kiranti sangat mendukung keinginan Kiranti asal tidak mengganggu kehidupan rumah tangganya kelak. Mengingat bahwa dia akan menjadi istri dari Erick. Menjadi menantu wanita keluarga Gunawan. Dan itu harus diutamakan sebagai bentuk pengabdian seorang istri kepada suami.
Asik bercerita tidak terasa, mereka telah sampai di tempat tujuan. Mereka segera turun dari mobil. Keluarga Kiranti terpesona melihat rumah keluarga Gunawan. Menurut mereka ini bukan rumah. Tapi istana. Mereka langsung disambut Papa dan Mama. Erick pun juga baru pulang dari kantor. Segera Erick menyalami Pak Suroso dan Bu Aminah. Kemudian merangkul Andi. Papa dan Mama juga bergantian menjabat tangan Pak Suroso dan Bu Aminah. Mereka pun saling memperkenalkan diri. Inilah pertama kalinya kedua calon besan saling berjumpa. Setelah itu Papa dan Mama mempersilahkan calon besan masuk ke dalam rumah. Papa dan Mama mengajak Ayah dan Ibu duduk di ruang tamu. Mama memanggil Mbok Mirna dan Mbak Tina untuk membawa koper dan tas ke 2 kamar tamu yang telah dipersiapkan. Tapi Ayah dan Ibu meminta 1 kamar saja. Ibu akan tidur bersama Kiranti dengan alasan sudah kangen dan ingin tidur bersama anaknya. Sedangkan Ayah akan tidur bersama Andi. Papa menyetujui permintaan orang tua Kiranti. Koper Ibu punya dibawa Mbok Mirna ke kamar Kiranti. Sedangkan Mbak Tina membawa koper Ayah dan tas Andi ke salah satu kamar yang telah dipersiapkan.
Setelah berbincang sejenak. Keluarga Kiranti permisi ke kamar mereka. Dengan tujuan membersihkan diri dan beristirahat sejenak. Papa dan Mama mempersilahkan. Erick juga kembali ke kamarnya dengan tujuan yang sama.
Jam 7 malam. Kamar Kiranti diketuk. Kiranti membuka pintu. Rupanya Bik Asih yang mengetuk pintu. Bik Asih diminta Mama memanggil Kiranti dan Ibu untuk makan malam. Kiranti pun membangunkan Ibunya yang tertidur. Segera mereka keluar dari kamar. Sampai di pintu kamar terlihat Ayah dan Andi juga baru keluar dari kamar mereka. Mereka juga akan turun makan malam. Mereka pun turun bersama. Sesampainya di meja makan terlihat Papa, Mama, Erick dan Yanto sudah berada di meja makan. Kiranti dan keluarganya segera mengambil posisi duduk. Terlihat Ibu sedikit ragu. Tapi Mama meyakinkan Ibu agar tidak ragu untuk duduk dan makan bersama. Bukankah mereka sebentar lagi akan menjadi keluarga. Ibu pun duduk tanpa ragu lagi. Mereka pun makan malam bersama sambil berbincang mengenai keluarga dan kehidupan mereka. Tidak ada jarak pembatas di antara mereka. Karena keluarga Erick bukanlah orang yang memandang tinggi status sosial. Tapi lebih memandang sikap dan perilaku seseorang. Mereka tidak keberatan menerima Kiranti sebagai menantu keluarga Gunawan. Sehingga menghilangkan rasa tidak percya diri keluarga Kiranti. Maklumlah keluarga Kiranti bukanlah apa apa dibanding keluarga Gunawan. Tapi diterima dengan hangat sebagai besan keluarga Gunawan. Bagi Ayah ini adalah sebuah kehormatan besar. Dan mereka wajib menghargai perlakuan keluarga Gunawan.