Perjodohan Yang Dipaksakan

1096 Kata
Tiba-tiba keheningan itu dipecahkan oleh suara yang berat dan dalam dari arah pintu kamar.             “Apa yang dikatakan Indah benar!”             Semua mata langsung tertuju ke arah empunya suara.             “Pak…!” pekik Bu Wiryono kaget melihat suaminya berdiri di depan pintu kamar. Dia lalu beranjak mendekati suaminya. Dengan perasaan khawatir dia memegangi lengan Wiryono.             “Kenapa Bapak turun dari ranjang? Tubuh Bapak kan masih lemah?” cetus Bu Wiryono.             “Tidak, Bu. Aku baik saja!” tukas Wiryono seraya melangkah menuju ke sofa. Istrinya membantu mendudukkannya di sofa.             Bagus dan Indah hanya terpana menyaksikan ayah mereka keluar dari kamar. Indah tadi sempat kaget dan tak percaya mendengar ucapan ayahnya. Tadi beliau bilang kata-katanya benar, apa maksudnya?             Indah hanya diam menunggu ayahnya bicara setelah duduk di hadapannya. Dilihatnya orang tua itu menarik nafas dalam beberapa saat untuk kemudian berbicara dengan nada suaranya yang berat.             “Setelah semalaman Bapak merenung, akhirnya Bapak sadar kalau apa yang kamu katakan benar, Ndah. Bapak tidak mau bersikap jujur. Bapak menutupi kenyataan yang sebenarnya,” ucap Wiryono dengan nada parau.             “Terus terang dalam hati sebenarnya saya juga tak yakin Bapak tega menipu warga desa itu. Saya tahu Bapak orang yang tegas dan teguh bila memiliki pendirian. Tapi saya juga tahu, Bapak tidak mau melakukan perbuatan yang melanggar hukum. Bapak tidak mau merugikan orang lain, apalagi rakyat Bapak sendiri. Namun kali ini mungkin Bapak telah khilaf….?” Ucap Indah hati-hati.             Wiryono menganggukkan kepalanya seraya mendesah nafas panjang. Wajahnya yang mulai dihiasi keriput itu tampak terlihat lebih tua dari usianya.             “Bapak akui, kalau Bapak memang khilaf. Waktu itu Bapak terlalu percaya pada Pak Citro dan Pak Tarmo. Bapak tidak tahu menahu saat terjadi transaksi. Bahkan pembayaran tanah itu pun tanpa sepengetahuan Bapak. Yang Bapak tahu hanya soal penandatanganan dan penyerahan surat-surat tanah dari warga kepada Pak Tarmo. “             “Jadi Bapak tidak tahu saat transaksi maupun pembayaran uangnya?” sela Bagus.             “Ya! Semua itu yang mengurusi Pak Tarmo sebagai sekretaris desa. Karena segala administrasi tanah ada di tangannya!”             “Tapi seharusnya Bapak kan tahu berapa nilai transaksi dan kesepakatan yang diambil?”             “Bapak hanya diberitahu secara lisan oleh Pak Citro dan Pak Tarmo kalau nilai jualnya sudah disepakati sesuai yang tertera dalam surat perjanjian. Karena itu saat acara penandatanganan surat jual beli itu, Bapak pun tidak banyak tanya lagi. Bapak justru kaget ketika keesokan harinya Kasmo datang ke kantor desa menggugat macam-macam pada Bapak. Dia bilang dirinya telah ditipu, surat perjanjiannya tidak sesuai transaksi, dan banyak lagi. Bapak pun jadi emosi dan menganggap mereka bodoh dan cuma ingin mencari perkara…,” tutur Wiryono menceritakan kejadian sebenarnya.             “Kenapa Bapak tidak konfirmasikan pengaduan warga itu pada Pak Citro dan Pak Tarmo?” potong Indah.             “Hari itu juga Bapak langsung menemui Pak Citro dan Pak Tarmo. Mereka bilang bahwa transaksi itu tak ada masalah lagi. Mereka malah menuding Kasmo hanya cari perkara. Kasmo cuma ingin minta ditambah pembayarannya karena terhasut bujukan orang lain. Waktu itu masyarakat memang berspekulasi bahwa tanah yang dibeli oleh Pak Citro sebenarnya bisa naik sepuluh kali lipat karena akan dibangun pabrik. Jadi Bapak percaya omongan Pak Tarmo. Kenyataanya setelah itu tak ada lagi tuntutan dari para warga yang tanahnya dibeli. Malah Kasmo dua hari kemudian tewas jatuh ke dalam jurang…”             “Apakah Bapak tidak berpikiran kematian Kasmo suatu kebetulan atau ada orang yang sengaja mencelakainya? Apakah pernah Bapak merencanakan sesuatu dengan Pak Citro atau Pak Tarmo untuk membalas tindakan Kasmo?” cetus Indah penuh selidik.             “Demi Tuhan, Bapak tidak pernah membicarakan hal itu. Bapak memang marah pada tindakan Kasmo, tapi setelah itu Bapak tidak dendam pada dia. Bapak tak ada waktu meladeni orang kayak Kasmo!” tegas Wiryono.             “Bapak menerima uang dari Pak Citro atas transaksi jual beli tanah itu?”             “Dalam aturan ada yang namanya pologoro, yakni semacam upeti atau pajak atas transaksi jual beli tanah yang terjadi di desa. Besarnya lima sampai sepuluh persen dari harga jual tanah. Dan uang itulah yang Bapak terima. Itupun dimasukkan dalam kas desa. Lain dari itu…. Bapak hanya menerima uang dalam bentuk pinjaman dari Pak Citro.”             “Pinjaman?”             “Ya! Pak Citro pernah berjanji pada Bapak akan meminjamkan sejumlah uang jika proses tukar guling itu berhasil. Pak Citro bahkan menjanjikan tidak akan mengenakan bunga!”             “Berapa uang yang Bapak pinjam waktu itu?”             “Limapuluh juta rupiah!”             Indah terkejut bukan main mendengar besarnya nilai pinjaman ayahnya pada Pak Citro. Matanya sampai melotot.             “Untuk apa uang sebanyak itu, Pak?!” seru Indah setengah berteriak.             Wiryono tidak langsung menjawab, melainkan melirik kepada istri dan Bagus, anak tertuanya. Wajah Bu Wiryono dan Bagus terlihat murung. Mereka tidak ada yang berani menatap Indah. Tiba-tiba Indah merasakan ada sesuatu yang disembunyikan oleh keluarganya.             “Kenapa Bapak diam saja? Untuk apa uang sebanyak itu? Apakah kita sudah sedemikian miskinnya sampai harus meminjam uang sebanyak itu?” lanjut Indah dengan nada berang. Wajahnya jadi tegang.             Wiryono diam termangu. Bu Wiryono yang kemudian menjawabnya.             “Sebenarnya kita sudah sepakat tidak akan mengatakan hal ini padamu, Ndah, tapi cepat atau lambat kamu pasti akan tahu. Dua tahun lalu saat Bapak meminjam uang pada Pak Citro, keadaan kita waktu itu sedang susah. Sawah kita mengalami puso, lalu kamu butuh biaya untuk skripsi dan keperluan kuliahmu, sementara Bagus membutuhkan biaya untuk upacara pernikahannya. Pada saat lain Widyanto terkena masalah. Dia menabrakkan sepeda motor temannya dan harus mengganti kerugian yang tidak sedikit…,” tutur wanita itu dengan suara serak.             “Tapi hal yang lebih berat adalah ketika Bapak ditipu seseorang sampai puluhan juta rupiah! Bapak diajak kerja sama menanamkan modal di sebuah perusahaan besar, tapi nyatanya cuma ditipu. Orang yang menipu itu kabur dan tak diketahui dimana rimbanya,” ucap Bagus menambahkan.             Indah ternganga mendengar cerita fantastis dari Ibu dan kakaknya. Kini semakin jelaslah kenapa hubungan ayahnya begitu dekat dengan Pak Citro. Kenapa ayahnya begitu membela Pak Citro dan kemudian mengikat perjanjian untuk menjodohkan kedua anak mereka. Rupanya inilah akar persoalannya. Semuanya karena hutang budi!             Oh! Indah hanya bisa terpekur ngilu menghadapi kenyataan ini. Dia benar-benar tak habis mengerti dengan apa yang telah dilakukan oleh ayahnya. Dirinya dijadikan sebagai jaminan dari perjanjian hutang piutang. Dirinya tak ubahnya seonggok barang. Mereka menjodohkan dirinya tanpa meminta persetujuannya. Betapa sakit dan hancur hati Indah. Apalagi orang yang dijodohkan dengannya adalah Irawan, laki-laki yang tidak disukainya. Sebegitu murah harga dirinya karena harus tunduk pada kesepakatan itu.             Omong kosong tentang hutang budi. Sudah jelas Pak Citro memanfaatkan kejatuhan Wiryono untuk keuntungan dirinya dan anaknya. Mereka tak lebih dari manusia licik. Geram Indah dalam hati.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN