Dipinggir Pantai Perawan

505 Kata
"Kak Ahmad udah sampe di Bali? Gimana kerjaannya? Oh, ya, Kak, tadi waktu aku lagi jalan-jalan di sekitar pantai, aku ketemu Stefan. Temen kecil aku yang kemarin kamu lihat di restoran tempo hari, lho. Dia ternyata lagi syuting di Pulau Pari juga. Sempit banget perasaan dunia ini, dari sekian banyak tempat, kenapa gue bisa ketemu Stefan di sini?" gumam Miya sembari mengetik empat kalimat pertamanya yang akan ia kirimkan ke Ahmad. "Dia ngajakin aku ke hutan Mangrove yang bagus banget, Kak. Kapan-kapan kita harus ke sana lagi, ya. Pasti Kak Ahmad bakalan takjub, kayak aku tadi. Makanya Kak Ahmad cepetan dateng, ya. Biar aku gak kesepian." Belum sempat ia mengirim pesan, wajah dan nama Stefan nampak di layar. "Mi, lo udah makan malem? Kalau belum, bareng gue sama yang lain, yuk. Kebetulan kita lagi mau pada bakar ikan." "Belum, Stef. Mau bakar ikan di mana?" "Di deket penginapan. Ni gue udah di depan tempat lo. Lo keluar dong." "Oh, oke-oke. Bentar gue siap-siap dulu." Setelah panggilan terputus, Miya melempar ponsel ke atas kasur begitu saja dan bergegas berganti pakaian. Pesan yang tadi sudah sempat ia ketik belum ia kirim. Lekas Miya menuju kamar mandi, membasuh wajah agar nampak segar dan bertukar pakaian. Ia mematut tubuh di depan cermin, lalu tersenyum singkat. Ia melihat penampilannya sendiri yang cukup menawan dengan menggunakan celana jeans selutut dan kaos berwarna pink yang sedikit kebesaran. Setelahnya ia kemudian mengikat ekor kuda rambut panjangnya dan memulas bibir dengan sedikit pelembab. Setelah puas bercermin, Miya langsung menuju ke luar di mana Stefan sudah menunggu. "Sorry, ya, lama," cengir gadis itu yang hanya membuat Stefan bergeming. "Yuk! Kok, malah bengong." Miya sampai harus melambai-lambaikan tangan beberapa kali di depan wajah Stefan yang mulutnya terbuka sedikit. "Eh, iya. Yuk." Untung saja Miya tidak bisa mendengar degup jantung Stefan yang seketika melonjak cepat saat melihat penampilan Miya malam itu. "Oh, bentar, Stef, aku mau kasih tau Heni dulu. Kasian nanti kalau dia dateng bawain aku makanan." Di depan penginapan, tepat di pinggir pantai pasir Perawan, Jodi, Herman dan Galih asik membakar ikan pari yang sengaja mereka beli dari penduduk. Ikan yang sudah dibumbui dan siap dibakar. "Gaes, kenalin ini Miya, temen gue dari zaman gue masih pake popok," ujar Stefan disambut lambaian tangan dari yang lain. "Hai Mi, gue Jodi, manajer sekaligus asistennya Stefan. Itu yang lagi ngipas-ngipas namanya Galih. Terus si tukang pegang kamera yang malam ini gue suruh motongin bawang dan tomat, namanya Herman. Sini ikutan gabung. Kebetulan, ni, lalapannya belom ada yang motongin. Dan, Lo, Stef, jangan bengong ngeliatin Miya kayak gitu terus, kemasukan lalat laut baru rasa." Seperti biasa, Jodi langsung sok akrab. Mereka pun serentak tertawa, termasuk Miya yang malam itu terlihat sangat bahagia. Perasaan bimbang dan ragu karena rencana pernikahannya dengan Ahmad seakan tertinggal di penginapannya. Bahkan ia juga tidak membahas rencana lamaran keluarga Stefan. Pikir Miya, mungkin Stefan pun keberatan dengan rencana perjodohan itu, hingga ia tidak mau membahasnya sejak pertemuan mereka kemarin sore. Hubungan mereka memang hanya sebatas teman baik. "Apaan, si, lo, Jod." Stefan hanya bersungut-sungut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN