Sebagian kecil darah di tubuh Stefan langsung memenuhi bagian wajah yang membuat warnanya sewarna tomat yang sedang dipotongi oleh Herman.
"Hai, Miya," sapa Herman dan Galih bersamaan.
"Hai! Sini-sini mana yang harus gue potong? Kalau soal motong doang mah bisa, lah."
"Ups, serem, tuh. Lo hati-hati, Stef."
Ucapan Jodi kembali mengundang tawa, sedangkan Stefan hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Oh, ya, Mi, lo sampai kapan di sini?"
Miya mengangkat bahu.
"Masih belum pasti, si, mungkin tiga harian. Tergantung temen yang sekarang masih di Bali." Miya mendadak sendu lagi.
"Besok kita mau ke Tidung, mau lanjut syuting. Ikutan, yuk," ajak Stefan sambil melirik ke arah Jodi.
Miya tak langsung menjawab.
"Iya, Mi. Udah ikut aja, deket, kok. Paling nyebrang gak sampe sejam. Sorenya kita langsung balik sini lagi." Jodi ikut berbicara.
"Kalau kalian syuting, nanti gue di sana ngapain, dong?"
"Kita syuting cuma bentar, kok, sambil snorkeling. Nanti, lo, bisa ikutan snorkeling juga. Gue jamin pasti lo bakalan setakjub kayak di Mangrove tadi."
"Wah, boleh, deh."
"Oke, besok pagi jam enam kita ke sana."
Stefan bernapas lega. Ia merasa harapannya untuk bisa bersama Miya akan segera terwujud.
"Oh, iya, Stef, lo, kok, gak, ngajakin Verni? Gue denger-denger, lo lagi deket sama dia."
Stefan tertawa. "Tuh, kerjaannya si Jodi, tuh," ujarnya sambil menunjuk Jodi dengan dagu.
"Maksudnya?"
"Itu mah cuma gimmick, Mi. Di dunia entertaint kadang perlu yang namanya pansos. Apalagi buat artis baru kayak si Stefan ini. Biar namanya cepet naik. Kalau gak gitu, ntar gak dapet job kita," jelas Jodi lalu disambung tawa.
"Eh, tapi lo jangan khawatir, Mi. Gue jamin si Stefan dan Verni tu gak ada hubungan apa-apa, cuma temenan. Iya, kan, Bro?"