Galih dan Herman yang masih sibuk membakar ikan mengangkat ibu jari sambil mengangguk.
"Ada juga gak pa-pa, kok. Gue ikut seneng."
Miya tertawa lagi hingga sukses membuat degup jantung Stefan berdentum kencang. Angin kencang yang berembus membuat rambut ekor kudanya bergoyang-goyang dan membuat gadis itu refleks memeluk tubuh.
"Tapi jadinya kalian manfaatin Verni, dong? Ih, jahat."
"Gak gitu, Mi. Verninya, kok, yang nawarin."
"Oh, gitu." Kepalanya turun naik.
"Iya, nanti, deh, kapan-kapan aku kenalin kamu sama Verni," jawab Stefan yang kemudian langsung menyelimuti Miya dengan jaket miliknya.
"Makasi, Stef. Kamu sendiri gak kedinginan?"
Belum sempat Stefan menjawab, Jodi dan kedua temannya yang lain sudah kembali ramai.
"Cie, dingin mah gak bakal kerasa kalau deket sama Neng Miya," goda Jodi yang membuat Miya langsung menunduk malu dan Stefan kembali menggaruk kepala. Malam itu Air muka Miya nampak cerah. Bayangan Ahmad bahkan tak sempat mampir di pikiran gadis itu.
Hingga tengah malam Miya berkumpul bersama Stefan dan yang lain. Setibanya di penginapan pun ia langsung menuju peraduan sehingga tidak memeriksa ponsel yang sedari tadi ia tinggal. Padahal sejak tadi Ahmad terus berusaha untuk menghubunginya.
Salah satu ikon yang terkenal di Pulau Tidung adalah jembatan kayu yang menghubungkan Pulau Tidung Besar dan Pulau Tidung Kecil. Menurut cerita yang beredar, suatu waktu di Pulau Tidung bertemulah seorang pria dan wanita yang identitasnya masih menjadi misteri. Mereka pun saling jatuh cinta dan menjadikan jembatan kayu tersebut sebagai tempat memadu kasih. Mereka menyapa matahari terbit, berpegangan tangan dan melewati jembatan dari awal hingga akhir. Akhirnya mereka menikah dan hidup bahagia. Jembatan yang telah menjadi saksi cinta sejati mereka dikenal dengan sebutan Jembatan Cinta. Mitos yang beredar adalah jika berjalan bersama pasangan di atas jembatan itu, maka dapat membuat hubungan menjadi langgeng. Hal itulah yang ingin Stefan buktikan sendiri.