Selesai syuting dan sebelum melamar Miya di atas jembatan cinta, Stefan mengajak gadis itu berkeliling pulau sambil bersepeda. Banyak penduduk setempat yang memiliki usaha persewaan sepeda karena satu-satunya akses untuk berkeliling pulau tersebut dengan menggunakan sepeda, sepeda motor atau becak motor, di sana tidak ada jalan-jalan besar yang mampu dilewati mobil-mobil, itulah sebabnya udara di Pulau Tidung sangat bersih jauh dari polusi udara.
Berjalan ke arah jembatan cinta, banyak tempat-tempat makan yang berbentuk warung kecil dikelola oleh masyarakat setempat, ada juga beberapa tempat barbeque yang buka setelah hari beranjak sore. Semakin dekat dengan jembatan cinta, banyak rumah warga ataupun lapak-lapak yang menawarkan jasa pariwisata seperti snorkeling, banana boat, dan lain-lain.
Bola mata Miya kembali berbinar melihat keindahan pemandangan di depan mata. Dari atas jembatan kayu sepanjang 800 meter itu terlihat pemandangan bawah laut seperti terumbu karang dan beragam jenis ikan. Permukaan air yang jernih berwarna hijau tosca membuat sinar mentari mampu menembus hingga dasar perairan. Stefan yang berdiri di sisi Miya pun terus memandang kagum ke arah dasar pantai. Beberapa menit kemudian pandangannya beralih ke arah gadis yang sudah menawan hari-harinya.
"Oh, ya, Stef, yang lain mana? Kok gak ikut ke sini?" Miya yang merasa Stefan terus memandanginya mencoba mengalihkan perhatian.
"Yang lain lagi cari makanan dulu katanya. Pada kelaperan." Stefan meremas kedua telapak tangan. Ia lalu meraup oksigen berkali-kali.
"Mi, ada yang mau gue omongin," ujar Stefan perlahan. Kepalanya yang semula menunduk ia beranikan diri menatap langsung wajah Miya.
"Mau ngomong apa, Stef? Mau ngomongin soal perjodohan kita?"
Miya mendengkus kasar.
"Itu, kan, cuma keinginan kakek dan orang tua lo aja. Ga usah terlalu dipikirin, ya. Besok kita bilang baik-baik ke mereka kalau kita keberatan," jawab Miya sambil tersenyum. Matanya masih memandang ke arah laut.
Mata Stefan membelalak.
"Gue gak keberatan, kok. Setuju banget malah."
Perlahan Stefan mengubah posisi.
"Miya, udah lama gue cinta dan sayang sama lo. Would you be my wife?" ucap Stefan sambil berlutut di hadapan Miya.
Bersambung.