"Miya, kok lo ada di sini? Kata Papa, lo, ada seminar di Bali."
Miya tak langsung menjawab, dadanya naik turun dengan jemari yang saling bertaut.
"Gu-gue gak jadi ke Bali, Stef," ujar Miya seraya tersenyum hangat yang dibalas Stefan dengan senyuman tak kalah hangat. Stefan sepertinya mengerti jika gadis di hadapannya ini tengah menyembunyikan sesuatu dan tidak ingin membahasnya.
"Mi, sini, deh. Gue mau ngajakin, Lo, ke suatu tempat. Gue jamin lo pasti suka," ucap Stefan. Ia menarik tangan Miya menuju pinggir pantai. Di sana ia menyewa sebuah perahu kecil untuk menjelajahi Hutan Mangrove.
"Wah, bagusnya! Ini, tu, mirip banget kayak hutan sss atau di pedalaman Kalimantan sana."
Mata Miya terus berbinar. Air mukanya yang semula terlihat panik perlahan kembali merona, sehingga membuat Stefan bernapas lega.
"Tuh, kan, lo pasti suka," ujar Stefan sambil terus mendayung.
"Iya, makasi, ya, Stef. Oh iya, kalau lo ngapain ke sini? Tumben gak nyamar lagi?"
"Ha-ha, Mi, di sekitar sini, mah gak ada yang kenal gue. Aman lah. Gue lagi bikin konten, biasa buat Vlog."
Miya mengangguk-angguk.
"Sekarang jawab dong pertanyaan gue yang tadi. Batal ke Bali, Lo, kenapa malah ke sini?"
"Gue diajakin temen ke sini, Stef. Tadinya kita mau barengan ke Bali, tapi gak jadi."
Oo ... terus temen lo mana? Kok, Lo, sendirian?"
"Temen gue ... dia jadi ke Bali, ada kerjaan. Gue disuruh nunggu dia di sini."
Stefan ingin bertanya lebih jauh, tapi melihat gelagat Miya yang kurang nyaman, ia memilih memasung rasa ingin tahunya. Dengan melihat Miya bisa tersenyum kembali saja, Stefan sudah sangat bahagia.
***
"Jod, besok kita ke Pulau Tidung, ya?"
"Loh, dadakan banget. Emang kita gak jadi ke hutan Mangrove?"
"Udah tadi, gue juga udah sempet ambil gambar. Nih, liat!"
Jodi mengambil kamera DSLR milik Stefan dan melihat isinya. Ia kemudian tertawa.
"Stef, Stef, ini mah bukan gambar mangrove. Kebanyakan foto ceweknya gini. Lo gak salah? Omong-omong siapa, ni?"
Dengan secepat kilat, Stefan langsung mengambil kamera dari tangan Jodi.
"Duh, mati gue! Kenapa gambarnya Miya semua?" batin Stefan sambil menarik kedua sudut bibir dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"He-he, dia cewek yang kemarin gue ceritain, Jod."
"What? Cewek yang katanya mau lo lamar tapi gak jadi karena dia terbang ke Bali? Kok bisa?"
"Hu um."
"Wah, jodoh, Stef. Jodoh ini namanya. Padahal sampai tadi sebelum kita sampe sini, tu cewek kabarnya ada di Bali, kan? Emang ya, Tuhan tu, selalu punya cara untuk mempertemukan mereka yang berjodoh. Ya kayak lo dan cewek itu," jelas Jodi yang langsung diamini oleh Stefan.
"Aamiin yang kenceng! Makanya, Jod, besok gue mau ajak dia ke jembatan cinta. Gue mau ngelamar dia di sana. Semoga aja gue diterima."
"Aamiin. Gue yakin lo pasti diterima, Bro. Oke, besok kita ke Tidung."
Bersambung.