Chapter 20

1179 Kata

Bab 22 Percakapan Telepon Tiara menyentuh pipinya yang terasa panas. Tak ada air mata kesedihan yang ada hanya kekesalan dan amarah yang menumpuk menjadi satu. Bari berjalan ke arah pintu, membuka pintu itu dengan lebar. “Keluar! Gue bilang keluar!” bentaknya dengan amarah yang sama besarnya. Tiara berjalan menuju pintu, lalu berhenti tepat di depan lelaki itu, mantan calon adik iparnya. “Harusnya otak kamu itu dipakai dengan benar. Semua ini terjadi karena kamu, bukan karena saya. Saya juga tak mau hamil anak dari lelaki baji*gan sepertimu, tapi saya juga gak mungkin menggugurkannya. Heh, syukurlah, Rumi selamat. Kamu memang tidak pantas mendapatkan cinta dari perempuan mana pun!” Tiara berlalu keluar dari kamar Baru, lalu berjalan menuju lift. Brak! Bari membanting pintu dengan kas

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN