Bab 37 Kedatangan Bari Keesokan harinya, kondisi Rumi sudah lebih baik. Walau masih banyak termenung. Air matanya tetap saja menetes meskipun tidak sederas kemarin. Rumi merasa sangat bersalah pada buah hatinya yang baru berumur beberapa minggu. Pikiran dan perasaannya yang begitu tertekan membuatnya abai terhadap kehamilannya. Angkasa tidak berani berbicara banyak. Hanya kalimat permohonan maaf yang ribuan kali ia utarakan pada istrinya. Walau Rumi mengatakan memaafkannya, tetapi wajah sedih dan kecewa itu tidak bisa ditutupi. Lelaki itu pun duduk di samping Rumi, sambil memegang piring berisi bubur nasi. Sejak semalam Rumi tidak mau makan apa pun. Hanya minum air putih saja dan sedikit teh manis. Angkasa terus membujuknya agar mau makan dan tidak jatuh sakit. “Sedikit saja, Rumi. Ti

