Terik matahari di Groningen siang ini begitu panas, sepanas kabar yang dibawa oleh pria berpakaian rapi, tetapi tak berdasi. Langkahnya gontai menuju lift untuk sampai ke ruangan sang tuan muda. Staf berlalu lalang memberikan sapaan hangat kepadanya yang sudah tak asing lagi di kantor, tetapi hanya dibalas dengan senyum tipis yang sangat terlihat terpaksa. "Mr Ameer!" Satu panggilan menghentikan langkahnya dengan terpaksa. Ingin abaikan juga seperti yang lain, tapi tak bisa karena yang satu ini terlalu beresiko. "Ya, Nona Kya," balasnya setelah berbalik, "apa ada yang bisa saya bantu?" Tanyanya sembari memberikan senyum manis, tepatnya senyum paksa yang dibuat semanis mungkin. "Apa kau akan menemui Zeen?" tanya Kyana sembari menatap penuh harap. Ameer sedikit bingung dibuatnya, te

