Revita membuka kedua matanya kala merasakan sinar matahari menembus pada jendela kamar yang tersingkap oleh korden. Dan hal pertama yang tampak di matanya adalah wajah Vano yang masih memejamkan mata dengan mengeluarkan dengkuran halus di bibirnya. Revita tersenyum. Rasanya hangat sekali. Revita mengangkat tangan Vano yang memeluknya. Wajah Revita memerah dengan pipi memanas mengingat kejadian semalam. Revita beringsut untuk duduk. Bibirnya sedikit meringis merasakan seluruh tubuhnya yang terasa pegal-pegal. Revita menatap wajah Vano lekat-lekat. Ada rasa perih yang menjalar menyayat-nyayat di ulu hatinya. Revita masih mengingat jelas bagaimana wajah babak belur suaminya saat dihajar mati-matian oleh papanya sendiri. Revita menangkup kedua pipi Vano yang hangat. Kemudian mengecup setiap

