"Lo beneran mau nikah?!" Revita menutup kupingnya rapat-rapat, menghalau teriakan Novi yang melengking dan menusuk gendang telinganya. Revita mengangguk senang, sedangkan Novi terpaku dengan menatapnya tidak percaya. Seolah jiwa Novi keluar dari raganya! Kedua anak itu kini berada di kamar Revita. Revita sendiri memang sengaja mengundang Novi untuk memberitahukan kabar bahagianya. "Rev, plies tampar gue! Sadarin diri gue ini kalau yang lo omongin bukan mimpi" perintah Novi dengan menatap kosong ke arah depan. PLAKKK Revita dengan senang hati menampar anak itu keras sekali. "Sakit, bangke!" Novi mengumpat dengan mengusap-usap pipinya yang terasa panas. "Gak mimpi kan?" kata Revita dengan mengembangkan senyum manisnya. "LO GILA?!" Novi memekik. Matanya berkaca-kaca tidak rela. "Padah

