Alle tak ingin mengusik Reina. Dia hanya ingin memberikan kenyamanan, pada gadis kecilnya yang telah tumbuh dewasa. Dia tahu wanita di sampingnya sedang memikirkan banyak hal, mungkin juga perubahan sikapnya hari ini. Alle tak peduli, semakin sering dia memikirkan dirinya, itu akan semakin bagus. Tanpa terasa, kendaraan itu telah berhenti sempurna di depan apartemen Reina. Seperti sebelumnya, Alle bersikap manis layaknya seorang pangeran yang membukakan pintu untuk Sang Putri. Dia bahkan mengantar Reina hingga ke depan pintu hunian. Reina juga tak mengerti, mengapa dia membiarkan lelaki itu membuntutinya hingga kini. Mungkinkah dia mulai berpikir bahwa itu adalah hak Alle? Hak sebagai calon suaminya?! "Terima kasih untuk malam ini, Mr. Julian." "Alle, bisakah kau memanggil namaku saja,

