“Percayalah, aku tadi sedang menolongmu,” bisik Gyan. Dia meletakkan dahinya pada dahi Meera. Matanya memejam. “Kenapa kamu selalu nggak percaya padaku, Meer?” Meera menelan ludah. Gyan terlalu dekat, sampai hembusan napasnya terasa di kulit wajah Meera. Bibir Gyan berwarna muda dan terlihat segar. Tidak tipis, dan tidak begitu tebal. Bentuknya pas dan indah. Sebuah bibir yang juga nikmat itu pernah Meera miliki beberapa tahun yang lalu. Kini, bibir itu masih saja terlihat menggoda. Lekuk tubuh Gyan berkembang seimbang dengan usianya, dan sesuatu pada lekukan-lekukan di lehernya itu… menimbulkan dorongan-dorongan ganjil bagi Meera. Syaraf tubuhnya ingin merangkul Gyan, menyentuhnya dan meraih hatinya lagi. Namun, logikanya mengatakan sebaliknya. Kepala Gyan bergerak ringan, menempelkan

