Ketika Meera bangun keesokan paginya, Meera menemukan dirinya berada di sebuah kamar yang asing baginya. Kamar itu memiliki interior ruangan yang minimalis. Cantik dengan warna dinding cokelat krim dengan sudut-sudut berwarna hitam gelap. Kasurnya berwarna putih, begitu pula dengan selimutnya yang lembut dan halus serta beraroma seperti kain baru. Hamparan selimut itu pun tampak seperti baru dikeluarkan dari kantong, karena masih tampak bekas-bekas lekukan lipatan khas sprei dan selimut baru. Meera memandang ke sekeliling, ruangan itu terang benderang. Meera menatap ke arah tirai warna cerah yang menutupi jendela kaca yang lebar. Sinar matahari terlihat menyorot terang. Meera menutup mata karena cahaya yang berlebihan itu. Dia mencoba mengingat, apa yang terjadi semalam. Namun, yang ada

