Bibir Meera semakin mendekat pada Gyan, dan pria itu mendadak membatu. Wajah Meera yang merona. Wajah Meera yang begitu dekat yang membangkitkan kenangan manis bercampur pahit di masa lampau. Aroma matahari Meera yang pudar, namun gadis itu masih lah gadis yang sama. Dya Meera. Dia adalah Meera miliknya dulu. “Meera,” sebut Gyan. “Aku bukan Gyan Samudra.” Gadis itu pun berhenti. Dan mereka saling tatap dalam jarak yang nyaris tidak sampai sesenti selama beberapa saat. Lalu Meera menjauh dan kembali bersandari di dinding. Gyan pun menarik napas dalam setelah Meera menjauh darinya. Dadanya berdetak dengan kencang. Seperti pertama kali dia mendengar pengakuan Meera bahwa gadis itu mencintainya. Bukan kah perasaan ini terlalu usang untuk dirasakan olehnya kembali? “Benarkah, kamu bukan

