Satu-satunya hal yang membuat Meera merasa begitu hidup adalah saat dia berenang. Bersama air dan menikmati kelembutan cairan yang menyentuh kulitnya. Air laut terasa dingin dan gelap, tapi tidak sedingin yang dia ingat terakhir kali. Dingin mencekam, dengan d**a yang penuh sesak. Lagi pula ada Gie yang sedang menunggunya di tepi pantai, dan berharap dia akan kembali. Meera pasti akan kembali, karena masa-masa pahit dan menyesakkan itu telah lama pergi. Lukanya masih terasa, perihnya juga, tapi pikirannya sudah mulai terbiasa. Meera terus berenang. Saat ini adalah pertama kalinya dia berenang tanpa mengenakan sehelai pakaian pun. Entah apa yang tadi dipikirnya. Mendadak dia menyetujui usul Gyan yang aneh itu. Dan juga, perasaannya berdesir, seperti arus di dalam laut yang gelap serta me

