Saga membuka matanya perlahan langsung saja mendapati Amira di sebelah ranjangnya. Menjaganya. Amira mengelus rambutnya. Ibunya tampak seperti orang menangis, terlihat dari kelopak matanya yang agak bengkak. "Mama nangis? Kenapa?" Amira menggeleng, tersenyum palsu. "Enggak ah, mama nggak nangis." "Jangan bohong. Apa yang bikin mama nangis?" Amira mengulum bibir, menggeleng pelan. "Mama cuma khawatir, sama Dara." Saga menaikkan sebelah alis. "Dara kenapa?" "Dara... Diculik." Saga sukses membeliakkan bola matanya kaget. "Hah? Sejak kapan ma? "Udah dua hari." "Kenapa mama gak ngasih tau Saga?" rutuk Saga agaknya kesal. "Mama gak mau kamu malah tambah sakit. Lagipula belakangan kondisi kamu gak stabil, Saga." Saga berdiam diri. Merasa bersalah. Pasti juga karena dirinya yang lemah

