Siasat Baru dan Rencana perang dingin

2104 Kata
"Aku akan mengumumkan hari penobatan dirimu sebagai seorang raja, Pangeran Marquez." Mereka yang sedang duduk di taman kerajaan sambil menikmati teh hangat pun menjadi terkejut "Apa?. Haruskah aku yang menjadi seorang Raja?." Pangeran Marquez menunjuk dirinya sendiri ia masih tak percaya dan kepalanya diisi dengan penuh pertanyaan "Ya, kamu akan menjadi seorang raja selanjutnya." Seorang laki-laki yang selama ini sedang mereka cari, kini sedang berdiri tepat di depan hadapan mereka "Apakah kedatanganku menganggu kalian?." Sontak ketiga pangeran yang kini sedang menghirup teh hangat itu mengangkat wajah mereka untung saja mereka tidak tersedak "Duduklah, Ganiel!." perintah Ratu Alise mempersilahkan dirinya untuk duduk menikmati teh di sore hari bersama seluruh anggota kerajaan "Bisa kita bicara sebentar, Dokter Ganiel?." Marquez segera membawa dirinya dan kedua pangeran pergi kedalam ruang tersembunyi Dokter Ganiel tidak terlihat heran atau takut sama sekali, ia hanya tersenyum menyeringai melihat ketiga anak-anak itu kini menatapnya dengan tajam "Siapa kau sebenarnya?." pertama Pangeran Marquez melakukan interograsi padanya "Baiklah, seperti yang kalian ketahui aku adalah memories, seorang laki-laki yang kalian cari selama ini untuk mendapatkan sebuah jawaban atas masa lalu, benar?." "Dimana kamera yang dulu selalu kamu bawa?." Tanya Pangeran Niguel menadahkan tangannya "Aaah iya, maaf kamera itu ada pada Pangeran Harvey." "Hah?. Bagaimana bisa kamera itu ada pada Pangeran Harvey, apakah dia mengenal siapa dirimu?." Dokter Ganiel hanya terdiam ia tidak ingin menjawab pertanyaan apapun dari ketiga pangeran yang sedang menginterogasinya itu "Aku tidak ingin ambil pusing, aku akan mengirimkan pesan kepada temanku untuk melakukan perjalanan waktu kembali mencari jawaban atas dirimu." Di dalam kerajaan Rishley, Putri Solana terus mengejar Ratu Katrine untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaannya "Ibu, jawab aku mengapa Pangeran Harvey pergi?." "Berhenti mempertanyakan hal itu, Sayang." "Ibu, aku hanya ingin mengetahuinya saja." "Tidak, aku katakan tidak tetap tidak." Putri Solana sangat kesal ia segera pergi meninggalkan ibunya dengan raut wajah kecewa karena tidak mendapatkan jawaban atas apa yang ia tanyakan. Ketiga pangeran tertangkap basah ketika mereka hendak pergi keluar kerajaan "Berhenti di sana!!." Perintah Ratu Alise membuat ketiga pangeran hanya bisa diam mematung tidak berani untuk melawan "Apa yang kalian lakukan?. Marquez!, Kembali kedalam kamarmu sekarang. Dan kalian berdua, kembali ke kamar kalian masing-masing, cepat!!." Ketiga pangeran hanya dapat mematuhi apa yang ibu ratu katakan, kembali kedalam kamar mereka masing-masing hingga terdapat suara panggilan untuk berkumpul di ruangan sidang istana "Aku Ratu Alise akan menyampaikan informasi penting yang akan dilaksanakan besok pagi, bahwa aku akan menobatkan Pangeran Marquez sebagai seorang Raja yang baru. Aku sampaikan kepada kalian semua dan kalian sampaikan kepada seluruh rakyat Stefly!!." Setelah pertemuan itu dilakukan, Pangeran Marquez menemui Ratu Alise untuk menjelaskan mengenai pelaksanaan penobatan yang sama sekali tidak diinginkan oleh Pangeran Marquez "Apakah kamu memiliki permasalahan mengenai penobatanmu sebagai seorang raja?." "Ya, aku sangat keberatan!!. Aku tidak akan menjadi seorang raja jika tidak mendapatkan persetujuan dari kakakku, Pangeran Alarico." "Ya, tentu. Aku akan bertanya langsung padanya. Pengawal, panggil Pangeran Alarico untuk berdiri di hadapanku sekarang." "Baik, ibu Ratu." Pangeran Alarico berdiri tepat didepan hadapan ibu Ratu Alise "Apakah kamu keberatan jika aku menjadikan adikmu sebagai seorang raja?." Alarico tersenyum dengan bijak "aku sama sekali tidak keberatan dengan itu, aku akan senang jika ia menjadi seorang Raja." Pangeran Marquez melirik Pangeran Alarico dengan tatapan sinis dan penuh pertanyaan, setelah mereka berdua keluar dari dalam kamar ibu Ratu. Tangan Pangeran Marquez menarik erat tangan Pangeran Alarico membawanya pergi kedalam kamar untuk bicara mengenai apa yang telah terjadi "Mengapa kakak melakukan itu, apakah kakak lupa kalau apa yang Ratu Alise lakukan adalah suatu kesalahan?." "Aku hanya ingin melakukan jebakan terhadap dirinya. Dia akan melakukan penobatan padamu untuk menjadi seorang Raja lalu akan dia akan menikahkan kamu dengan Putri Solana dan mempengaruhi Putri Solana dengan mengatakan kalau dia bukanlah anak dari Ratu Katrine, dengan alasan Ratu Katrine yang melakukan penukaran pada kalian berdua. Dia ingin menjatuhkan Ratu Katrine." "Lalu, apa keuntungan yang kita dapatkan setelah aku menikah dengan Putri Solana, kak?." Alarico tersenyum sinis "kita akan melakukan…." Alarico berbisik beberapa siasat yang telah ia rancang "Tapi, apakah Putri Solana dapat diajak bekerja sama?." "Karena itu, kita harus segera menemui Putri Solana dan mengatakan apa yang telah kita rancang ini." "Lalu, bagaimana caranya kita untuk dapat pergi kedalam kerajaan Rishley?." Alarico tersenyum ia membuat kedua adiknya itu melakukan penyamaran menjadi kusir kuda yang mengantarkan barang baku kedalam kerajaan Rishley "Kakak, apakah kau yakin kita tidak akan ketahuan." "Shuut diam." Alarico menyuntikan obat tidur yang selalu ia gunakan pada seorang kusir kuda hingga ia pingsan "Bagus, ayo cepatlah." Alarico menunggangi kuda tersebut dan membawa kedua adiknya di belakang kereta kuda, mereka pergi dengan cepat untuk menuju kedalam kerajaan Rishley. "Ibu, mengapa ibu terlihat sangat gelisah?." Tanya Putri Solana "Ratu Alise memintamu untuk menikah dengan Pangeran Marquez." Putri Solana terkejut ia langsung menolaknya "Aku tidak akan menikah dengannya ibu, sebelum aku mengetahui sebenarnya aku anak siapa?." Ratu Katrine sangat tertekan ia sama sekali belum siap untuk mengatakan identitas Putri Solana yang sebenarnya, Putri Solana tersenyum ia memeluk ibunya dengan erat "Siapapun aku, aku akan menjadi putri kesayanganmu." "Putri Solana?." Putri Solana menghapus air mata Ratu Katrine ia mengecup pipi ibunya dengan penuh sayang "walaupun aku bukanlah anakmu, cintaku untukmu tidak akan pernah berkurang seberapa persen pun, ibu." Putri Solana tersenyum dengan hangat ia memeluk erat tubuh ibunya "Anakku sayang." Mereka saling berpelukan dengan erat "Aku juga ingin dipeluk." "Marilah anakku tersayang." Ratu Katrine memeluk kedua anaknya dengan kasih sayang seorang ibu yang sama. "Aku sangat senang dengan sifat kak Alarico yang sekarang, membuatku semakin membuatku nyaman." Niguel tersenyum dengan senang ia telah menemukan sosok seorang kakak yang sangat ia inginkan "Bagaimana kalau kita menepi disini sebentar untuk istirahat?." Mereka menepi di tepi hutan, Pangeran Alarico masuk kedalam kereta untuk melihat bagaimana keadaan adik adiknya "Kalian berdua, ayo makan." Pangeran Alarico memberikan tas berisi buah buahan yang ia bawa dari dalam kerajaan "Selamat makan!!." "Marquez,Niguel maafkan aku jika dulu aku pernah bersikap angkuh dan acuh kepada kalian berdua. Aku sangat menyesal dengan apa yang aku lakukan dulu." "Aku sangat beruntung karena mendapatkan sosok seorang kakak yang seperti ini." Niguel dan Marquez tersenyum dengan penuh kebahagiaan "Sudah sudah, ayo kita kembali makan." Reyyan masih sangat marah dengan ayahnya ia merasa sangat dikecewakan dan merasa di khianati atas kepercayaannya terhadap ayahnya "Mengapa ayah memalsukan identitas ayah?. Dan sebenarnya aku anak dari hubungan ayah dengan siapa?." "Sebenarnya, kamu adalah anak asuhku Rey." Reyyan sangat terkejut ia menangis tak terima atas apa yang ia dengar "Ini sangat menyakitkan untukku, ayah." Reyyan pergi melarikan diri ia menangis sesenggukan tidak terima atas apa yang terjadi padanya "Aku tidak terima dengan itu." Reyyan menangis sesenggukan ia meringkuk memeluk erat tubuhnya. "Kak, jangan pernah berubah ya." pinta Pangeran Niguel membuat Pangeran Alarico tertawa terbahak-bahak "Aku tidak akan pernah berubah, jika sudah ayo kita lanjutkan perjalanan kita." Mereka melanjutkan perjalanan mereka untuk menuju kedalam kerajaan Rishley. "Reyyan?." Ganiel berupaya untuk membujuk anaknya yang mengurung diri didalam kamar tidak bicara apapun hanya menangis "berhentilah berpura-pura Reyyan!. aku sudah lelah bermain. setidaknya ini sudah cukup untuk meyakinkan mereka." Reyyan tertawa "aku juga sudah lelah untuk menjalani semua permainan ini dan aku ingin mereka cepat merubah masa depan." Ratu Katrine sangat gelisah ia berada di dalam ruangannya untuk berpikir mengambil keputusan "Jangan terlalu dipikirkan, ibu ratu Katrine." "Nieva?." "Ibu Ratu, percayalah pada kami kalau kami sudah menemukan jalan kami sendiri untuk menyelesaikan masalah yang terus berdatangan ini." Ibu Ratu Katrine tersenyum ia sedikit mengangguk menyetujui apa yang dikatakan Nieva "Nieva, tolong jaga Putri Solana dengan baik, ya?." "Ibu, aku bukanlah anak kecil lagi." cemberut Putri Solana dari luar pintu ruang kerja Ratu Katrine Ratu Katrine terkekeh "oh iya, ibu lupa kalau usiamu sudah pantas untuk menjadi pasangan Pangeran Marquez." "Ibu berhenti meledekku seperti itu." "Baiklah, maaf." Kerajaan Rishley kedatangan ketiga pangeran yang baru saja dibicarakan.. "Mengapa kalian datang, ini sudah malam." "Putri Solana, jangan seperti itu." Pangeran Alarico tersenyum melihat Nieva yang berdiri tepat di hadapannya, mereka segera masuk kedalam kerajaan untuk membicarakan mengenai pernikahan Pangeran Marquez dan Putri Solana "Aku menolak pernikahan dengan Pangeran Marquez." "Putri Solana, tolong pahami beberapa siasat yang akan aku lakukan ini." "Siasat apa?. Untuk menjebak Ratu Alise agar ia mengakui kesalahannya?." "Ya, kita akan mengatur siasat. Kalian akan menikah dan berpura-pura untuk mendukungnya, ia akan pasti akan berupaya untuk membuat kalian berdua membenci Ratu Katrine dengan alasan karena Ratu Katrine telah membuang Pangeran Marquez sebagai anaknya dan dia pasti akan mempengaruhi dirimu untuk membenci Ratu Katrine dengan mengatakan kalau Ratu Katrine telah melakukan penukaran anak." "Mengapa ia harus menjebak ibuku seperti itu?!." "Karena ia menganggap Ratu Katrine sebagai ancaman untuknya karena Ratu Katrine adalah istri dari pangeran Harvey, ia telah merencanakannya aku yakin itu, Siapapun identitas dokter Ganiel kalau dia adalah Memories, tidak boleh ada yang tahu tentang hal itu." "Mengapa?." "Karena, jika Ratu Alise tahu kalau Dokter Ganiel adalah Memories, maka ia akan menangkap Pangeran Harvey juga karena menganggap kalau Memories adalah ancaman utama yang akan membuat Ratu Alise didalam penjara." Mereka semua terheran heran dengan penjelasan dari Pangeran Alarico "Kalau begitu, kita harus menemukan dimana keberadaan Harvey." "Pangeran Harvey?. Namanya sudah menghilang dari daftar negara." "Kejam sekali, apakah ia telah meninggal dunia?." "Tidak, aku sangat yakin. ia masih berada di bawah tahanan ibu Ratu Alise karena ketahuan mendamaikan kedua wilayah." bantah Ratu Katrine "Aku hanya ingin menjalankan siasat itu, bisakah kalian bekerjasama?. Demi satu tujuan yang sama." "Aku akan menuruti apa saja yang diperintahkan ibu Ratu Alise demi menjebak dirinya." "Jadi, untuk saat ini kita tidak bisa pergi kembali ke dunia masa lalu karena besok akan ada penobatan Pangeran Marquez sebagai seorang Raja." "Benar sekali, kedatangan kami hanya untuk mengatur siasat ini, jadi kami akan kembali kedalam kerajaan sebelum matahari terbit." Keesokan harinya adalah penobatan Pangeran Marquez untuk menjadi seorang raja, ibu ratu meletakkan sebuah mahkota di atas kepalanya "Dengan ini, aku menyerahkan jabatanku sebagai seorang ratu kepada anakku Pangeran Marquez yang akan menjadi seorang Raja." Pelaksanaan penobatan sebagai Raja itu ditonton oleh seluruh rakyat kerajaan Stefly "Hidup Ratu Alise! Hidup Ratu Alise!." Sorak Sorai mereka menyebut nama seorang Ratu yang telah turun tahta. Ibu Ratu Alise memberikan semua keperluan sebagai seorang Raja padanya, mulai dari cap stempel kerajaan hingga ruangan pribadi kerajaan. "Jadilah seorang Raja yang baik." Ibu Ratu Alise memberikan pelukan padanya. Pangeran marquez merasakan beban berat di dalam hatinya ia merasakan ketidak nyamanan terhadap saudaranya, sampai Pangeran Alarico menepuk pundaknya "Hei, aku bangga padamu. Selamat karena kamu telah menjadi seorang Raja." "Kak, maafkan aku." "Hei, tidak masalah. Jangan pikirkan hal itu, sekarang kita hanya akan menjalankan siasat kita yang selanjutnya, kamu siap?." "Aku benar-benar tidak nyaman dengan ini, kak." "Aku akan mendukung dan mendorongmu untuk lebih baik, kamu tidak sendirian," Pangeran Alarico melihat kecemasan yang tampak didalam wajah adiknya "Hei, jangan dipikirkan. Semuanya akan baik-baik saja.", Lanjutnya "Kak, aku menyayangimu." Pangeran Alarico tertawa geli "aku juga menyayangimu, sudahlah ayo kita pergi untuk merayakan penobatanmu sebagai seorang Raja." Pangeran Alarico menjadi sangat bijak, karena beban hatinya yang selalu membuatnya hidup penuh dengan tekanan penyesalan telah menghilang. Ketiga pangeran itu, makan malam bersama merayakan penobatan Pangeran Marquez sebagai seorang raja "Aku ingin ikut juga." Reyyan yang tiba-tiba datang, ia langsung duduk diantara mereka, wajahnya terlihat sangat lesu sama sekali tidak memiliki gairah semangat untuk menjalani harinya. Pangeran Alarico terus memperhatikan dirinya, ia memegang dahi Reyyan yang sama sekali tidak menunjukan kalau ia sedang sakit "Rey, apa yang terjadi?." "Aku hanya anak pungut dari ayahku Ganiel." Sebuah siasat yang dilakukan Reyyan sangat mempengaruhi mereka. Mereka sama-sama terkejut dan dibarengi oleh tangis Reyyan yang pecah di depan mereka, ia meluapkan kesedihannya didepan seseorang yang dapat ia percayai "Rey, apakah itu benar?."Pangeran Niguel kembali bertanya "Siapapun orangtuamu, tetap anggap seseorang yang telah mengasuh sedari bayi adalah orangtuamu. Mereka telah membesarkanmu, hubungan keluarga tidak hanya dibentuk dari ikatan ibu dan anak tetapi terkadang orang asing juga lebih memberikan cinta yang lebih tulus dari orang tua kandung kita." Nasihat Raja Marquez di dengar baik-baik oleh Reyyan "Waah, aku salut denganmu Raja Marquez." ledek kakaknya Alarico "Kakak, berhenti meledekku seperti itu. Aku hanya melakukan apa yang aku lakukan seperti biasanya." ngambek Raja Marquez "Hahaha, baiklah ayo kita lanjutkan saja memakannya." Mereka terdiam setelah melihat Pangeran Niguel yang menghabiskan seluruh makanan yang disajikan di atas meja "Makananku, Niguel!." Raja baru itu kembali seperti sewaktu mereka masih kecil ia bercanda dengan bebasnya tanpa memikirkan tata aturan yang hampir mencekiknya itu "Maafkan aku kak." Rengek Pangeran Niguel membuat benteng untuk dirinya sendiri. "Kamu memang sangat menyebalkan, sekarang cobalah makan ini." Raja Marquez membalas perbuatan adiknya dengan menyuapinya wasabi hingga ia tidak kuasa menahan pedasnya wasabi sebuah tumbuhan berwarna hijau yang rasanya lebih pedas dari cabai di Indonesia "Ini sangat menyenangkan." Mereka yang menjadi penonton atas pertengkaran Pangeran Niguel dan Raja Marquez hanya tertawa geli.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN