Seorang pangeran kini telah berubah menjadi seorang Raja, pemegang tahta di dalam kerajaan tertinggi diantara kerajaan lainnya. Raja Marquez kini sedang mempelajari beberapa ilmu baru untuk mempersiapkan dirinya menjadi seorang Raja yang baik untuk seluruh rakyatnya.
"Sepertinya kamu sedang sangat sibuk ya?." ledek Pangeran Alarico yang dengan bijaknya memberikan tahta kepada adiknya demi suatu siasat
"Kak, apakah menurutmu aku mampu untuk ini semua?."
Pangeran Alarico merangkulnya memberikan dorongan kekuatan kepadanya "hei, jangan khawatir. Aku akan membantumu, ayo kita belajar."
"Tapi kak, bagaimana jika aku melakukan kesalahan?. Sebuah kesalahan yang dapat membuat seluruh rakyat kecewa padaku."
"Suatu kesalahan akan membuat seseorang menjadi lebih dewasa, suatu kesalahan adalah hal yang wajar, jangan takut."
Pangeran Alarico terus memberikan semangat kepada adiknya itu
"Keluarga kerajaan Rishley akan segera datang" Alarixo tersenyum ia senang akan menyambut kedatangan seorang wanita yang akan menjadi adiknya
Kerajaan Stefly menyambut kedatangan keluarga kerajaan Rishley dengan meriah, mereka menyuguhkan banyak sekali makanan yang tersaji di atas meja makan untuk membicarakan pernikahan Raja Marquez dengan Putri Solana.
"Jadi, kapan tanggal pernikahannya akan segera dilaksanakan?." Tanya Pangeran Alarico yang sangat antusias
Putri Solana menunduk tidak nyaman dengan suasana tersebut
"Bisakah aku bicara dengan Putri Solana?." Pinta Raja Marquez
Mereka saling menatap dibawah bulan yang indah
"Apakah kamu keberatan menikah denganku, Putri?." Raja marquez dapat melihat dengan jelas kegusaran yang terpancar dari dalam bola mata Putri Solana
"Bukan aku tidak ingin menikah denganmu, Tapi aku sedang dalam dilema, Raja"
"Semuanya akan berjalan sesuai rencana, jangan khawatir Putri Solana"
"Bagaimana jika rencana kak Alarico gagal dan membuat ibuku menjadi tersangka?. Aku tidak ingin mencelakai keluargaku sendiri."
"Putri Solana, apakah kamu masih mempercayai aku sebagai kekasihmu?." Seorang raja menatap mata wanita yang ia cintai dengan tatapan penuh keyakinan
"Aku takut, Raja" Putri Solana menangis membuat Raja menarik tubuhnya dan segera memberikannya pelukan erat
"Aku tidak akan memberikan kesulitan pada keluargamu, Sayang."
Di lain tempat, Pangeran Alarico juga sedang sangat gusar
"Pangeran?."
"Nieva?"
Nieva menatap kedua mata kekasihnya dengan tatapan penuh cinta
"Ada apa pangeran?."
"Tidak apa, aku hanya takut jika rencanaku membahayakan untuk kedua adikku"
"Pangeran, semua keputusan yang kita ambil pasti memiliki sisi positif dan negatif. Jika kamu tidak pernah berani untuk mengambil sebuah keputusan maka selamanya kamu tidak akan menjadi dewasa. Hadapi segala sisi negatifnya, semua masalah pasti memiliki jalan keluarnya. Kalaupun memang hal itu membahayakan keduanya, pasti kita akan mengetahui jalan keluar untuk bebas dari bahaya tersebut. Percayalah padaku, pangeran"
Pangeran Alarico hanya ingin memeluk erat seorang wanita bijak yang sudah lama menjadi kekasihnya itu
"Aku sangat mencintaimu wanita bijak. Selalu ada di setiap aku sedang lemah. Nanti malam, temani aku tidur lagi ya"
Nieva tersenyum malu wajahnya sangat merah
"Hentikan itu, pangeran. Jangan meledekku"
Mereka saling berggenggaman tangan dan berjalan menuju ruang pertemuan
"Putri Solana, kami sudah memilih beberapa gaun pernikahan untukmu. Pernikahan kalian akan dilaksanakan satu Minggu lagi."
Kegusaran semakin membuncah hati Putri Solana ia hanya dapat terdiam membisu tanpa jawaban yang pasti
"Putri Solana, mengapa diam?. Apakah kamu tidak suka dengan gaun ini?"
Putri Solana diam tak menjawab, isi kepalanya penuh dengan semua permasalahan rasanya ia hanya ingin menangis saja
"Ibu, bisakah aku mengajak adik ipar untuk berjalan denganku?." Ajak Pangeran Alarico
Mereka berdua berjalan menuju beberapa ruangan, sampailah dimana mereka berhenti karena Putri Solana menangis
"Aku belum siap kak, aku sangat takut"
"Putri, apakah kamu percaya dengan kekasihmu yang akan menjadi suamimu?. Apakah kamu mempercayai dirinya kalau ia akan melindungimu?"
Putri Solana semakin menangis
"Putri Solana, tatap mataku"
Putri Solana menatap kedua mata seorang kakak yang akan menjadi kakak iparnya
"Katakan padaku, apa yang membuat hatimu cemas?."
"Aku takut jika ibuku akan dijadikan tersangka."
Pangeran Alarico mengambil tangan Putri Solana ia meletakkan tangan Putri Solana tepat di atas kepalanya
"Aku, Pangeran Alarico yang akan menjadi kakak iparmu bersumpah kalau sampai siasat ini membahayakan keluargamu, maka aku tidak akan pernah memaafkan diriku dan aku akan diasingkan dari kerajaan."
"Kakak, berhenti jangan bersumpah seperti itu"
"Sekarang, aku berani menjamin keselamatan ibumu. Apapun yang terjadi padanya, aku akan bertanggung jawab"
Putri Solana mengangguk ia menghapus air matanya dan segera kembali ke ruang pertemuan dimana mereka masih membicarakan tentang gaun pernikahan
"Baiklah, Putri Solana. Kamu ingin memilih warna apa dan seperti apa gaun yang kamu inginkan, nak?"
"Aku ingin yang ini saja"
Melihat perubahan yang terjadi pada Putri Solana membuat Raja Marquez tersenyum lega, setidaknya kini seorang wanita yang akan ia nikahi itu telah mempercayai dirinya.
"Semuanya karena dirimu kak, terimakasih telah membuat wanita keras kepala itu mempercayaiku"
Pangeran Alarico tersenyum ia menepuk pundak adiknya
"Apa yang aku berikan kepada istrimu, ini semua karena Nieva. Wanita itu, dia hebat untuk membuat hati semua orang yakin padanya"
Pangeran Alarico mendatangi kekasihnya yang sedang mandi di dalam pemandian kerajaan
"Kalian harus menggosok tubuhnya dengan sangat bersih karena dia akan bermalam dengan seorang pangeran yang sangat tampan disini"
Pangeran Alarico menatap mata kekasihnya dengan wajah yang terus menggodanya
"Aku menolak tidur denganmu, kita belum menikah dan aku akan tidur di kamar yang telah di siapkan untukku"
"Ooh begitu?. Kamu yakin untuk tidur di sana?"
"Sangat yakin, aku tidak ingin bersama pangeran cengeng sepertimu"
"Baiklah, tidur di manapun yang kamu inginkan dan jangan memintaku untuk tidur bersamamu"
Pangeran Alarico terkekeh ia berlari segera membawa patung manekin masuk kedalam kamar yang akan dipakai Nieva.
"Segarnya, air disini sangat hangat"
Nieva berjalan memasuki kamarnya ia sangat terkejut setelah melihat patung manekin sedang tertidur di atas ranjangnya
"Permisi, apakah aku boleh tidur disini?." Nieva bertanya dengan suara yang sangat ketakutan
Pangeran Alarico mengumpat didalam lemari pakaian tersebut ia mengeluarkan suaranya "tidak boleh, ini adalah kasur milikku"
Nieva semakin merinding takut "engg… tapi-tapi aku hanya ingin disini juga. Kita berbagi kasur saja,ya?"
"Tidak bisa, ini adalah kasur kesayanganku"
"Tapi, aku hanya ingin disini satu malam saja kumohon ya, biarkan aku disini ya" pinta Nieva ia bergetar ketakutan
"Tidak boleh!. Atau kau akan aku kutuk!"
"A-apa, apa kutukannya?. Apapun kutukannya, tapi jangan kutuk aku untuk menikah dengan pangeran Alarico"
Mendengar hal itu membuat Pangeran Alarico bingung ia mengerutkan alisnya dengan sangat bingung
"Mengapa begitu?"
"Aku tidak ingin Pangeran memiliki seorang istri yang bukan putri kerajaan, aku-aku tidak mau!"
Pangeran Alarico keluar dari dalam lemari membuat Nieva sangat bingung
"Jangan-jangan, kau yang menghasilkan suara menakutkan itu?"
Pangeran Alarico tertawa meledek ia segera berlari ke kamarnya Nieva terus mengejarnya mereka terjatuh di atas ranjang saling menatap satu sama lain
"Mengapa kamu tidak ingin menikah denganku?. Apakah aku terlalu tampan untukmu?" Pangeran Alarico masih dapat meledeknya meskipun hatinya sedang sangat sedih setelah menerima pernyataan penolakan dari kekasihnya itu
"Karena aku sangat kesal padamu!"Nieva menarik keras daun telinga pangeran membuatnya merintih sakit
"Berhenti ini menyakitkan"
Nieva melepaskan tangannya, Pangeran Alarico melingkarkan tangannya di pinggang kekasihnya
"Nieva, menikahlah denganku tidak peduli apa perkataan orang lain, aku hanya ingin mencintaimu"
Nieva tersenyum ia hanya mengangguk
Ibu Ratu Katrine mendeham melihat mereka akan berciuman dan langsung menggagalkan ciuman itu mereka juga langsung berdiri berjauhan
"Sepertinya, ini akan menjadi dua pernikahan"ledek ibu ratu Katrine
"Tidak ibu ratu, aku sama sekali tidak tertarik menikah dengannya dia adalah pangeran sesat!"kesal Nieva langsung mendekati ibunya
"Tunggu tunggu, maaf aku masih banyak sekali urusan aku tidak ingin mencampuri urusan kalian"
"Ibuuu"rengek Nieva membuat Pangeran Alarico tertawa senang
"Apa kau puas?. Kau puas menertawakan aku"
Nieva kembali menarik telinganya dengan sangat kesal
"Berhenti menjiwitku, bagaimana jika nantinya aku tuli apa kau ingin anakmu memiliki ayah yang tuli?"
Nieva tersenyum malu ia semakin kesal pada kekasihnya itu.
"Apakah sekarang waktu yang tepat untuk bercanda Alarico!!" Kesalnya mereka berdua berlarian didalam kamar saling meledek
Berbeda dengan di kamar Raja Marquez, mereka saling berdiam memikirkan permasalahan apa yang akan terjadi
"Kamu baik-baik saja, Putri?"
"Iya"
Putri Solana memegang kakinya yang terkilir dengan meringis sakit
"Kakimu sakit?. Kemarilah"
"Tidak apa, nanti juga pulih"
Seorang raja kini berlutut dihadapan seorang wanita yang akan menjadi ratu baginya
"Kamu adalah calon ratu kerajaan ini, sudah kewajibanku untuk menjaga dirimu"
Sang raja itu meletakkan kaki calon ratu kerajaan di atas pahanya, ia memijat sedikit pergelangan kakinya dan mengolesnya dengan ramuan herbal kerajaan
"Raja Marquez, aku-aku minta maaf,ya"
"Ratuku"
Mereka saling bertatapan, perlahan air mata Putri Solana kembali mengalir
"Aku tidak suka melihat air matamu"
Raja Marquez menghapus air mata Putri Solana dengan tangannya yang lembut
"Boleh aku meminta pelukan darimu?" Pinta Putri Solana ia sangat ingin menyandarkan semua perasaan lelahnya di pundak calon suaminya
Mereka saling berpelukan dengan erat, Putri Solana yang sedang sangat rapuh itu menangis di pelukan calon suaminya
"Raja Marquez, maafkan aku ya"
"Kamu tidak salah apapun, berhenti untuk meminta maaf"
Pernikahan mereka hanya akan menghitung waktu
"Kamu terlihat sangat cantik, Putri" puji Nieva tersenyum dengan penuh kebahagiaan
"Nieva, bisakah kamu membantuku?"
Nieva sangat kaget setelah mendengar permohonan dari Putri Solana
"Apa?!. Itu hanya akan membuat malu kerajaan. Aku tidak mau, Putri"
"Kumohon, Nieva"
"Tidak, tidak. Aku hanya ingin menikah dengan Pangeran Alarico"
Pernikahan mereka akan segera dilaksanakan, Raja Marquez menggenggam erat tangan Putri Solana disampingnya mereka berjalan menuju altar pernikahan
"Dengan ini, aku bersumpah akan selalu bersama dengan wanita yang akan menjadi istriku dan akan mendampingi hidupku dalam keadaan sulit dan bahagia"
Pernikahan tersebut berakhir, mereka saling bertukar cincin dan berpelukan dengan erat.
"aku bersumpah akan selalu mendampingi suamiku dalam keadaan senang dan sedih"