Seorang Ratu Yang Melarikan Diri

1024 Kata
Siasat pun dimulai.... Setelah pernikahan Ratu Solana dengan Raja Marquez, ibu Ratu Katrine langsung mendekati Ratu Solana dengan ketidakwajaran "Ratu Solana, kamu adalah seorang pimpinan diantara ketiga Ratu lainnya." Ratu Solana tersenyum ia berpura-pura mengiyakan atas apa yang dikatakan ibu Ratu Alise "Ada apa ibu Ratu?. Mengapa anda terlihat gelisah."Tanya Ratu Solana "Seharusnya, seorang pimpinan memiliki sebuah catatan akta kelahiran di dokumen ini, agar identitasmu tidak pernah diragukan oleh siapapun." "Tapi, aku tak pernah melihat akta kelahiranku, ibu Ratu" "Mengapa demikian?. Mengapa ibumu tidak pernah memberikanmu sebuah informasi mengenai anaknya?. Ini aneh, Ratu Solana" Ratu Solana berupaya untuk tetap berada di pihak Ratu Katrine "Tidak, apakah kamu mengetahui sesuatu?." Ratu Katrine menyodorkan sebuah akta kelahiran dirinya "Ini apa?. Mengapa ibu ratu mengetahui tentang kelahiranku?." "Putriku, kamu adalah anakku." Putri Solana tertawa ia tetap berusaha untuk tenang sejenak "Anakmu?. Lalu, mengapa kamu membuangku seperti sampah ibu?." "Karena ibu Ratu Katrine tidak pernah ingin Raja Marquez menjadi anaknya." jelas Ratu Katrine Putri Solana menggenggam erat gaunnya ia terbungkam kaku "lalu, mengapa ibu menjadikan dirinya sebagai seorang raja dan bukan aku yang menjadi seorang ratu?." Ratu Alise terdiam ia tersenyum memegang. Wajah Putri Solana dengan tangannya yang lembut "Aku tidak ingin Ratu Katrine menjadi tersangka atas pertukaran anak disini" "Apakah ibu memiliki sebuah bukti yang dapat membuat semua orang percaya kalau Marquez adalah anak dari Ratu Katrine?." "Iya" Ibu ratu Alise memberikan sebuah surat perjanjian yang menyatakan kalau Ratu Katrine setuju dengan pertukaran anak tersebut "Aku hanya ingin putriku kembali" Putri Solana sangat terkejut ia mulai terbawa arus ibu Ratu Alise tapi ia sekuat mungkin untuk bertahan tetap tegar tidak terpengaruh apapun meskipun hatinya sedang sangat lemah. "Putri Solana?." Putri Solana tetap memainkan perannya dengan baik ia menangis dan memeluk erat ibu Ratu Alise "Ibu maaf, aku anak yang sama sekali tidak tahu diri. Kamu adalah ibu terbaik disini." Tak kuasa menahan perasaan berkecamuk cemas dan kesal, Putri Solana segera menemui suaminya "Raja Marquez?" "Ada apa, sayang?" Ia memberikan sebuah akta kelahiran dan surat perjanjian tersebut, hal itu membuat Pangeran Marquez langsung bergegas menemui kakaknya Pangeran Alarico "Ya, benar sekali. Bukti telah kita dapatkan, satu satunya cara adalah kita harus segera mencari alasan mengapa ibu ratu Katrine melakukan hal semacam ini." "Tapi, bagaimana bisa kita pergi dari dalam istana, kak?." "Aku memiliki siasat, kalian berdua tenanglah dan tetap ikut bersamaku." Diam-diam pangeran Alarico membawa kedua pasangan berserta adiknya untuk pergi menemui Reyyan yang menyimpan arloji pemutar waktu, mereka melihat Rey yang sedang melakukan penelitian sesuatu "Rey, bisakah kamu membawa kami kembali ke masa lalu?." "Tunggu, aku sedang melakukan suatu penelitian." "Apa?." Reyyan tersenyum sinis ia terlihat sangat bersemangat "apa yang dilakukan oleh ibu Ratu Katrine setelah kematian adiknya, mengapa terdapat rumor kalau ibu Ratu Katrine kabur dari kerajaan Rishley" Niguel menepuk kedua tangannya dengan sangat bangga "wah, aku sangat bangga dengan Ratu Katrine yang memiliki banyak sekali misteri didalam hidupnya" "Dan kita harus mengetahui dimana Pangeran Harvey untuk mendapatkan kamera rekaman itu." Mereka semua sama-sama pergi kembali ke masa lalu, sebuah jarum-jarum arloji kini diputar kembali ke belakang untuk mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya… perjalanan mereka belumlah selesai.. mereka akan kembali ke masa lalu untuk menemukan sebuah bukti dan mencari jawaban atas apa yang mereka cari. Seorang Ratu duduk termangu merenungi nasibnya setelah ia membaca sebuah surat di dalam kamarnya "Apakah kita berada didalam lemari lagi?" Tanya Niguel "Shuuut" perintah Reyyan untuk ia tetap diam "Aku tidak bisa membiarkan dirinya bekerja sendirian." Ratu Katrine memakai jaketnya dan segera bergegas diam-diam kabur dari istana. "Apa isi suratnya?" Raja Marquez mengambil sebuah surat tersebut dan segera mengambilnya ia meletakkan surat tersebut di dalam kantungnya. Mereka bergegas berlari mengejar seorang Ratu yang saat ini sedang menjadi target mereka. Diam-diam mereka naik didalam kereta kuda Ratu Katrine "Aku harus segera bergegas pergi" Ia menunggangi kuda yang di belakangnya berisi ketiga pangeran dan temannya. "Cepat lihat apa isi suratnya" perintah Reyyan dengan sangat penasaran Pangeran marquez membuka surat tersebut dan membacanya Temui aku di gerbang perbatasan, kita sama-sama akan menyatukan kedua wilayah ini… kumohon, bantu aku, Katrine… Harvey, kerajaan Selatan. Dengan membaca suratnya sudah membuat mereka bergidik merinding "Jadi, Ratu Katrine dan Pangeran Harvey memiliki tujuan yang sama yaitu menyatukan kedua bagian wilayah?." Tiba-tiba saja kuda yang tadinya berlari sangat cepat itu, kini berhenti membuat mereka turun dari dalam kereta untuk menemui Ratu Katrine yang sedang bicara dengan Raja Erando "Kumohon, tolong jaga Ratu Hanah untukku, kamu mengerti?." "Baiklah" Mereka yang mengumpat sambil mendengar bisikan mereka berdua. "Baiklah, aku harus segera bergegas pergi sekarang" Ratu Alise mengambil kunci kandang kuda untuk menunggangi kuda putihnya "Dari siapa kuda putih itu?." "Ratu Hanah" jawabnya ia segera menunggangi kuda itu dengan cepat dan berlari pergi. Pangeran Alarico menemui Erando yang masih terlihat jelas wajah cemasnya "Boleh aku bertanya?." "Aku sudah sangat lama tidak melihat kalian semua, apa yang ingin anda tanyakan Pangeran?" "Mengapa ia memintamu untuk menjaga kuda putihnya itu?" "Mengapa kakak bertanya hal sepele seperti itu sih?" Gumam Pangeran Marquez "Karena, ibu ratu Rishley tidak mengizinkan anaknya untuk memelihara seekor kuda" "Aneh sekali" "Ibu Ratu sangat benci dengan hewan" jawabnya "Kamu baru saja diminta untuk menjaga Putri Hanah, apakah kamu tahu alasan dia memintamu itu?." Pangeran Erando tertawa "apapun alasannya, aku sangat yakin ia merencanakan hal yang terbaik untuk kami setelah melihat bagaimana sahabat kami saling membunuh." Pangeran Alarico tercengang "jadi, Ratu Hanah mengetahui tentang kematian Ratu Edelweis?." "Dia tahu, tapi ia berusaha untuk menutupi hal tersebut karena tidak ingin saudaranya di eksekusi mati" Mereka sangat terkejut dan terdiam sejenak "Begitu ya, jadi Ratu Hanah berupaya untuk melindungi Ratu Alise sementara Ratu Alise selalu jahat padanya" "Sudahlah, ayo bantu aku membersihkan rumput ini" "Bolehkah kami membantu anda untuk menjaga Ratu Hanah?." Pinta Pangeran Alarico "Tapi, aku sangat penasaran dengan keadaan Ratu Katrine" rengek Putri Solana meminta mereka untuk segera mengejar seorang Ratu yang sudah pergi sangat jauh itu "Baiklah, tapi ingat kalian harus menjaga diri kalian baik-baik, tapi apakah kalian tahu dimana peta menuju wilayah selatan dan kemana arah pergi Ratu Katrine?" "Biarkan aku dan Nieva pergi mengulangnya" Mereka berdua pergi meninggalkan keempat pangeran itu dan mengulang sebuah kejadian yang baru saja terjadi untuk meminta Ratu Katrine membawa mereka pergi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN