Hilangnya ingatan seorang pangeran

2087 Kata
Setelah mereka mengetahui kalau Ganiel adalah Memories, untuk beberapa waktu mereka memutuskan untuk tidak berkomunikasi lagi dengan Reyyan "Kak, apakah sebaiknya kita kembali menghubungi bagaimana kabar Rey?" Niguel berupaya membujuk kakaknya ia tidak ingin mereka semkin larut dalam pertengkaran "Kami tidak memiliki masalah apapun dengan Rey, hanya ingin tahu apa alasannya telah bersikap seolah olah ia tak tahu kalau ayahnya adalah seseorang yang sedang kita cari" "Tapi.." Niguel kehabisan kalimat untuk mengalahkan pendapat kakaknya. Sementara Putri Solana dan Nieva terus berdiam diri di dalam kamar "Aku sangat tidak menyangka kalau dokter Ganiel adalah memories seseorang yang selalu kita cari" Keluh Putri Solana. Sementara Reyyan berada didalam kamarnya ia mencari bukti-bukti mengenai masa lalu sang ayah "Apa ini?" Reyyan menemukan sebuah foto memories bersama Harvey "Untuk menemukan semua bukti tentang ayah, aku harus pergi ke wilayah selatan untuk menemui Harvey dan bertanya mengenai ayahku. Oh ya, untuk menemui Harvey aku harus menemui ibu Ratu Katrine" Alarico sangat geram, ia tidak bisa lagi menunggu sebuah kesempatan untuk membuat ibunya dapat bertahan hidup. "Aku tidak bisa lagi menahannya" Mereka sama-sama pergi kedalam kerajaan Rishley secara diam-diam tanpa ketahuan ibu Ratu Alise mereka menaiki kereta kuda yang dikendarai oleh Marquez, perjalanan menempuh kerajaan Rishley selama satu harian. Putri Solana semakin resah sampai ia menemui Reyyan "Rey, mengapa kau disini?" "Putri Solana" panggil marquez Ketiga pangeran itu kaget melihat Reyyan yang juga berada disana "Mengapa kau ada disini" mereka saling bertatapan dengan tatapan dingin Di atas meja makan, kehadiran mereka disambut baik oleh Ratu Katrine "Bagaimana, apakah perjalanan kembali ke masa lalu sangat menyenangkan?" Katrine berusaha kembali menghangatkan suasana setelah melihat tatapan dingin marquez kepada Reyyan "Mengapa?. Apakah kalian berdua bertengkar?" "Aku tidak menyangka kalau ayahmu adalah memories" Sontak ibu Ratu Katrine terkejut ia langsung melirik ke arah Reyyan "Kau adalah anak dari Ganiel yang merupakan Memories?" Ratu Katrine terlihat sangat kaget setelah mengetahui siapa Reyyan sebenarnya "Ya, ayahku adalah Ganiel tapi aku sama sekali tidak tahu mengenai masa lalu ayahku, yang aku tahu dia sangat mencintai ibu Ratu Alise karena ia seringkali mengumpulkan berbagai foto ibu Ratu Alise" Ratu Katrine mengerutkan alisnya heran "tunggu, maksudmu mengumpulkan semua foto fotonya?" "Ya, dia sangat mencintai wajah dari Ratu Katrine" "Itu bukanlah cinta Rey, itu hanyalah ambisi. Ratu Alise telah dijadikan target" Mereka kembali terkejut "Jadi, ibu Ratu Alise hanyalah target dari ayahku?" "Kurang lebih seperti itu" "Saat ini aku mempertanyakan, kau adalah anak dari siapa Rey?. Siapa ibumu?" Reyyan terdiam senyap "Apakah kamu tahu dimana Raja Harvey?" Reyyan mengganti topik pembicaraan Mendengar namanya membuat Putri Solana langsung melirik ibunya yang berhenti untuk memasukan makanan kedalam mulutnya "Maafkan aku, apakah yang aku katakan adalah salah?" Reyyan berdiri dari bangkunya dan membungkuk dengan penuh hormat "Maafkan aku Ratu Katrine" "Tidak perlu seperti itu. Hal wajar jika kau bertanya tentang Harvey kepadaku karena aku adalah istri dari Pangeran Harvey dan alasanmu bertanya mengenai dirinya adalah kau ingin menemuinya untuk mencaritahu dimana keberadaan ayahmu, benarkan?" "Iya, benar" "Tapi maafkan aku Rey, aku tidak bisa memberitahumu dimana dia. Karena, ayahmu sendirilah yang telah menjebak dirinya" "Lalu, kemana aku harus mencari ayahku?" "Mungkin kalian harus kembali lagi ke masa lalu untuk mencaritahu mengapa ayahmu bisa menghilang, Rey" "Baiklah, mungkin saja ayahmu Rey sedang terjebak di dalam hutan mimpi yang tak tersembunyi"Niguel kembali bicara dengan cirinya yang memiliki sifat konyol Mereka kembali menelusuri setiap bagian tempat yang ada di dalam masa lalu demi mencari keberadaan ayahnya, setibanya di sana terdengar keramaian dan kegembiraan dari orang-orang sekitar. "Aku pasti akan membunuhmu Ratu Edelweis" ancam Ratu Alise yang sedang b******u didalam pernikahan Edelweis dengan Erando. Semua para hadirin ikut bahagia atas pernikahan mereka. "Aku merasa kasihan padamu, Alise. Kau harus bersabar ya, aku sangat yakin pasti kamu akan seseorang lebih" Ratu Alise berjalan untuk kembali mengikut kemanapun Edelweis pergi, "Erando sayang" Edelweis kembali manja-manja di pelukan pangeran Erando. "Aku sangat menyayangi dirimu, Erando" Mereka berdua tinggal didalam kerajaan Bancroft setelah beberapa tahun menikah,Mereka seperti merasakan percepatan waktu dimana akhirnya Ratu Edelweis di berikan seorang anak laki-laki yang sangat disayangi oleh kedua pihak keluarga "Aku akan memanggilnya pangeran Alarico" nama itu adalah pemberian dari Raja Bancroft Alarico melihat dirinya sendiri yang masih kecil membuat hatinya tak kuasa menahan tangis "Alarico?" Nieva menyandarkan kepala Alarico tepat di atas pundaknya dan menepuknya secara berulang "Aku sangat rapuh, Nieva" "Aku mengerti kok, tidak apa" Alarico menangis sesenggukan "maaf jika aku menangis ya" "Hei, setiap orang pasti memiliki hari dimana ia menjadi sangat lemah dan menangis sejadinya. Aku disini untukmu, Rico" Sewaktu kecil Alarico memang sangat dimanja dan juga di berikan perhatian yang lebih ia selalu bermain dengan Ratu Edelweis "Alarico, kemari nak" "Ibuuu!!!" Alarico melompat dan memeluk erat ibunya dengan perasaan sangat bahagia. Mereka berdua terlihat sangat bahagia, setiap kebahagiaan mereka selalu saja diperhatikan oleh Ratu Alise. "Ratu Edelweis?" Sapa Ratu Alise membuat seorang ratu yang sedang menggendong anak itu terlihat ketakutan "Mengapa wajahmu terlihat seperti sangat ketakutan, aku datang tidak untuk membunuh anakmu" "Jangan dekati anakku apapun yang terjadi, jangan dekati dia" Ratu yang sedang menggendong anak itu semakin menyembunyikan anaknya didalam pelukan eratnya "Tidak akan, aku datang hanya untuk mengajukan ini" Ratu Edelweis menggenggam erat sebuah surat "Apa ini Alise, jangan bermain main denganku" "Sebuah surat, tolong berikan kepada Raja Erando, ya?" Ratu Alise pergi setelah ia memberikan sebuah surat mengenai kerajaan Stefly dan kerajaan Bancroft "Apa yang diberikan Ratu Alise?. Mengapa ia memberikan sebuah surat aneh itu" Setelah membaca surat pemberian dari Ratu Alise, Dengan marah Raja Erando segera pergi menemui Ratu Alise jarak kerajaan Bancroft ke kerajaan Stefly hanyalah tiga jam perjalanan, karena Kerajaan Bancroft berada di tengah antara kerajaan Rishley dan kerajaan Stefly. "Kau tidak bisa melakukan hal itu, Alise!!" "Mengapa?. Aku mencintaimu, mengapa tidak boleh?" Ratu Alise menunjukan wajah menantang manjanya "Hentikan, baiklah aku akan melakukan apapun yang kau minta tapi kau tidak boleh melakukan bunuh diri" "Berhubungan denganku malam ini saja, jika kau menolak maka aku akan melakukan bunuh diri" "Baiklah, aku setuju" Ratu Edelweis pulang kembali kedalam kerajaanya dengan raut wajah penuh kecewa, jarak kerajaan Rishley dan Bancroft hanya empat jam perjalanan "Kakak?" Sapa Ratu Edelweis Ratu Katrine melihat adiknya yang matanya membengkak karena menangis ia segera memeluk erat adiknya "Aku ingin meniduri Alarico dahulu" Setelah ia pergi untuk meniduri anaknya, Ratu Edelweis pergi untuk cerita dengan kakaknya Ratu Katrine "Raja Erando melakukan hubungan intim dengan Ratu Alise" Mendengarnya saja sudah membuat Ratu Katrine sangat jijik "Dia bukanlah adik iparku lagi" "Tidak kak. Dia masih tetap menjadi adikmu, wajar saja jika seorang Raja sepertinya melakukan ini" "Tidak bisa, jika seseorang sudah berani sampai melakukan hal itu dia bukanlah adik iparku lagi, ia telah membuat adikku menangis seperti ini" "Tidak kak, jangan membencinya. Dia tetap suamiku" "Edelweis, kembali ke kamarmu sekarang" Alarico terlihat sangat marah ia tak habis pikir dengan perilaku seorang Raja yang berani melakukan hubungan intim dengan Ratu lain demi membuatnya berhenti melakukan bunuh diri "Aku tidak akan bisa dan tidak akan pernah memaafkan dirinya" Keesokan harinya Ratu Edelweis berupaya menghilangkan perasaan sedihnya dengan bermain dengan anak satu-satunya itu yang bernama Alarico. "Hari ini aku akan melakukan suatu pembalasan atas kematianmu, Sayang" Ratu Alise memakai pakaian serba hitam demi menutupi identitasnya, ia pergi menuju kerajaan Rishley memakan delapan jam perjalanan "Rico, ayo pulang nak matahari sudah akan terbenam" "Sebentar mama" ujar Alarico yang masih sibuk bermain "Aku memang sangat bodoh, semua ini karena diriku. Kematian ibuku karena diriku yang menolak dirinya" "Berhenti menyalahkan dirimu sendiri, kau saat itu masih kecil dan belum memahami apapun" nieva berupaya untuk membuat Pangeran Alarico berfikir jernih "Aku akan melakukan sesuatu" Alarico pergi mendatangi Ratu Edelweis yang sedang termangu menatap langit seraya menunggu anaknya untuk kembali pulang "Ratu Edelweis?" Edelweis memicingkan matanya seraya mengingat siapa sosok laki-laki yang sedang menangis berdiri di depannya itu "Maaf kamu siapa ya?" "Aku Alarico" "Ooh iya, namamu sama dengan nama anakku tapi anakku jauh lebih tampan dan jauh lebih baik darimu" tawa edelweis semakin membuat perasaan Alarico tersiksa "Kamu harus segera kembali, ratu" "Tidak, aku ingin memeluk anakku untuk yang terakhir kalinya dia adalah anak yang baik" Bahkan Ratu Edelweis mengetahui kalau ia akan segera meninggal dunia, hal itu tentu membuat Pangeran Alarico semakin tak kuasa untuk menangis "Pergilah dari sini, Ratu" Tibalah Ratu Alise di tempat, tepat dari belakang Ratu Edelweis ia menyerangnya dan sontak membuat Alarico langsung menghadangnya tapi takdir tak dapat diubah, meskipun Alarico menghadang tetap saja Ratu Edelweis yang kena dan Alarico hanya seperti bayangan yang tidak bisa disentuh, kejadian itu kembali berulang dengan penyesalan yang sama, Alarico dengan lemas hanya bisa melihat ibunya dicabik secara berulang di depan kedua matanya "Berhenti kumohon berhenti!" Tangis Pangeran Alarico Matanya berkeliling untuk mencari Alarico yang usianya masih lima tahun tapi ia tak menemukannya, ia melihat Marquez yang sudah menutupi kedua mata anak kecil itu dengan tangannya dan menutupi kedua telinganya. "Alarico, anakku" panggil Ratu Edelweis ia menepuk pundak anaknya "Ibu?" "Kamu baik-baik saja anakku yang paling baik?. Nak, kemarilah" Mereka berpelukan dengan erat meskipun hanya ruh namun Alarico masih diberikan kesempatan untuk memeluk erat tubuh ibunya untuk yang terakhir kalinya "Anakku, kamu tidak salah apapun. Kamu sama sekali bukanlah penyebab atas kematianku, nak. Berhentilah untuk menyalahkan dirimu sendiri, aku tidak akan pernah bisa damai jika kamu masih menyiksa dirimu dalam kesalahan yang bukan milikmu" Ratu Edelweis meletakkan tangannya yang hangat untuk memegang wajah anaknya "Anakku sangat tampan, kamu anak yang sangat baik. Anak yang baik, tidak boleh menyerah dalam hidup" Senyuman hangat Ratu Edelweis membuat Alarico semakin menangis tapi ia merasakan kekuatan untuk bertahan hidup yang semakin meningkat "Nieva?" Ratu Edelweis memegang tangan anaknya dan tangan Nieva ia menyatukan kedua tangan itu "Kalian harus saling menjaga satu sama lainnya, aku tidak akan memaafkan kalian jika kalian melakukan keributan" Nieva tersenyum ia mengambil janjinya dengan sepenuh hati. "Pangeran Marquez?. Terimakasih sudah menjadi sosok adik dan juga kakak yang baik untuk anakku. Apapun yang ibumu Alise lakukan, itu semua hanya karena dia tertekan setelah mendapatkan intimidasi yang kejam, jangan salahkan dirinya atas kematianku, ya?" Ratu Edelweis tersenyum dengan damai perlahan ia menghilang dari hadapan mereka meninggalkan Alarico dengan jiwanya yang telah damai. Alarico melihat tubuh ibunya yang telah berlumuran darah di tanah, ia mengangkat tubuhnya membiarkan badannya penuh dengan darah ibunya ia hanya ingin memeluk erat tubuhnya menangis memeluknya "Aku sangat menyayangimu ibu, pergilah dengan damai" Alarico meletakkan tubuh ibunya di bawah pohon rindang yang terlibat sangat sejuk. Mereka pun kembali ke masa depan sebuah cahaya putih mendatangi dan masuk kedalam bagian tubuh Alarico…. "Akhirnya perjalanan kita dengan kasus masalah baru telah selesai" Niguel tersenyum sendu "Sayang, marilah" Nieva memeluk erat tubuh kekasihnya namun Alarico justru kelihatan sangat bingung "Aku akan menjadi kekuatan dan obat tidurmu" Pangeran Alarico mengerutkan alisnya dengan heran "obat tidur?. Memangnya aku kenapa?" Mereka terlihat bingung mendengar pembicaraan Pangeran Alarico hanya Marquez yang tersenyum "Aku sangat bersyukur, caraku berhasil untuk menghilangkan ingatannya" Mereka kembali tersadar "ooh, jadi alasan kamu menutup mata dan telinga Alarico kecil itu karena kamu ingin menghilangkan ingatannya" Putri Solana tersanjung dengan kebaikan Pangeran Marquez "Karena bagiku, suatu hal yang sangat membuatku tersiksa adalah melihatnya tidak bisa tidur dan selalu teriak marah di malam hari. Aku telah bersumpah juga, sewaktu aku kecil…" Mereka di ingatkan kembali tentang bagaimana mereka sewaktu kecil. "Kak Marquez, dimana kak Alarico?" Niguel duduk di atas meja makan "Aku akan melihatnya di kamar" Pangeran Marquez berlari menuju kedalam kamar Pangeran Alarico ia melihat Pangeran Alarico yang saat itu masih kecil sudah meminum obat tidur "Hentikan Kak, apa yang kau lakukan?" "Berhenti menggangguku!!. Aku hanya ingin hidup tenang" "Mengapa kau menyiksa dirimu, kau jahat dengan dirimu sendiri kak" "Itu karena ibuku dibunuh, apalagi yang aku punya di dunia selain ibuku?!!" Raja Erando berdiri dengan wajah yang sangat sedih ia mendekati Pangeran Alarico "Rico, ayo kita makan bersama" "Aku tidak butuh sosok seorang ayah, aku sangat benci padamu!!" Alarico mendorong ayahnya dengan kasar "Aku bersumpah, jika aku bisa mengulang kembali waktu ke masa lalu aku hanya ingin membuat kakak hidup tenang dengan melupakan semua kejadian yang membuatnya tersiksa seperti ini" Mereka tersenyum, pangeran marquez menggenggam erat tangan pangeran Alarico "Terimakasih, aku sudah dapat menepati janjiku" Mereka semua kembali ke masa depan dan menemui Ratu Alise yang sedang menangis sendu "Ibu, apa yang membuat ibu mennagis tersedu-sedu?" Setelah perjalanan kembali ke masa lalu hari ini, membuat Alarico mengalami banyak perubahan, ia menjadi sosok yang peduli dan lembut hatinya sangat hangat "Kami akan selalu berada disini untukmu, ibu" mereka memeluk Ratu Alise yang sedang sangat terjatuh, apapun yang dilakukan Ratu Alise itu semua karena sebuah intimidasi dari lingkungannya dan kedua orangtuanya yang tidak bisa menganggapnya sebagai seorang anak yang juga butuh perhatian dan kasih sayang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN