Elena duduk terpuruk di atas sofa. Tubuhnya gemetar, matanya sembab, dan wajahnya mulai membengkak akibat dua pukulan keras dari Paul. Tangisnya tak juga mereda, meski tak ada satu pun yang peduli. Dia harus memainkan peran ini, peran sebagai wanita lemah yang membutuhkan perlindungan agar Paul tidak lagi mengangkat tangan padanya. Dan yang lebih penting, agar putra mereka, Alex, berpihak kepadanya. Dia menarik Alex untuk duduk di sisinya. Tidak dibiarkannya anak itu menjauh barang sejengkal pun. Dengan genggaman halus yang disisipi ancaman samar, Elena menanamkan rasa takut ke dalam hati putranya agar tetap patuh. “Alex, masuk ke kamarmu!” Perintah Paul dari seberang ruangan, suaranya dalam dan tajam. “Tidak mau, Daddy,” jawab Alex lirih, menunduk. Seketika, tangan ibunya mencengkeram

