Setelah Paul pergi, Elena melangkah pelan menuju kamar putranya. Wajahnya masih menyimpan sisa-sisa amarah yang ia sembunyikan di balik senyum tenang. Saat pintu kamar terbuka, Alex sontak mundur ketakutan, menarik selimut hingga ke dagu. “Alex tidak salah, Mommy,” suaranya gemetar, tubuh kecilnya menggigil karena rasa takut yang tak tertahankan. Elena menarik napas dalam, mencoba menekan bara di dadanya. Ia duduk di sisi ranjang, berusaha menenangkan dirinya, namun sorot mata putranya yang ketakutan membuat hatinya terasa semakin kacau. “Tak perlu takut. Mommy tidak akan marah. Asalkan Alex mau jujur dan mengatakan satu hal,” ucapnya dengan suara serendah mungkin. “A-apa itu, Mommy?” Alex memberanikan diri menatap mata ibunya, meski tubuhnya masih gemetar. “Siapa wanita yang bersama

